Follow detikFinance
Selasa 20 Jun 2017, 02:34 WIB

Ibu Rumah Tangga Juga Bisa Kaya, Begini Caranya

Marviarum Eka Ramdiati - detikFinance
Ibu Rumah Tangga Juga Bisa Kaya, Begini Caranya Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance
Jakarta - Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan profesi mulia. Tidak ada pendidikan khusus yang ditempuh untuk menjadi ibu rumah tangga, meskipun keahlian yang dimiliki harus lengkap seperti memasak bagai chef, mendidik seperti guru, mengatur interior rumah layaknya desain interior, dan juga mengatur keuangan sebagai menteri keuangan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti Kaya adalah "mempunyai banyak harta (uang dan sebagainya). Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga tidak bisa kaya? Justru dengan menjadi Menteri Keuangan dalam keluarga, ibu rumah tangga bisa leluasa untuk menjadi kaya.

Mereka bisa mengatur keuangan mereka sendiri dengan lebih bijak, sehingga dapat memenuhi semua kebutuhan hidup dari awal hingga nanti masa pensiun atau bahkan sampai kebutuhan anak-anak bisa terpenuhi secara mandiri.

Bagi ibu rumah tangga yang tidak bekerja, jangan rendah hati dulu. Ada kok ibu rumah tangga yang meskipun tidak bekerja, dapat memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya hingga mandiri.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan bagi ibu rumah tangga agar bisa menjadi Kaya:

1. Persiapan sebelum berumah tangga.
Agar tidak terjadi selisih paham dikemudian hari, sebaiknya ada kesepakatan bersama tentang pengelolaan keuangan rumah tangga sejak sebelum menikah.

Saling terbuka baik untuk anggaran, teknis pengelolaan, pembagian tugas keuangan dan tujuan keuangan yang ingin dicapai bersama. Hal ini berlaku baik untuk ibu rumah tangga yang tidak bekerja maupun ibu rumah tangga yang juga bekerja.

2. Membuat anggaran
Sebagai ibu rumah tangga yang mengatur keuangan, sama halnya dengan seorang Chief Finance Officer alias Direktur Keuangan di dalam sebuah perusahaan yang harus menguasai ilmu Budgeting atau anggaran.

Anggaran bisa dibuat dengan cara yang sederhana. Meskipun sederhana, idealnya mencakup semua daftar pemasukkan dan daftar pengeluaran sesuai kebutuhan. Pemasukkan dan Pengeluaran setiap rumah tangga berbeda-beda.

Pemasukkan bisa didapat dari pemasukan rutin seperti gaji atau pun pemasukkan yang tidak rutin seperti bonus atau usaha sambilan yang tidak tentu. Sedangkan kebutuhan rutin biasanya mencakup kebutuhan sehari-hari seperti pangan atau makanan, listrik, air, dan lain-lain.

Kebutuhan juga termasuk kebutuhan tidak rutin, seperti kebutuhan sandang atau pakaian dan tempat tinggal.

3. Memilah antara kebutuhan dan keinginan.
Tidak semua daftar pengeluaran dapat direalisasikan. Sebagai Direktur tentunya harus bisa memilih mana yang benar-benar kebutuhan dan yang termasuk keinginan.

Idealnya diprioritaskan terlebih dahulu kebutuhan, apabila ada kelebihan dana baru dapat dialokasikan untuk memenuhi keinginan. Itu pun tidak wajib, karena keinginan hanya berperan sebagai pelengkap.

4. Membuat Daftar Harta atau utang
Tidak hanya orang kaya yang perlu membuat daftar harta/utang. Jika ingin kaya dan mengetahui kondisi kesehatan keuangan, diperlukan membuat daftar harta, sekecil apa pun harta yang dimiliki. Pun dengan daftar utang. Lebih baik lagi apabila yang dimiliki hanya daftar harta, tanpa memiliki daftar utang.

5. Pilih Instrumen Keuangan yang Tepat
Sekarang ini sudah banyak sekali instrumen atau produk-produk keuangan mulai dari tabungan, emas, deposito, asuransi, reksadana, saham dan lain-lain. Tidak perlu menjadi Sarjana Ekonomi untuk bisa menguasai semua produk tersebut.

Kita bisa mempelajari sendiri melalui berbagai cara. OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang menaungi semua produk keuangan di Indonesia, saat ini banyak melakukan edukasi keuangan kepada semua lapisan masyarakat.

Edukasi dilakukan secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga keuangan agar masyarakat pun tidak terjebak dengan maraknya investasi-investasi bodong (yang tidak diijinkan oleh OJK).

Yang pertama kali dilakukan sebelum memilih instrumen keuangan adalah menetapkan tujuan keuangan. Kemudian mempelajari produk yang akan dipilih, sebaiknya pilih beberapa alternatif. Dan selanjutnya, pilih sesuai dengan tujuan keuangan yang akan dicapai.

Hindari pilih produk asal pilih, seperti tergiur dengan program-program hadiah, tetapi tidak tahu pemanfaatannya untuk apa. Pilih produk karena tidak enak dengan orang dekat. Karena hal tersebut nantinya akan menjadi mubazir dan tidak maksimal.

6. Evaluasi Anggaran
Seperti sebuah perusahaan yang setiap tahun, bahkan setiap bulan selalu membuat laporan keuangan seperti laba rugi, neraca, dan arus kas. Seorang Menteri Keuangan dalam rumah tangga idealnya membuat hal tersebut yang kemudian dikomunikasikan dengan pasangan.

Laporannya pun bisa dibuat sederhana yang dapat menjadi evaluasi bersama agar bisa tetap memenuhi semua kebutuhan yang akan datang. Hal ini juga membantu untuk melihat, apakah kita sebagai ibu rumah tangga sudah kaya? Atau lebih banyak memiliki utang?

Dengan melakukan 6 langkah tersebut di atas dengan benar dan secara disiplin, seorang ibu rumah tangga yang berperan sebagai Chief Financial Officer dalam keluarga pun bisa menjadi kaya. Kaya dalam arti memiliki harta banyak untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga.

Mau lebih detil? Bisa belajar di workshop keuangan, untuk bulan depan (Juli) ada workshop di 2 kota yaitu Surabaya cek disini https://bit.ly/cpmmsby dan https://bit.ly/wkrdsby atau di Jakarta dan seluruh info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed