Follow detikFinance
Sabtu 01 Jul 2017, 09:35 WIB

Raih Kemenangan Saat Lebaran, Bukan Kembali 'Miskin' Setelah Lebaran

Bareyn Mochaddin - detikFinance
Raih Kemenangan Saat Lebaran, Bukan Kembali Miskin Setelah Lebaran Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Konon katanya, penjualan mobil akan mengalami peningkatan menjelang Lebaran. Alasan orang-orang membeli mobil pun beragam, mulai dari kemudahan untuk transportasi mudik sampai dengan simbol kesuksesan yang bisa dilihat saudara dan tetangga di kampung halaman.

Mungkin beberapa dari anda sedang merasa bingung karena sepertinya ada yang aneh dan ada yang janggal. Mungkin beberapa dari anda berpikir bahwa membeli mobil untuk terlihat gaya itu sesuatu yang salah?

Apakah anda termasuk orang yang merasa bahwa membeli mobil sebagai simbol kesuksesan adalah sebuah kesalahan bila dipandang dari sudut pandang keuangan? Bila hal itu yang anda tanyakan, maka jawabannya adalah: belum tentu.

Bisa jadi, orang tersebut memang sukses dan secara keuangan sudah mampu membeli mobil, baik itu secara cash atapun DP (juga memiliki kemampuan mencicil di bulan-bulan selanjutnya). Namun, bisa juga membeli mobil sebagai simbol kesuksesan adalah sebuah kesalahan bila alasan utama pembelian adalah gengsi.

Sementara, di sisi lain seseorang tersebut hanya mampu membayar DP dan tidak memiliki kemampuan untuk membayar cicilan di bulan-bulan selanjutnya. Sederhananya, memaksakan diri untuk terlihat sukses ketika Lebaran. Miris, memang.

Entah siapa yang memulai, tapi bergaya ketika Lebaran bagi beberapa orang menjadi sebuah kewajiban. Untuk sebuah keluarga yang menganut paham seperti ini, setidaknya ada 5 hal wajib yang harus ada ketika Lebaran tiba, hal-hal tersebut adalah baju baru, sepatu, tas baru, alat shalat baru, sampai dengan kendaraan baru. Apakah anda salah satunya?

Untuk ditekankan, tidak ada yang salah (dan menyalahkan) atas paham (atas cara anda bergaya) yang anda anut, itu adalah hak anda. Mungkin memang anda memiliki uang untuk membeli semua barang tersebut.

Tapi, ketika anda memutuskan untuk membeli barang-barang tersebut, apakah anda pernah mempertimbangkannya? Jangan-jangan, baju 'koko' yang ada pakai saat Lebaran tahun lalu masih bagus, dan untuk Lebaran kali ini anda malah membeli baju 'koko; yang baru?

Coba tanyakan lagi pada diri anda. Sesuatu yang anda beli untuk Lebaran, apakah kebutuhan ataukah hanya keinginan?

Bila ternyata anda membeli baju untuk memenuhi keinginan anda, itu tidak apa, karena sepertinya anda masih bisa sedikit bernafas lega mengingat uang yang anda 'hamburkan' untuk memenuhi keinginan hanyalah senilai baju baru, mungkin nominalnya tidak seberapa.

Namun bagaimana ketika anda memenuhi keinginan anda dan yang anda beli adalah sebuah kendaraan, anggaplah sebuah city car? Berapa yang harus anda keluarkan dari rekening tabungan anda untuk DP-nya saja? Apakah anda memang benar-benar butuh kendaraan ini? Apakah anda memiliki kemampuan untuk mencicil di bulan-bulan berikutnya?

Bisa-bisa, ketika anda memaksakan membeli kendaraan untuk terlihat mapan pada saat Lebaran, yang ada anda 'kembali miskin' beberapa bulan setelah Lebaran. Artinya, mobil yang anda beli tidak mampu anca cicil dan akhirnya anda kembalikan ke lembaga pemberi pinjaman. Belum lagi barang-barang pendukung lainnya yang (mungkin) anda beli dengan utang, malah membebani anda dan tetap harus mencicilnya setiap bulan.

Selain itu, ketika anda membeli sebuah kendaraan hanya untuk terlihat sukses padahal tidak memiliki kemampuan maka artinya anda sedang berpura-pura. Dan tahukah anda? berpura-pura adalah salah satu indikasi anda menderita sebuah gangguan yang dalam istilah ilmiah disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau lebih dikenal dengan narsis. Narsis adalah gangguan psikologis ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi untuk kepentingan pribadinya dan juga rasa ingin dikagumi.

Maka, ketika anda ingin membeli suatu barang supaya terlihat 'gaya' ketika Lebaran baiknya dipertimbangkan kembali. Jangan-jangan, dengan keputusan anda membeli barang tersebut, ke depannya anda hanya akan terjangkit penyakit keuangan berupa utang dan ditambah dengan adanya indikasi bahwa anda sedang terjangkit penyakit kepribadian. Tentu gak mau kan?

Meski Idul Fitri artinya mengembalikan kita kepada kesucian seperti kertas putih yang kosong, bukan berarti putih dan suci itu selalu diartikan dengan baju baru berwarna putih apalagi mobil baru berwarna putih. Tapi, seperti yang selalu disampaikan ulama, ketika idul fitri kita akan kembali putih dari dosa dan mendapatkan kemenangan atas pengendalian hawa nafsu yang ada dalam diri kita.

Kendalikan hawa nafsu dan keinginan untuk mencapai kemenangan saat Lebaran. Jangan sampai karena kita memaksakan keinginan lalu potensi kemiskinan setelah Lebaran menghantui kita. Selain itu, anda harus ingat, setelah Lebaran yang kembali kosong itu dosa, bukan rekening tabungan anda.

Belajar mengelolanya di kota Surabaya, info bisa dibuka disini https://bit.ly/cpmmsby dan disini https://bit.ly/wkrdsby. Sementara untuk workshop di Jakarta info bisa dibuka disini https://bit.ly/PMJKT07.

Chao!

(ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed