Harap diingat bahwa, masing-masing pakar di luar negeri mempunyai teori masing-masing, yang dari mereka saling berkaitan. Tulisan ini merampungkan dan menggabungkan hasil studi dan analisa para pakar tersebut, serta dibuat dengan Bahasa yang lebih sederhana agar lebih mudah untuk dicerna.
Dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas bahwa beberapa faktor yang diwaspadai adalah:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Jumlah Uang Beredar & Pinjaman yang Banyak
- Pasar Modal
- Perdagangan
- Identifikasi Masyarakat Terhadap Tanda Krisis
Komoditas dan Harga Barang
Biasanya kondisi ekonomi di seluruh dunia akan melemah ketika harga komoditas seperti harga minyak dunia naik. Mengapa? Karena biasanya dengan harga minyak dunia naik memicu harga BBM atau bensin di suatu negara akan naik.
Efeknya sudah barang tentu berantai. Kenaikan harga bensin alias BBM ini akan mempengaruhui kenaikan harga di semua lini dan kebutuhan, termasuk kebutuhan pokok. Sebagian masyarakat umum mungkin tidak mengerti terminologi dan jargon, akan tetapi mereka bisa merasakan bahwa biaya hidup mereka semakin lama semakin mahal.
Lalu apa yang mereka lakukan? Perlahan tapi pasti mereka akan mengurangi belanja mereka, bahkan berhenti belanja kecuali kebutuhan yang pokok saja. Dalam kondisi normal shock effect dari kenaikan harga BBM yang berbuntut pada kenaikan harga barang biasanya akan bertahan dalam waktu 3-6 bulan, karena masyarakat akan beradaptasi.
Akan tetapi apabila kondisinya sudah tidak kondusif dan efek tersebut lebih panjang, maka kita wajib waspada. Harap diingat rantai efek dari kenaikan harga adalah daya beli yang turun, menyebabkan masyarakat tidak belanja (spending).
Spending yang turun menyebabkan sales dan revenue perusahaan yang turun. Revenue perusahaan yang turun menyebabkan profit perusahaan turun, kapasitas operasi perusahaan turun, dan seterusnya dan seterusnya.
Suku Bunga
Salah satu hal yang sering menjadi penyebab terjadinya 'bubble' alias gelembung dalam suatu pertumbuhan ekonomi dari suatu negara yang sering tidak diwaspadai adalah Suku Bunga yang rendah.
Atas nama pertumbuhan ekonomi, banyak dari Bank Sentral di seluruh dunia mengupayakan agar suku bunga sangat rendah sehingga bisa menstimulus ekonomi dan bisnis. Tidak ada yang salah dengan hal ini, selama kondisi bisa dikontrol dengan baik, karena apabila tidak terkontrol akan menyebabkan kredit macet ketika suku bunga berbalik arah.
Kondisi kemudian menjadi 'simalakama' ketika kondisi mulai menunjukan tanda-tanda memburuk, maka suku bunga bisa jadi dinaikan, dan yang kemudian terjadi malah semakin memburuk karena ekonomi kemudian melambat.
Kredit Macet yang Mulai Naik
Suku bunga yang rendah, dana murah menyebabkan banyak perorangan dan korporasi yang melakukan pinjaman secara besar-besaran. Hal inilah yang kemudian menyebabkan gelembung alias 'bubble' tersebut.
Dan gelembung tersebut akan 'kempes' di saat kemudian para peminjam tidak bisa membayar alias mulai kesulitan membayar kembali pinjamannya. Menyusul apabila kemudian skenario suku bunga dinaikan, akan berapa banyak orang-orang yang kemudian kewalahan membayar kewajiban cicilan mereka?
Akibatnya bisa diprediksi, kredit macet akan mulai naik. Karena macetnya kredit, maka mereka yang 'kreatif' di dunia keuangan mengeluarkan produk derivatif yang kreatif. Itu salah satu yang memicu krisis ditahun 2008 yang kemudian dikenal dengan krisis karena subprime mortgage.
Real Estate
Salah satu indikator melambatnya ekonomi dari suatu negara bisa dilihat dari stagnannya penjualan properti, atau bahkan kemudian menurun. Apalagi ketika sejumlah properti di beberapa wilayah sudah masuk ke 'nilai tidak wajar' alias harga ketinggian, menyebabkan daya beli masyarakat untuk memiliki suatu properti tidak sebanding dengan kenaikan harga properti tersebut.
Apabila diperhatikan saat ini, mekanisme harga properti di suatu tempat sudah seperti mekanisme harga saham, alias istilah pasar modalnya adalah 'last price done'.
Yang artinya kira-kira, kalau saya punya rumah beli di harga Rp 300 juta, tiba-tiba di kompleks perumahan saya ada rumah yang mirip terjual dengan harga Rp 500 juta, maka tanpa sebab apapun kemudian saya bisa menawarkan rumah saya di harga Rp 500 juta.
Kondisi dari Luar & Nilai Tukar
Tidak bisa dipungkiri kalau kebanyakan negara di dunia ini sudah terkoneksi baik secara langsung ataupun tidak langsung. Oleh sebab itu ketika terjadi hal buruk di negara lain, dapat berdampak ke negara kita.
Demikian juga dengan kebijakan yang diambil oleh negara-negara tersebut, terutama negara besar yang menguasai ekonomi dan geopolitik. Melemahnya nilai tukar mata uang di suatu negara bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah dari luar negeri ini.
Akan tetapi, pelemahan biasanya bisa ditahan apabila kondisi dalam negeri negara tersebut relatif stabil dan kuat.
Ketakutan
Efek psikologis ternyata juga memainkan peranan untuk timbulnya suatu krisis. Ketika masyarakat sudah mulai ketakutan karena adanya ketidakpastian dengan kondisi yang semakin lama semakin memburuk, maka yang timbul kemudian adalah kekhawatiran dan ketakutan akan terjadinya krisis.
Ketika ketakutan tersebut menjadi membesar (karena sebab apapun), maka hal ini bisa menjadi indikator menuju ke arah sebuah krisis baru.
Kembali ke pertanyaan banyak orang apakah kita menuju ke arah sebuah krisis? Saya kembalikan lagi ke tanda-tanda alias indikator tersebut. Apakah indikatornya terpenuhi sebagian besar? Atau tidak terpenuhi?
(ang/dnl)











































