Tetapi sebagai seorang Perencana Keuangan dan kita sudah mengerti potensi yang akan terjadi, maka sudah sepantasnya kita juga bersiap-siap, bahasa lainnya adalah Risk Management alias mengelola risiko.
Ingat judul dan tema tulisan kita tiga artikel ini? Yes, kata kuncinya adalah Likuiditas. Apa maksudnya? Jadi begini, di masa-masa sulit di mana pun, ketika orang-orang sedang membutuhkan dana (untuk hal apa pun), maka mereka yang memegang dana cash (tunai) atau setara cash mempunyai 'kekuasaan' lebih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika semua investasi berpotensi turun, maka ketika itu lah harga-harganya menjadi murah. Dan sesuai dengan teori berdagang ataupun trading ataupun investasi, kita membeli ketika harga murah dan berharap menjual ketika harganya sudah naik dan ada kebutuhan dananya.
Jadi ketika nanti harga-harga saham di bursa turun, ataupun NAB dari reksa dana turun, di situ lah kesempatan kita untuk berinvestasi dengan 'harga' yang lebih murah dibandingkan sebelum-sebelumnya.
Demikian juga apabila ternyata properti ikutan turun. Hanya saja meskipun harga properti turun, apabila Anda berniat membeli dengan cara kredit, maka Anda akan tetap terkena biaya bunga KPR yang tinggi (apabila BI menaikan suku bunga).
Jadi, ketika anda akan menerima bonus di tahun 2014 ini, sebaiknya disimpan dulu jangan dipakai untuk belanja hal-hal lain dulu ya, karena kesempatan investasi akan ada di depan mata.
Pertanyaan berikutnya, kalau kemudian banyak investasi yang berpotensi akan turun di tahun 2014, maka investasi apa atau ke mana uang kita harus kita simpan? Seperti yang sudah disebutkan di awal tulisan pertama, bahka dana harus disimpan ke dalam produk keuangan yang likuid atau setara likuid sehingga bisa dengan cepat dipergunakan.
Beberapa pilihan produk yang bisa dipakai antara lain, otomatis produk bank seperti tabungan dan rekening koran. Lalu produk lain yang juga likuid dan mudah untuk dijual kembali seperti emas Logam Mulia (LM). Alternatif lain adalah dengan memegang mata uang negara lain seperti dolar AS ataupun euro.
Melihat idealisme dan rasa kebangsaan, memegang mata uang negara lain sebenarnya tidak terlalu direkomendasikan, akan tetapi sejarah mengukir bahwa ketika ada ketidakstabilan dalam politik dan ekonomi, maka banyak dari masyarakat yang 'seperti ketakutan' memegang Rupiah, akibatnya mereka memegang dolar AS.
Saya pribadi lebih cenderung memegang LM emas 24 karat, karena kalau pun nilai tukar dolar AS menguat melawan rupiah, maka biasanya harga LM akan ikutan merangkak naik. Jadi, apapun yang terjadi di tahun 2014 janganlah panik, ini hanya dinamika politik dan ekonomi yang akan terjadi dan terulang setiap lima tahun sekali.
Justru buka mata dan telinga lebar-lebar dan cari kesempatan untuk berinvestasi agar ketika terpilih pemimpin baru di Indonesia Anda sudah bisa menikmati keuntungan dari investasi Anda.
(ang/ang)











































