Mengapa begitu? Mari kita lihat kondisinya. Tahun 2014 akan menjadi tahun yang penuh dengan tantangan. Setelah hadiah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi seluruh masyarakat Indonesia diberikan, kemudian 'hadiah' kenaikan LPG yang kemudian dengan saktinya bisa diturunkan lagi dalam waktu sehari saja, sudah cukup mengejutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Yes, yes betul, inflasi akan terus membayangi kita. Kondisi politik yang mungkin membuat Indonesia memanas dan menjadi tidak pasti alias tidak stabil akan berdampak kepada kondisi ekonomi di Indonesia. Biaya hidup akan terus merangkak naik, dan bagi sebagian orang Indonesia tahun 2014 akan menjadi sulit, tapi justru di sini letak tantangannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apabila 1 kursi diperebutkan oleh rata-rata 10 calon legislatif saja, maka akan ada 270.000 orang yang memperebutkan kursi ini. Sekarang mari kita hitung jumlah nominal rupiahnya.
Apabila 1 calon legislatif kemudian 'membelanjakan' uang untuk kampanye dengan rata-rata sebesar Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar, Anda tinggal tambahkan 8 nol sampai 9 nol di belakang angka 270.000 di atas tadi.
Sungguh suatu jumlah yang fantastis. Dana sebegitu besar akan terpompa ke dalam perekonomian Indonesia dalam kurun waktu 4 bulan ke depan dalam berbagai bentuk.
Di antara banyak penyebab Inflasi yang kita pelajari di bangku sekolah, salah satu pemicu utamanya adalah ketika jumlah uang beredar di masyarakat meningkat. Yes, itulah potensi resiko dan tantangan yang mungkin saja kita hadapi di tahun 2014 ini terutama di 6 bulan pertama.
Angka di atas belum memperhitungkan dana yang akan digelontorkan oleh masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2014-2019.
Apabila inflasi naik (mudah-mudahan saya salah), lalu apa yang harus kita persiapkan dan bagaimana dengan kondisi keuangan pribadi dan keluarga kita? Ingat kata kuncinya adalah likuiditas, akan saya bahas di tulisan berikut.
(ang/ang)











































