Follow detikFinance
Selasa 16 May 2017, 06:56 WIB

Kelas Menengah Atas Kelas Hura-Hura?

Aidil Akbar - detikFinance
Kelas Menengah Atas Kelas Hura-Hura? Foto: Istimewa
Jakarta - Saya dan Perencana Keuangan TOP senior rata-rata bergelar RFC, RFA TOP atau yang masih ragu-ragu untuk maju ujian memiliki sebuah group Whatsapp (WAG) dan baru saja dihebohkan dengan artikel salah satu associate kami yang menulis tentang bagaimana 'ngehek' nya keuangan masyarakat kelas menengah.

Beberapa perencana keuangan mengomentari, saya quote 'Kesadaran orang berinvestasi di kelas menengah saat ini agak kurang ya. Obrolan sama ibu-ibu apalagi' Dan dikisahkan kejadian salah satu temannya sebagai berikut "Cerita dari kenalan terdekat saja. Dia jual rumah kedua dia untuk biaya menutup utang rumah pertama yamg baru dibangun dan jalan-jalan keliling dua sama anak dan suami serta beli barang barang mewah. Jual rumah seharga 20M."

Padahal alasan mereka jalan-jalan keluar negeri sekeluarga pun untuk mendapatkan 'quality time' bersama keluarga.

Obrolan di group pun berlanjut. Diberikan contoh sebagai berikut: "Ada lagi yang jual mobil Range Rover, ganti sama Brio. Gua pikir sisanya mau ditabung. Yang ada jalan jalan ke Jepang beli jam 400 juta. Gubrak lagi".

Dengan tingkat stres pekerjaan yang tinggi, ditambah macet di mana-mana (tidak hanya di Jakarta, tapi di kota-kota besar lainnya di Indonesia), membuat masyarakat kelas menengah atasnya mencoba mencari cara untuk melampiaskan kejenuhan dan stress (baca: mencari jalan keluar untuk menyeimbangkan kehidupan) dengan cara-cara yang berbeda.

Efek dan ekses dari sini pun bermacam-macam. Ada yang kemudian mengakibatkan seseorang yang menjadi hobi belanja, seperti contohnya membeli jam seharga Rp 400 juta di atas. Atau sebagian dari ibu-ibu yang gemar mengoleksi tas-tas bermerek yang harganya mulai dari seharga motor, seharga mobil bahkan sampai seharga rumah.

Dan yang pasti wajib ada adalah 'jalan-jalan' nya, dan yang pasti keluar negeri bersama seluruh anggota keluarga. Yes, dengan semakin maraknya media sosial sebagai wahana tempat 'nampang' baik kebanyakan orang (di Twitter, Facebook, Instgram) maupun teman-teman pilihan (di path) memberikan keleluasan anda untuk menunjukan jati diri dan status social anda melalui media ini.

Tidak heran kan kalau di Jakarta saja, pameran travel alias travel fair bisa diadakan 2-4 kali per tahun. Terbayang berapa banyak uang yang dihabiskan untuk memenuhi 'kebutuhan' ini. Padahal sudah diwanti-wanti bahwa Pajak akan mengejar anda salah satunya lewat media sosial. Well, selama uang yang anda peroleh sudah membayar pajak sih tidak perlu khawatir ya.

Apakah kemudian masyarakat kelas menengah atas ini termasuk kedalam kategori masyarakat hura-hura. Melakukan observasi dari beberapa teman di sekeliling saya membuat saya sendiri harus mengangguk setuju, meskipun tidak semuanya seekstrem seperti itu.

Kelas menengah atas terutama yang berpenghasilan tetap dari pekerjaan, cenderung lebih mudah untuk hura-hura alias menghambur-hamburkan uang. Selama kebutuhan sehari-hari dan cicilan terpenuhi, mereka cenderung menggunakan uang tersebut untuk hal-hal yang bersifat luxury. Beberapa yang concern sudah mulai aware untuk mempersiapkan dana pensiun, tapi masih banyak yang belum melakukan perhitungan dan menaruh harapan dana pensiun dari tempat mereka bekerja nanti.

Itulah sebabnya, meskipun jumlah masyarakat yang membutuhkan jasa konsultan Perencana Keuangan meningkat terus setiap tahunnya, akan tetapi kebanyakan masyarakat menengah atas masih menerapkan pola pikir seperti ini. Padahal kalau mau jujur, justru merekalah yang paling butuh jasa konsultan.

Mengapa demikian? Mereka terbiasa hidup enak dan hura-hura di atas, maka ketika uangnya habis nanti (biasanya pas pensiun), apakah mereka siap dengan hidup sederhana tanpa harus jalan-jalan keluar negeri.

Ada yang merasa membutuhkan jasa perencana keuangan, ada yang berdalih wah pakai konsultan bayarnya mahal (padahal jalan-jalan keluar negeri sekeluarga bisa menghabiskan minimal Rp 50-100 juta sekali jalan lho). Bagi yang masih berpikir panjang untuk pakai jasa konsultan bisa belajar sendiri dengan mengikuti kelas-kelas.

Beberapa yang direkomendasikan adalah: Cara kaya dengan reksa dana tanggal 21 Mei info di sini, sementara di bulan Ramadan ada kelas Perencana Keuangan Syariah lho tanggal 9-11 Juni Info di sini. Dasar-dasar mengelola Keuangan Keluarga Islami 18 Juni dan Berinvestasi pada produk keuangan Syariah 19 Juni. Semua info bisa menghubungi Mas Rey di 0856.7035.100 atau situs www.IARFCIndonesia.com.

Nah, apakah anda salah satunya? Coba renungkan dan mulailah mengatur keuangan atau pun belajar mengaturnya untuk masa depan nanti. Jangan sampai menyesal di kemudian hari ketika semuanya telah terlambat. (wdl/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed