Follow detikFinance
Jumat 17 Mar 2017, 07:24 WIB

Mencegah Kusut Sengketa Waris

Ila Abdulrahman - detikFinance
Mencegah Kusut Sengketa Waris Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Masalah warisan, masih menjadi hal yang tabu dibicarakan oleh sebagian orang yang berakibat pada salahnya pembagian. Data Mahkamah Agung (MA), masalah kewarisan menempati posisi nomor dua perkara perdata agama yang ditangani pada 2010 dan 2011. Waris berada di bawah kasus sengketa perkawinan.

Warisan adalah harta peninggalan dari orang yang sudah meninggal. Sedikit bikin pusing, banyak juga bikin pusing, jadi mending tinggalkan harta warisan yang cukup banyak ya, karena meninggalkan keluarga dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik, daripada dalam keadaan berkekurangan dan meminta kepada manusia.

Perihal warisan ini gampang-gampang rumit. Gampang jika semua ahli waris memahami ilmunya atau setidaknya mau tahu dan satu pendapat, mana yang akan digunakan. Rumit, jika para ahli waris tidak memahami ilmu warisan dan tidak mau belajar untuk tahu, atau dalam satu keluarga beda agama, mengingat pembagian warisan di Indonesia ada 3 hukum: KUH Perdata, adat dan hukum Islam.

Warisan, bukan hanya sekedar tentang harta peninggalan, tapi tentang kelangsungan hidup, hak anggota keluarga lain yang ditinggalkan: hidup anak istri, sekolah anak, biaya pernikahan anak, infaq, sedekah, wakaf yang harus berkelanjutan meski sudah meninggal (amal jariyah), kelangsungan bisnis, dll.

Banyak yang mengatakan "Ahh, enggak mikir," (karena takut dibilang 'kedonyan' alias matre).

Atau "Iya, bapak sudah enggak ada, tapi kan ibu masih ada, ntar saja dibaginya."

"Pokoknya harus dibagi sama rata, enggak peduli laki perempuan," dan lain sebagainya.

Dampaknya antara lain:

1. Sengketa warisan. Gara-gara warisan, saudara bertikai, anak meneriaki ibunya, Ibu dituntut anak, Kakak adik bertikai, berkelahi, dipenjarakan pertumpahan darah. Iya, darah boleh saudara tapi, duit, harta tidak, bahkan bunuh membunuh. Sangat menyeramkan.

2. Anak-anak terlunta-lunta saat orang tuanya berpulang, harta yang mereka tinggalkan ludes tanpa pemanfaatan dengan benar.

3. Istri tidak bisa meneruskan bisnis yang ada, karena tidak punya pengetahuan, akhirnya berangsur-angsur habis, padahal kewajiban terhadap anak belum tuntas.

4. Harta peninggalan, dihabiskan oleh wali yang harusnya hanya memanfaatkan untuk pemeliharaan si anak.

5. Rumitnya penghitungan karena telatnya pembagian, hingga generasi ke genarasi, misalnya dari sejak kakeknya kakek belum dibagi, maka perlu penghitungan bertahap, hingga ke generasi sekarang, dan lain-lain.

Solusinya sebenarnya sangat sederhana, membuat perencanaaan waris atau yang biasa disebut dengan Estate Planning atau berwasiat, yang dilegalisasi oleh pihak berwenang, setidaknya tentang:

1. Perwalian pemeliharaan anak.

2. Pihak yang dipercaya mengurus harta/bisnis.

3. Pelaksana wasiat, minimal sampai anak-anak dewasa secara hukum.

4. Siapa yang dipercaya meng-handle bisnis, hingga anak-anak dewasa, dan lain sebagainya.

Atau berwasiat "Bagilah harta warisan saya secara Islam atau secara hukum adat atau secara undang-undang." Tahukah, bagi Anda yang beragama Islam, jika harta tidak dibagi secara islam maka haram hukumnya?

Dalam hal bingung dan untuk menghindari sengketa pembagian warisan, Anda dapat mengajukan ke Pengadilan untuk mendapatan "surat ketetapan" waris. Bagi yang beragama islam masalah warisan ditangani oleh peradilan agama, dan bagi yang bukan beragama Islam, ditangani peradilan umum.

Atau sejak sekarang Anda dapat membuat Perencanaan Waris dengan berkonsultasi ke Perenacana Keuangan terpercaya Anda, atau mengikuti kelas pelatihan yang dselenggarakan oleh IARFC, antara lain: Kelas Intermediate Financial Planning diadakan akhir Maret 31, selama 3 hari, info https://bit.ly/IMDT0304 di sana anda belajar lengkap termasuk ilmu waris, apa itu wasiat, perjanjian pisah harta dll.

Salam finansial! (ang/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed