Follow detikFinance
Selasa 28 Feb 2017, 06:58 WIB

Mental Miskin (2)

Aidil Akbar - detikFinance
Mental Miskin (2) Foto: Istimewa
Jakarta - Menyambung dari tulisan sebelumnya bahwa banyak orang yang bingung kenapa mereka tidak bisa menjadi kaya seperti yang mereka inginkan dan impikan. Padahal banyak dari mereka yang sudah ikutan banyak sekali pelatihan motivasi, sehingga membuat mereka menjadi sangat semangat. Ada juga yang sudah mati-matian mencari tambahan penghasilan, ikutan bisnis ini itu bersama teman dan lain sebagainya, bahkan ada yang sampai tertipu investasi bodong.

Hasilnya? Bisa dilihat masih segitu-gitu saja.

Hal ini ternyata banyak berhubungan dengan mental block kita, di mana banyak dari anda yang masih mempunyai yang disebut 'mental miskin'. Dalam tulisan sebelumnya sudah dibahas 2 mental miskin yang sering secara sengaja ataupun tanpa sengaja kita lakukan, yaitu Mental Diskon dan Mental Akunting. Nah mental miskin apa lagi yang bisa kita ketahui dan kita pelajari agar kita bisa menghindari mempunyai mental miskin tersebut?

Mental Status Quo Bias
Wah bahasanya susah nih, apa sih yang dimaksud? Kalau mengambil/copy dari Wikipedia (dalam bahas Inggris ya) yang dimaksud Status Quo Bias adalah is an emosional bias; a preference for the current state of affairs. The current baseline (or status quo) is taken as a reference point, and any change from that baseline is perceived as a loss. Dengan kata lain, orang dengan mental ini sering merasa puas dengan kondisi keuangannya dan memang kondisi keuangannya biasanya relatif baik.

Orang bermental ini dicirkan 'mengidap kekeliruan' yang disebut status quo bias, di mana tidak mau mengambil tindakan apa-apa karena telah merasa berkecukupan. Alhasil seringkali melewatkan peluang dan seperti yang diketahui bahwa peluang kadang-kadang tidak terulang kembali. Terkait dengan pengelolaan keuangan, tipe ini memang memiliki kecukupan uang, hanya saja dirinya tak mau untuk mengoptimalkannya.

Mental ini membuat orang menjadi 'malas' karena merasa sudah memiliki kecukupan uang, dan tanpa disadari bahwa apabila terjadi peristiwa yang tak diharapkan di masa mendatang dan melebihi dari jumlah aset keuangan yang dimiliki maka akan menyusahkan dirinya sendiri.

Coba tantang diri sendiri untuk membuat goal alias tujuan yang lebih tinggi setiap tahunnya. Buat juga target untuk 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan seterusnya. Atau bisa diset setiap tahun investasi anda naik misalnya minimum 10% sehingga tanpa anda sadari anda sudah menaikan investasi anda.

Mental Takut Rugi
Tidak ada satu orang pun yang suka dengan kerugian. Bahkan orang cenderung lebih besar takut rugi dibandingkan keuntungan yang dapat mereka raih. Padahal risiko selalu ada di dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk risiko kerugian dari keuangan dan investasi kita. Akibatnya bisa ditebak kan? Anda tidak akan berani menginvestasikan uang anda, atau kurang berani dan kurang banyak menginvestasikan uang anda Karena anda lebih khawatir dengan risiko kehilangan uang anda dibandingkan postensi keuntungan yang bisa anda raih.

Apa yang harus dilakukan? Jangan terlalu terobsesi untuk mengecek investasi anda setiap hari. Cukup lakukan setiap semester (6 bulan) bahkan setahun sekali saja. Dengan cara seperti ini anda akan melihat investasi sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang. Tidak hanya sepotong-sepotong dan sebentar saja. Kalau anda punya investasi rugi, secepatnya dijual saja. Memelihara investasi yang rugi sama saja dengan secara konstan menakut-nakuti diri anda sendiri. Jual saja, move on dan mulai berinvestasi dengan lebih cerdas lagi.

Bila ingin investasi secara cerdas, maka anda harus tahu dan mengerti caranya. Untuk bisa tahu dan mengerti caranya ya harus belajar dong. Belajar di workshop yang kami rekomendasikan misalnya untuk Belajar Mengelola Keuangan Pribadi bisa ikutan yang di sini sementara untuk Belajar Kaya Dengan Reksadana bisa ikut yang di sini.

So wajib diingat, miskin secara harta mungkin saja terjadi, akan tetapi kalau anda ingin suatu hari nanti menjadi kaya, yang terpenting anda tidak punya mental miskin, seperti yang sudah kita bahas tulisan ini dan sebelumnya. (wdl/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed