Nah di tulisan kali ini kita coba lihat yang terjadi di Indonesia. Karena belum pernah dilakukan riset resmi, maka saya menggunakan data berdasarkan klien-klien yang kami handle di kantor konsultan perencanaan keuangan kami AAM & Associates (dulu AFC).
Harap dimaklumi survey ini dilakukan secara sederhana, tanpa metode khusus seperti yang dilakukan badan survey professional. Akan tetapi dari hasil survey sederhana ini sedikit banyaknya kita bisa mendapatkan gambaran kasar tentang kondisi di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
β’ Dalam hal percaya diri dalam mengambil keputusan berinvestasi dan pilihan produk investasi hasilnya hampir sama seperti di Amerika, Laki-laki 70% lebih percaya diri sementara Perempuannya hanya 30%.
β’ Dalam hal mengatur cash flow bulanan, kondisi di Indonesia berbeda dan berbanding terbalik dengan di Amerika. Justru Perempuan unggul dengan 60% dibandingkan Laki-laki yang hanya 40%. Itulah sebabnya mengapa di Indonesia sering kita dengar istilah Istri sebagai Menteri Rumah Tangga. Akan tetapi hal ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak mengalami 'penyakit' gila belanja alias shopaholic.
β’ Untuk utang, baik Laki-laki dan Perempuan di Indonesia sama-sama cenderung kebanyakan tidak nyaman dengan berutang, meskipun itu termasuk utang produktif seperti KPR Rumah. Adapun 60% dari Laki-laki tidak nyaman berutang sementara Perempuan lebih tinggi lagi yaitu sebanyak 70%, terutama utang jangka panjang.
β’ Dalam hal utang, mirip seperti di Amerika, ternyata 75% dari Laki-laki di Indonesia lebih suka langsung membayar lunas tagihan kartu kreditnya, sementara Perempuan hanya 55% dan lebih cenderung mencicil pembayaran utang kartu kredit mereka, meskipun mereka sadar bunga yang dibayarkan sangat tinggi. Itulah sebabnya, banyak dari mereka yang kemudian memanfaatkan fasilitas cicilan tetap tanpa bunga.
β’ Dalam hal pensiun yang didapatkan dari kantor, angkanya sama hampir seluruhnya mengatakan mereka mengikuti pensiun yang dipersiapkan atau disediakan dari tempat mereka bekerja. Hal ini mungkin saja terjadi karena kepesertaan pada dana pension di Indonesia cenderung wajib, berbeda dengan di Amerika yang biasanya hanya pilihan saja.
Sekali lagi, hasil ini tentu saja tidak bisa dijadikan patokan atau generalisir bahwa seluruh masyarakat di Amerika atau di Indonesia sama seperti itu. Akan tetapi diharapkan dapat membuka wawasan kita tentang bagaimana kacamata Laki-laki dan Perempuan melihat dunia keuangan dan investasi.
Satu hal yang mempunyai kesamaan adalah, baik di Indonesia maupun di Amerika, pihak Perempuanlah yang tidak pernah takut untuk mencari bala bantuan tentang investasi mereka, alias tidak malu bertanya. Mengapa?
Karena perempuan tidak gengsian untuk mengakui bahwa mereka tidak tahu akan suatu istilah ataupun produk keuangan. Itulah sebabnya Perempuan yang lebih banyak datang untuk berkonsultasi dengan Perencana Keuangan, meskipun pada akhirnya pasangan mereka akan mengikutinya.
Berkonsultasi dengan Perencana Keuangan adalah salah satu cara untuk kita bisa mengatur keuangan dan berinvestasi dengan baik. Cara lain yang lebih murah meriah bisa dilakukan dengan mengambil workshop-workshop keuangan seperti ini http://bit.ly/pm12des atau disini http://bit.ly/rd13des untuk awal Desember.
Dalam prakteknya di klien kami, pihak Perempuan biasanya lebih banyak mengambil keputusan untuk pengeluaran-pengeluaran bulanan, sementara pihak laki-laki lebih banyak mengambil keputusan untuk pengeluaran yang lebih besar seperti beli rumah, mobil dan lain sebagainya.
Apapun itu, kerja sama yang baik dibutuhkan antara pihak laki-laki dan perempuan khususnya suami dan istri dalam mengelola keuangan rumah tangga mereka dengan baik dan benar.
(ang/ang)










































