Katanya: Serakah Itu Bagus (3)

Katanya: Serakah Itu Bagus (3)

- detikFinance
Kamis, 01 Nov 2012 07:50 WIB
Katanya: Serakah Itu Bagus (3)
Jakarta - Kalau di tulisan sebelumnya saya lebih banyak membahas tentang strategi transaksi jual-beli saham untuk jangka pendek, maka di tulisan kali ini kita coba melihat fenomena serakah apa yang sering terjadi ketika anda ingin memulai transaksi saham.

Fenomena “Mendadak Jago”
Peranan media yang memberikan berita sepotong-sepotong dan hanya memberikan berita yang bagus-bagus saja memberikan pelajaran yang sangat bagus kepada investor dari sisi berfikiran positif. Akan tetapi pemberitaan seperti ini juga membuat banyak investor amatiran yang tiba-tiba merasa mengerti dan jago berinvestasi alias menjadi fenomena Mendadak Jago versi 1.

Hal ini cenderung mendidik masyarakat untuk menjadi “pedagang” saham yang melakukan transaksi jual-beli aktif (trading), bukan menjadi investor sungguhan yang membeli saham di harga murah dan menahannya untuk jangka panjang. Artinya adalah, berinvestasi itu untuk jangka panjang. Apabila dipakai untuk jangka pendek namanya SPEKULASI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada lagi yang saya sebut dengan Mendadak Jago versi 2. Sebut saja namanya Andi (ini berdasarkan kisah nyata, nama hanya samaran, nama asli ada pada Advisor alias saya) bekerja sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan telekomunikasi bertahun-tahun.

Karena berpengalaman dan mengerti jenis usaha serta potensi usaha ke depannya maka Andi membeli saham perusahaan tempat dia bekerja dan 1 saham perusahaan telekomunikasi lainnya. Tebak apa yang terjadi? Sahamnya naik cukup tinggi dan memberikan keuntungan yang sangat besar atas investasinya.

Nah, berasa bahwa investasinya berhasil dan memberikan hasil investasi yang cukup tinggi dan memuaskan Andi mulai berfikir untuk berinvestasi di saham-saham perusahaan di luar telekomunikasi. Toh, dia bisa melakukan hal ini sendiri tanpa bantuan Perencana Keuangan, Wealth Manager dan bankernya.

Lalu dijual lah kepemilikan saham tersebut dan mulai membeli saham-saham perusahaan lain lapis kedua termasuk juga saham beberapa perusahaan yang baru akan ditawarkan ke publik (IPO) dengan harapan akan naik.

Karena kondisi ekonomi yang baik dan mendukung ternyata dewi fortuna masih melindungi Andi sehingga portfolio investasinya ikut naik. Di antara beberapa saham pilihannya ada satu perusahaan yang naik cukup tajam.

Andi mulai berkonsentrasi terhadap saham-sahamnya dan untuk memaksimalkan hasil investasinya maka Andi mulai menjual seluruh saham kecuali 1 saham yang memberikan kenaikan cukup tajam tadi. Dapat dibayangkan apa yang terjadi kemudian?

Tidak adanya diversifikasi dan serakah terhadap keuntungan saham yang besar sehingga konsentrasi di 1 saham tersebut membuat investasinya rugi ketika harga saham tersebut berbalik arah dan terjun bebas.
Sangat ironis kan? Pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan oleh Andi benar dan dapat mempengaruhi kehidupannya?

Mari kita lihat dan hitung bersama-sama. Apabila anda menggunakan jasa Perencana Keuangan dan dibuatkan Buku Plan maka anda akan diminta untuk mengalokasikan dana anda dan terus menambah investasi anda setiap bulan.

Bagi sebagain besar orang Indonesia yang ingin serba instant hal ini dirasakan lama dan membuang-buang waktu. Makanya banyak orang yang mencari jalan pintas untuk meningkatkan hasil investasinya sampai 50% bahkan ada yang ingin sampai 100%.

Bermain dengan resiko dan konsekuensi yang akan diterima adalah cukup berat. Apabila ada suatu strategi investasi yang bisa memberikan hasil sampai dengan 50% ataupun 100% maka saya berani jamin resikonya pun akan setimpal yaitu anda kehilangan dana 50% sampai 100%.

Pertanyaannya adalah apabila anda mempunyai tabungan satu-satunya sebesar Rp 100 juta yang anda investasikan dengan harapan mendapatkan hasil 50%, nah pada saat anda berhasil dan investasi anda naik 50% menjadi Rp 150 juta apakah hal ini akan merubah gaya hidup anda. Mungkin iya sedikit, mungkin anda akan membeli HP baru atau jalan-jalan bersama keluarga. Tapi tidak serta merta membuat anda menjadi kaya dan menjadi miliuner kan?

Bagus sekali apabila investasi anda naik 50% akan tetapi seperti yang saya sebutkan di atas apabila bisa naik 50% maka investasi andapun juga bisa turun 50%. Nah, sekarang saya balik, pertanyaannya adalah apabila investasi anda turun minimum 50% apa yang terjadi?

Apakah akan merubah hidup anda?. Sudah barang tentu akan terasa berat untuk anda. Kemungkinan anda harus kerja lembur atau mencari penghasilan tambahan agar anda bisa menabung lagi untuk menutup kerugian anda.

Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mendapatkan kembali kerugian Rp 50 juta tersebut? Apakah kerja keras dan kerja tambahan ini setimpal dengan hasil yang anda dapatkan apabila anda untung 50%? Oleh sebab itu pikirkan kembali baik-baik apabila anda ingin serakah dalam berinvestasi.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads