11 Ide Paling Sederhana Untuk Mengatur Keuangan Pribadi

Tung Desem Waringin - detikFinance
Rabu, 07 Jun 2017 03:35 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Kenapa bisa profesi perencana keuangan itu ada. Padahal mengurus uang pribadi tidak susah sekali, tapi memang harus ekstra waktu. Artikel ini mau memberi tips buat Anda agar bisa menyederhanakan urusan keuangannya, jadi tidak perlu berurusan dengan hal yang membuat sulit.

Berikut tips sederhana mengatur keuangan pribadi seperti dikutip dari diskartes.com:

1. Buang Dokumen Yang tidak Penting
Langkah pertama untuk mengatur keuangan pribadi adalah bersih-bersih. Pasti sering bertemu dengan orang yang hobi banget koleksi penawaran dari Bank, lalu menyimpan bukti transaksi ATM padahal sudah setahun lewat, dan semacamnya.

Jika itu terjadi dengan Anda, sangat disarankan mulai buka tong sampah dan semua berkas yang tidak penting tadi. Memang tidak berhubungan langsung dengan keuangan, tapi semakin banyak yang menumpuk (tentu saja kadaluarsa) hanya akan bikin pola pikir keuangan Anda ribet.

Beberapa contoh dokumen yang tidak penting:
- bukti transaksi ATM yang sudah kadaluarsa
- penawaran promo kartu kredit
- bukti tagihan kartu kredit
- laporan investasi dari perusahaan efek
- dll yang berhubungan dengan uang

2. Rasionalisasi Tujuan Keuangan
Membuat tujuan keuangan itu sah-sah saja, pasti diwajibkan sama semua perencana keuangan. Jika Anda sudah membuatnya, tolong dievaluasi lagi dan disesuaikan dengan kapasitasnya. Target yang tinggi bagus, tapi kalau terlalu tinggi membuat Anda tidak bisa mengatur keuangan pribadi dengan nyaman. Caranya:
- Hitung pemasukan dan pengeluaran Anda setiap bulan, sehingga ketemu saving dan investasinya
- Jika penghasilannya bervariasi, maka buat aja rata-ratanya
- Apakah sudah rasional untuk mencapai target keuangan?
- Jangan memasukkan pos-pos pendapatan yang masih sebatas "kira-kira akan dapat"
- Tarik nafas dalam-dalam, pelajari makna stoikisme.

3. Rekening Bank
Pisahkan rekening Bank sesuai sumber duitnya. Jika Anda hanya memiliki satu profesi sejenis, cukup satu rekening. Lain halnya jika Anda adalah seorang PNS, sedang buka restoran ramen, dan ekspor-impor ternak sapi.

Kalau hanya punya satu akan sangat menyulitkan, karena cashflownya tidak akan terjaga. Ketika mau mengeluarkan uang juga disesuaikan dengan rekeningnya, misalnya untuk keperluan bisnis restoran, keluarkan dari rekening restoran.

Mengklasifikasikan akan jauh lebih sederhana daripada menghitung manual di akhir tahun. Selain itu, memisahkan rekening sesuai pendapatan membuat Anda lebih cepat merespons ketika ada cashflow yang tidak sesuai rencana.

4. Satu Kartu Kredit Cukup
Sejujurnya, saat ini punya banyak karena memang digunakan untuk mengejar diskon, lounge, dan bisnis. Tiap tahun selalu aja nambah, meskipun beberapa tutup juga. Tapi jika Anda tidak mau ribet, satu kartu kredit sebenarnya sudah cukup.

Pindahkan juga pelaporannya menjadi elektronik, selain mendukung gerakan Indonesia lebih hijau, juga tidak meribetkan Anda untuk merapikan berkas. Karena ketika sembarangan buang, bisa dimanfaatkan oleh penjahat data laporan kartu kredit itu.

5. Usahakan Bayar Tunai
Untuk Anda yang malas dengan keribetan tagihan kartu kredit, selalu siapkan uang di dompet. Berusahalah membayar belanjaan di mall dengan uang tunai. Memang sih terkadang agak susah, contohnya Anda tidak mungkin bawa duit cash untuk beli arloji IWC yang harganya diatas 50 juta.

6. Bebas Utang
Kondisi paling merepotkan itu pas kita tidak punya uang, debt collector yang galak datang mau nagih utang. Di Jepang jumlah orang bunuh diri perhari di tahun 2015 mencapai 66 orang, dan salah satu alasannya adalah terlilit utang.

7. Investasi Yang Mudah
Investasi tetap jalan, tapi cari yang mudah saja. Untuk investasi saham, tentu Anda harus belajar sampai ke dalam-dalamnya. Alternatifnya ada reksa dana, kenapa tidak? Tidak perlu pusing mikir cara mengelolanya, sudah ada Manajer Investasi yang garap dana Anda. Tapi tetap harus tahu sedikit tentang cara mengoleksi reksa dana, biar profitnya bisa optimal.

Beberapa orang suka dengan unit link, karena dianggap gampang menggabungkan antara asuransi dan inventasi. Namun saya tidak terlalu setuju dengan rumus ini, sebab esensi investasi berbeda dengan asuransi.

8. Asuransi Masih Perlu
Suka tidak suka, asuransi menyederhanakan hidup Anda. Ingat konsepnya adalah uang yang rela untuk dihilangkan, sehingga ketika aset sudah di-cover pihak asuransi, tidak perlu lagi memusingkan jika sesuatu yang buruk menimpa Anda.

Namun demikian tetap perhatikan cara memilih asuransi yang benar, agar manfaat yang diperoleh lebih besar daripada pembayaran preminya.

9. Otomatisasi
Jaman sudah maju dan semua serba teknologi, jadi kenapa tidak dimanfaatkan? Karena Anda pemalas, teknologi menjadi sangat berguna. Contohnya untuk berinvestasi, langsung aja minta perusahaan efek untuk memotong sekian juta dari gaji Anda setiap bulan untuk dibelikan reksadana.

Begitu juga ketika membayar kartu kredit, bukannya sudah bisa didebet dari rekening Anda secara langsung tiap bulannya?

Buat yang beragama Islam, sekalian saja potong untuk zakatnya. Dijamin tidak akan lupa kalau tidak diotomatisasi.

10. Minta Tolong Asisten Keuangan
Misal uang Anda cukup banyak dan urusannya ribet, ingat bahwa tidak semua harus dikerjakan sendiri. Mulai dari budgeting, implementing, perpajakan, dan lain sebagainya Anda bisa minta tolong dari seorang asisten keuangan. Asisten keuangan bukan harus seorang perencana keuangan.

11. Eksekusi Rencana Anda
Semuanya akan tetap sulit jika masih berdiam diri, jadi silakan bangkit dari ranjang dan eksekusi semua rencana yang sudah disusun. Baik itu bercinta, buang dokumen tidak penting, atau malah meminta bantuan asisten keuangan.

Mau Menjadi Kaya Atau Bahkan Lebih Kaya Di tahun 2017? Download Sekarang Juga "61 Cara Menjadi Kaya by Tung DW dan Robert T.Kiyosaki" seharga Rp 997.000. Khusus Untuk 100 Orang Pembaca detikFinance Hari Ini, Saya Beri GRATIS, Klik di Sini Untuk Download.

Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di si penulis artikel.

PS: Artikel ini aslinya ditulis oleh Andhika Sen Diskartes, yang secara tidak sengaja atau dengan khilaf oleh tim Laruno (dalam hal ini adalah mitra detikcom) melakukan duplikasi secara sepihak tanpa konfirmasi oleh penulis.

Tulisan aslinya bisa dilihat di sini. Untuk itu, tim Laruno meminta maaf kepada Andhika Sen Diskartes. Terima kasih. (ang/ang)