Follow detikFinance
Selasa 28 Mar 2017, 07:27 WIB

Aset Produktif dan Aset Konsumtif

Mohamad Taufik Ismail - detikFinance
Aset Produktif dan Aset Konsumtif Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Setiap orang pasti memiliki harta atau aset. Misalnya berupa kendaraan bermotor, tanah, rumah tempat tinggal, televisi LED, baju, telepon seluler, sepatu, baju, tas, perabotan rumah dan lain sebagainya. Anda mungkin saja tidak menganggap baju yang Anda kenakan sehari-hari sebagai aset, namun pada hakikatnya itu adalah harta Anda.

Anda tentu membelinya menggunakan uang bukan? Artinya baju Anda ada nilainya. Jika Anda menjual baju tersebut di pasar loak mungkin masih laku dan Anda mendapatkan uang dari penjualan baju Anda. Contoh lain adalah gadget Anda, harganya cukup mahal bukan? Kalau Anda jual kembali, masih ada nilainya tidak?

Tentu masih ada, walaupun memang nilainya menurun cukup banyak. Ada juga aset yang nilainya meningkat apabila kita jual. Contoh mudahnya adalah tanah. Rumah pun demikian, Anda membeli rumah di harga Rp 250 juta di tahun 2008, saat ini jika Anda menjual kembali rumah tersebut, harga pasarannya bisa mencapai Rp 450 jutaan.

Jika dalam laporan keuangan suatu perusahaan kita biasa membagi aset ke dalam kategori aset lancar dan aset tetap, maka dalam dunia perencanaan keuangan keluarga, selain ke dalam kedua kategori tersebut, aset juga dapat dibagi ke dalam kategori aset produktif dan aset konsumtif.

Aset produktif adalah aset yang mampu menghasilkan. Ataupun apabila aset tersebut tidak menghasilkan, namun di masa depan nilainya meningkat. Sebaliknya aset konsumtif tidaklah menghasilkan, serta nilainya menurun seiring waktu. Okelah aset konsumtif dapat menghasilkan kepuasan untuk konsumennya, namun yang kita bicarakan di sini tentu aset yang menghasilkan uang, atau nilai aset bila dijual kembali lebih tinggi dibandingkan pada saat kita membelinya.

Mari kita tengok contoh masing-masing jenis aset. Contoh aset produktif adalah rumah tinggal Anda. Walaupun tidak menghasilkan, namun nilainya dari tahun ke tahun meningkat. Mobil rental, Anda membeli mobil kemudian Anda sewakan, dari hasil sewanya Anda bisa mencicil biaya kreditnya dan sisanya masuk kantong Anda,sehingga nanti di akhir masa kredit mobil akan menjadi milik Anda. Saham, Anda memiliki 10 lot saham Unilever Indonesia, maka setiap tahun Anda akan mendapatkan pembagian dividen dan juga mendapat potensi keuntungan dari kenaikan harga saham Unilever Indonesia.

Sedangkan aset konsumtif contohnya adalah gadget Anda. Anda menggunakan gadget Anda hanya untuk berkomunikasi. Nilainya pun menurun apabila Anda hendak menjualnya. Kemudian mobil yang Anda gunakan sehari-hari. Walaupun Anda membelinya dalam kondisi baru. Namun jika Anda menjualnya 3 bulan kemudian maka statusnya sudah menjadi mobil bekas, nilainya pun menurun. Kecuali mobil Anda adalah mobil antik, nilainya bisa bertahan dan bahkan naik. Kemudian baju, sepatu, alat fitnes dan lain sebagainya, nilainya semua menurun seiring waktu.

Coba sekarang Anda data seluruh harta yang Anda miliki saat ini, kemudian bagilah ke dalam dua kategori tadi. Lebih banyak jenis aset mana yang Anda miliki dari segi nilai dan aset jenis apa yang lebih banyak segi jumlah item? Apakah aset konsumtif atau aset produktif? Kalau boleh saya tebak, dari segi nilai, maka lebih besar aset produktif. Namun jika dari segi jumlah item, pasti aset konsumtif yang lebih banyak. Betul tidak?

Ada beberapa manfaat dari aset produktif, antara lain sebagai sumber penghasilan kita di masa depan. Sebagai contoh kita membeli rumah sebagai aset investasi. Kelak di masa depan kita dapat menjual rumah tersebut untuk biaya hidup di masa pensiun. Hal yang sama berlaku apabila kita membeli saham. Kita akan menjual saham pada waktu yang telah ditetapkan, yaitu 17 tahun lagi saat anak kita akan memasuki bangku kuliah. Saham dijual untuk biaya masuk kuliah anak kita.

Aset produktif juga bermanfaat sebagai passive income. Misalnya kita membangun rumah kost 4 kamar di dekat rumah kita saat ini. Setelah kita pensiun, maka penghasilan dari penyewaan kamar kost tersebut akan dapat membantu kita menjalani hidup setelah pensiun, sehingga tidak bergantung dari uang pensiun bulanan. Tentunya akan sangat berguna di masa depan apabila kita lebih banyak mengumpulkan aset yang sifatnya produktif dibandingkan aset yang sifatnya konsumtif.

Apakah manfaat tersebut juga kita dapatkan apabila kita menumpuk aset konsumtif. Misalkan kita membeli sebuah mobil baru dengan harga Rp 300 juta. Di tahun berikutnya apabila kita ingin menjualnya, kira-kira harganya naik atau turun? Biasanya sih turun ya. Kemudian bagaimana dengan baju, sepatu, gadget. Harganya juga turun ya? Untuk tas merek tertentu ada yang bisa menjadi aset produktif, maka itu tidak termasuk kategori aset konsumtif. Jadi memang karakteristik aset konsumtif adalah nilainya menurun, atau tidak menghasilkan. Tapi apakah itu artinya kita tidak boleh membeli aset konsumtif? Tentu saja tidak sekaku itu. Pertimbangkan apakah pembelian aset Anda merupakan suatu kebutuhan atau keinginan? Jika Anda memang membutuhkan sebuah mobil untuk transportasi keluarga maka beli saja, karena itu tentu lebih praktis dan hemat dibandingkan Anda harus menyewa taksi setiap kali Anda dan keluarga bepergian. Mengenai mobil merek dan jenis apa yang akan Anda beli maka bisa jadi itu untuk memenuhi keinginan Anda.

Ayo belajar deh bisa mengenali aset produktif dan konsumtif, ada sekolah dan pendidikannya lho. Beberapa yang kami rekomendasikan, untuk di akhir Maret ada kelas Intermediate Financial Planning lengkap info bisa dibuka di sini, bagi yang ingin tahu tentang asuransi detil bisa ikut tanggal 22 April, info di sini, untuk ilmu waris bisa ikut workshop tanggal 23 April info di sini, sementara kelas regular merencanakan keuangan akan diadakan akhir April tanggal 29, info di sini, dan cara kaya dengan reksa dana tanggal 30 April infonya bisa dibuka di sini.

Kembali ke artikel, maka, mulai dari sekarang, Anda sudah dapat melakukan analisa singkat sebelum melakukan suatu pembelian aset. Apakah nilai aset tersebut akan naik atau turun di masa depan? Serta apakah aset tersebut dapat menghasilkan uang? Produktif atau konsumtif? Tentunya pembelian aset juga mempertimbangkan kebutuhan Anda dan keluarga. Jangan hanya karena pendingin ruangan alias AC adalah aset konsumtif maka Anda tidak mengisi rumah Anda dengan AC. Tanyakan kembali apakah aset tersebut merupakan kebutuhan atau keinginan, kaitkan dengan tujuan keuangan yang telah ditetapkan, pasti Anda akan lebih selektif dalam membelanjakan uang Anda.

Semoga bermanfaat! (wdl/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed