Follow detikFinance
Selasa 21 Feb 2017, 07:34 WIB

Mental Miskin (1)

Aidil Akbar - detikFinance
Mental Miskin (1) Foto: Istimewa
Jakarta - Banyak orang ingin menjadi kaya, permasalahannya kok mereka tidak kaya-kaya? Apa yang salah dengan hal ini? Padahal mereka sudah berusaha, bekerja keras, cari peluang, cari usaha tambahan dan lain-lain, tapi tetap saja mentok di situ-situ saja.

Nah, meskipun banyak di antara kita yang bercita-cita ingin menjadi kaya, sayangnya otak kita tidak dilengkapi dengan buku manual untuk setting diri kita menjadi kaya. Yang sering terjadi adalah kita melakukan banyak kesalahan ketika bercita-cita ingin bisa menjadi kaya (misalnya di tabungan kita, dana pensiun bahkan sesimpel mengatur bujet bulanan).

Untungnya saat ini sudah banyak rumus-rumus yang bisa jadi jalan pintas untuk kita menjadi kaya tadi. Berikut ini adalah mental miskin yang sering kita lakukan, dan bagaimana cara mengatasinya.

Mental Diskon
Tidak ada yang salah dengan mental diskon alias berburu atau mencari diskon selama barang yang akan kita beli yang sedang didiskon tersebut memang barang yang kita butuhkan dan sudah direncanakan. Yang sering terjadi adalah orang berburu diskon di mana-mana, senang belanja diskon yang pada akhirnya justru membuat mereka membeli barang yang sebenarnya tidak atau belum mereka butuhkan. Akibatnya mereka membeli banyak barang hanya Karena "sedang diskon" alias "mumpung lagi murah" tanpa berpikir lagi. Padahal anda tidak punya uang atau bujet untuk belanja lebih, dan yang celakanya lagi anda berutang untuk belanjaan di luar bujet tersebut.

Kata kuncinya jangan takut tidak kebagian diskon, apalagi di Indonesia. Kalau di Singapura dan Malaysia diskon besar-besaran diadakan hanya 1x setahun, di Indonesia apalagi Jakarta, setiap tanggal merah pasti ada diskon. Di luar tanggal merah pun beberapa toko dan departemen store mengadakan promo diskon sendiri. So anda tidak akan kehabisan dan kelewatan diskon.

Mental Akunting
Kita cenderung menilai uang dengan nilai yang berbeda dan cara yang berbeda tergantung dari mana uang tersebut berasal dan di mana uang tersebut disimpan. Misalnya contoh dari sisi keagamaan, betapa mudahnya kita menghabiskan uang Rp 50 ribu – Rp 100 ribu per hari untuk makan siang, ngopi, duduk dan nongkrong di restoran bersama teman-teman kita. Sementara betapa sulitnya bagi sebagian orang untuk mengeluarkan nominal yang sama ketika kita berada di Masjid dan Mushollah untuk diinfaqkan.

Ternyata mental yang sama berlaku juga ketika kita berbelanja. Perhatikan saja, ketika kita berbelanja menggunakan kartu kredit, kebanyakan orang akan belanja lebih banyak ketimbang ketika mereka melakukan pembayaran dengan menggunakan uang tunai (cash). Dengan kata lain, Mental Akunting secara tidak langsung "menipu" otak kita bahwa uang yang anda belanjakan dengan menggunakan kartu (kartu kredit) tidak seperti uang tunai beneran yang anda simpan di dompet. Akibatnya anda akan menjadi sangat boros.

Tambahan, meskipun anda sudah punya bujet bulanan untuk dibelanjakan dengan menggunakan kartu kredit kemudian dibayarkan, seringkali anda yang tidak bisa mengkontrol "tertipu" dengan kartu kredit tadi Karena menganggap di rekening tabungan anda "masih ada cukup uang". Padahal uang tersebut sebenarnya sudah dialokasikan untuk membayar tagihan kartu kredit yang sudah anda belanjakan tadi.

So, apa solusinya? Selalu pergunakan uang tunai/cash untuk pengeluaran sehari-hari dibandingkan menggunakan kartu kredit. Atur pengeluaran yang baik dan benar. "Trik" otak kita seakan-akan kita merasa tidak punya uang. Belajar mengatur, mengelola dan men-trik otak kita dengan ikut workshop-workshop keuangan yang singkat, terjangkau tapi ilmunya dahsyat.

Beberapa workshop yang direkomendasikan adalah belajar mengatur keuangan, info bisa dibuka di sini, atau belajar jadi Kaya dengan investasi di reksa dana, info bisa dibuka di sini.

Dalam artikel berikutnya kita akan kupas tuntas sisa dari mental miskin lainnya yang ternyata selama ini menghalangi anda untuk bisa menjadi kaya. (wdl/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed