Rupiah vs. IDR (2)

- detikFinance
Selasa, 09 Apr 2013 07:38 WIB
Jakarta - Dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas bahwa Redenominasi adalah tindakan positif yang bisa dilakukan pemerintah terhadap mata uang suatu negara, termasuk di Indonesia.

Akan tetapi dibahas juga bahwa proses sosialisasi yang panjang, terus menerus dan menyeluruh hingga ke pedesaan menjadi hal yang sangat penting agar masyarakat tidak menjadi salah paham dan keliru yang menganggap redenominasi adalah pemotongan nilai uang, yang bisa menyebabkan kepanikan. Dan justru kepanikan inilah yang akan sangat sulit untuk bisa dikontrol oleh pemerintah.

Jadi dari keseluruhan yang disebut di atas, sebenarnya resiko dari kepanikan lah yang bisa membuat proses redenominasi bisa jadi berantakan dan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Kenapa?

Kembali karena kebiasaan “uang kecil” yang saya tulis di artikel sebelumnya. Orang Indonesia sudah lama sekali tidak terbiasa untuk menyebut 1 rupiah. Di mata banyak orang Indonesia, nilai 1 rupiah atau 10 rupiah kecil sekali.

Bahkan uang pecahan 100 rupiah di kota-kota besar sudah banyak tidak “dianggap”. Ini lebih kepada efek psikologis saja. Yang menyebabkan memegang uang pecahan Rp 100 “dianggap” kecil, meskipun menggunakan mata uang dengan gambar yang sama (warna merah bergambar Soekarno-Hatta).

Nah, setelah merenung cukup lama dan dalam dan diskusi dengan beberapa kawan, terpikirkan oleh saya bahwa daripada kita harus meredenominasi rupiah kita, kenapa tidak kita keluarkan saja mata uang baru pengganti rupiah, kita sebut saja IDR.

Kenapa IDR, karena rupiah sendiri di luar negeri dikenal dengan nama IDR (Indonesian’s Rupiah) sehingga nama itu secara internasional sudah dipakai dan dikenal. Sedangkan perhitungannya sama saja dengan redenominasi, yaitu untuk Rp 1.000 sama dengan IDR 1, yang artinya Rp 100,000 sama saja dengan IDR 100.

Dengan menggunakan penamaan yang berbeda ini diharapkan efek psikologis (memandang uang kecil tidak berharga) di lakangan masyarakat dengan latar pendidikan yang rendah menjadi hilang karena yang dipegang adalah mata uang baru.

Pemerintah sudah pasti akan mengeluarkan anggaran cukup besar untuk sosialisasi, maka mengapa tidak mensosialisasikan saja mata uang baru sekalian. Sebenarnya proses ini masih tetap proses redenominasi, akan tetapi mata uang yang kemudian baru dimunculkan bukan lagi rupiah saja (Rp) tapi berubah menjadi IDR (Indonesian’s Rupiah).

Hal ini pernah dilakukan di Turki, di mana mata uang Turki lama dengan kode TL kemudian redenominasi dan diubah menjadi mata uang Turki baru dengan kode YTL.

Memang hal ini tidak sesederhana yang dikatakan di atas. Masih harus banyak kajian dan riset yang harus dilakukan serta ukuran plus minus dan dibandingkan dengan melakukan redenominasi secara langsung, akan tetapi paling tidak bisa memberikan alternatif pilihan bagi bangsa ini.

Semoga tulisan ini dibaca oleh para pembuat kebijakan agar apabila pelaksanaannya dilakukan maka bisa dilakukan dengan baik dan tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.

(ang/ang)