Contoh paling sederhana, sebagai pemilik Warung Pedas Paraaah yang sudah otomatis menjual makanan dengan rasa extra pedas, maka βjualanβ alias belanja utama adalah cabai. Dan harga cabai dalam 1 bulan terakhir (sebelum pengumuman kenaikan BBM), sudah naik dari harga semula Rp 20 ribu/kg, naik menjadi Rp 30 ribu, ke Rp 40 ribu ke Rp 60 ribu sebelum menyentuh Rp 80ribu/kg.
Bahkan konon di luar pulau Jawa, di beberapa tempat harga sudah menyentuh di Rp 150ribu/kg, fantastis. Padahal seperti yang kita semua tahu, bahwa sambal sudah menjadi keharusan menjadi tambahan di menu makanan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana chaos-nya kondisi percabaian saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, mohon jangan dilihat kenaikan ini 'hanya' Rp 2.000 saja. Angka tersebut bagi sebagian orang 'kelihatan' kecil, karena buat bayar parkir mobil saja di Jakarta udah enggak cukup.
Tapi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia angka tersebut dirasakan besar dan memberatkan. Angka Rp 2.000 tersebut terlihat sangat relatif, oleh sebab itu untuk mendapatkan basis perhitungan yang lebih kongkrit ada baiknya kita hitung kenaikan tersebut dalam persentase.
Jadi kenaikan yang Rp 2.000 tersebut sebenarnya adalah kenaikan sebesar 30,77%. Nah, dari angka ini sudah tentu kita bisa mengira-ngira berapa besar kenaikan biaya hidup kita nanti.
Kenaikan biaya hidup sendiri ada yang sifatnya langsung dan ada pula yang tidak langsung. Kenaikan langsung bisa kita rasakan di biaya transportasi kita. Biaya bensin Anda sudah pasti akan naik 30%.
Jadi kalau sebelumnya Anda mengisi bensin mobil Rp 1,5 juta per bulan, maka sekarang dan ke depan dapat dipastikan Anda akan menghabiskan sampai dengan Rp 2 juta per bulan.
Bagaimana dengan barang dan jasa lainnya? Sudah pasti akan naik. Yang langsung berdampak dan bisa dirasakan sekarang adalah bahan makanan yang beranjak naik.
Apalagi saat ini menjelang akhir tahun di mana permintaan barang meningkat, sementara di beberapa daerah terjadi gagal panen karena hujan atau cuaca yang ekstrim, membuat suplai bahan makanan menjadi terganggu.
Meskipun biaya hidup secara keseluruhan tidak serentak akan naik di kisaran 30%, naiknya sendiri akan bervariasi tergantung dari jenis barang atau jasanya. Akan tetapi tidak ada salahnya kita bersiap-siap bahwa biaya hidup kita ke depannya akan naik di kisaran 15-30%an, atau bahkan lebih, tergantung dari gaya hidup kita.
Tergantung gaya hidup? Betul sekali. Apabila kita terbiasa dengan hidup sederhana dan hemat, maka kita akan merasakan kenaikan 15-30% tersebut. Akan tetapi apabila kita terbiasa dengan hidup yang lebih nyaman, makan di restoran ataupun mall, ngopi dan ngafe serta kumpul kongkow bersama teman, maka kenaikannya bisa lebih dari itu.
Itulah sebabnya saya pribadi tidak setuju dengan statement yang mengatakan kenaikan inflasi karena dampak dari kenaikan BBM hanya menjadi sekitar 8,8% saja.
Hitungan di atas kertas mungkin saja benar seperti itu, akan tetapi yang paling mengerti seberapa besar sebenarnya inflasi dan kenaikan harga-harga itu adalah para ibu-ibu yang sekarang menjerit dan kebingungan memutar otak agar uang belanja dari suami cukup untuk membeli lauk pauk dan belanja harian di pasar.
Lantas, apakah kita diam saja? Apa yang bisa kita lakukan untuk mensiasati kenaikan ini? Sebenarnya banyak sekali hal-hal kecil yang bisa kita lakukan yang ujung-ujungnya membantu kita 'mengirit' pengeluaran sehingga tidak bocor paraaah.
Apa saja hal-hal kecil tersebut? Itulah yang akan kita bahas di tulisan edisi berikutnya.
(ang/ang)











































