Berkurban Tanpa Merasa Berkorban (Keuangan)

M. Kharisma - detikFinance
Jumat, 09 Sep 2016 07:29 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Idul adha akan segera tiba, tentu umat muslim, khususnya di Indonesia, turut menyambut meriah hari raya yang sering disebut sebagai 'lebaran kedua' ini. Lalu, kira-kira perayaan seperti apa ya yang kerap dilakukan untuk menyambut Idul Adha ini? Apakah merayakan adanya tanggal merah sehingga bisa berpergian dan berlibur (karena kebetulan tahun ini bertepatan dengan long weekend) ke luar kota atau ke luar negeri? Atau justru lebih memilih untuk merayakan dengan dapat berkurban dan berbagi kepada sesama?

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat karunia yang sangat banyak. Maka sholatlah karena tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh orang yang membencimu akan terputus (dari rahmat Allah SWT)".

Begitulah kira-kira kutipan ayat Al-Qur'an yang sangat menganjurkan umat Islam untuk berkurban pada hari raya Idul Adha yang diperingati tanggal 10 Dzulhijah setiap tahunnya. Dalam hal memenuhi anjuran yang ada, bagi umat Islam khususnya yang telah mapan dan mandiri secara finansial, tentu adalah penting untuk mengingat adanya kebutuhan berkurban ini.

Seringkali orang bilang bahwa berkurban bukanlah hal yang dirasa sulit bagi umat muslim yang telah mapan, namun tidak dengan mereka yang memiliki kondisi keuangan pas-pasan atau terbatas. Ada kabar baik yang hendak saya sampaikan di sini, bahwa ternyata untuk dapat berkurban tidaklah sesulit dan seberat yang kita bayangkan selama kita tahu strategi untuk dapat melaksanakannya. Kuncinya sangat sederhana, yaitu tentang PERENCANAAN. Terdengar klise? Tinggal kembalikan saja ke kondisi sehari-hari kita. Toh memang apapun jenis pengeluaran yang kita lakukan tanpa adanya persiapan, selalu akan terasa berat bukan?

Perencana keuangan selalu memandang bahwa setiap tujuan yang memiliki nilai nominal (uang) dan jangka waktu yang jelas (entah 6 bulan, 1 tahun, bahkan 5 tahun atau lebih) adalah sesuatu yang sudah sewajarnya dapat dicapai, tinggal bagaimana memulainya. Yang pasti, semuanya harus diawali dengan niat terlebih dahulu. Menyadari bahwa setiap tahun kita memiliki pengeluaran rutin untuk membayar pajak mobil (STNK), rumah (PBB), bahkan pulang mudik disertai perintilannya (rekreasi, beli oleh-oleh, dan lain-lain) membuat kita pada akhirnya dapat melaksanakannya karena memang sudah mempersiapkan semuanya dari jauh hari.

Nah begitu pun dalam hal berkurban. Apabila ingin dapat melewati Idul Adha dengan sukses, termasuk dalam hal menyiapkan dana untuk berkurban, sadarilah bahwa (Insya Allah) kita memang akan menghadapi event ini secara rutin, sama halnya seperti kewajiban-kewajiban rutin tahunan lainnya yang sudah kita persiapkan sedari sekarang.

Oleh karena itu, hal ini bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk mereka yang terkesan berpenghasilan pas-pasan namun tetap niat ingin berkurban. Sedikit simulasi saja, bagi para perokok yang dalam sehari dapat menghabiskan 1 bungkus seharga Rp 15 ribu saja, ternyata tanpa disadari dalam sebulan telah mengeluarkan Rp 450 ribu untuk memenuhi kebutuhan ini. Bagaimana kalau dalam setahun? Sudah jelas lebih dari Rp 5 juta dikeluarkan untuk biaya ini. Tahu kan bahwa saat ini, uang sebesar itu sudah bisa untuk membeli dua kambing berukuran sedang? Ini pun baru simulasi untuk 1 bungkus rokok sehari ya.

Sekarang mari kembali fokus ke topik, tentu tugas kita saat ini adalah memperhatikan pos dana yang dipersiapkan untuk berkurban. Yang terpenting jangan sampai dana untuk berkurban tersebut mengorbankan kebutuhan-kebutuhan rutin yang sudah ada, apalagi yang berhubungan dengan kebutuhan di masa mendatang seperti berinvestasi. Itu sebabnya, persiapkanlah secara proporsional dengan menganalisa kembali pos-pos penghasilan yang dimiliki.

Adapun sumber dana untuk berkurban akan beragam antara satu orang dan lainnya, walaupun idealnya memang dipersiapkan sejak setahun sebelum hari Idul Adha. Sementara bagi yang belum mempersiapkan, sumber dana untuk berkurban kali ini selain dari dana hasil menyisihkan penghasilan bulanan yang ada, dapat juga diperoleh dari sisa tunjangan lebaran (THR), hingga dari bonus tahunan yang didapatkan.

Ingat, bagi yang muslim dan yang sudah memiliki penghasilan sendiri, berkurban bukan semata tentang kepercayaan untuk menjalankan ajaran agama, tetapi juga merupakan panggilan sosial untuk dapat bertindak nyata dalam membantu sesama. Dengan adanya kepentingan tersebut, mempersiapkan dana untuk berkurban pada akhirnya juga akan menjadi lebih matang. Dengan juga menyiapkannya sejak jauh-jauh hari, maka tujuan untuk dapat berkurban pun sudah tentu terasa lebih ringan.

Satu kalimat pada suatu khutbah shalat Jum'at yang cukup mengena bagi saya dan dapat dijadikan referensi bagi kita, bahwa sebanyak apapun harta kita, akan selalu terasa berat mengeluarkannya untuk sesuatu yang kita rasa kurang atau tidak penting. Sebaliknya, semepet dan sesulit apapun kondisi keuangan kita, selama meyakini adanya keharusan untuk menjalankan suatu ibadah dan tahu akan adanya ganjaran yang berlipat dikemudian hari, maka untuk mengeluarkan harta yang dimiliki akan terasa lapang jalannya.

Selamat berkurban dan selamat menyambut hari raya Idul Adha. (wdl/wdl)