Follow detikFinance
Rabu 13 Sep 2017, 06:49 WIB

Uangmu Jadi Uangku

Aidil Akbar Madjid - detikFinance
Uangmu Jadi Uangku Foto: Istimewa
Jakarta - Kalau anda sering baca berita, beberapa hari belakangkan ini sedang ramai berita tentang kasus pembunuhan diduga berlatar belakang keuangan alias finansial. Bila ditelusuri dari berbagai macam sumber berita, ternyata katanya ada bukti rekaman, yang kemudian diubah menjadi transkrip tentang bagaimana sang korban (istri) ketika masih hidup pernah bertengkar hebat dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada sang suami yang berhubungan dengan keuangan dan kekayaan yang kemudian berbuntut pada kasus pembunuhan. Kita tidak tahu apa yang kemudian terjadi, apakah rekaman itu kejadian pertama kali atau ada kejadian-kejadian lainnya.

Dalam tulisan ini kita tidak sedang membahas tentang kasus hukum tersebut dan saya memang tidak mau membahas kasus hukumnya, tidak juga akan mengkritisi kejadian pembunuhan tersebut karena bukan ranah dan wilayah keahlian saya. Akan tetapi yang mengusik adalah, bagaimana sebenarnya pembagian keuangan yang baik di dalam suatu rumah tangga? Seberapa besar tanggung jawab suami terhadap pengeluaran rumah tangga? Dan hal-hal lain yang berhubungan dengan keuangan rumah tangga tersebut. Apakah wajar seorang istri meminta uang diberikan kemewahan tersebut? Apabila sang suami tidak sanggup apa yang harus dilakukan? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang mengganjal.

Bila kita mau jujur sebenarnya tidak bisa kita pungkiri, bahwa fakta di lapangan menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama perceraian di Indonesia adalah karena faktor finansial alias ekonomi atau uang. Itulah sebabnya membicarakan tentang uang dengan pasangan menjadi sangat penting, tapi di saat yang bersamaan juga menjadi sensitif (terutama untuk calon pengantin). Dibutuhkan keterbukaan dan saling mengerti dan menerima keuangan pasangan dan calon pasangan masing-masing.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak calon pasangan yang kemudian naik ke jenjang pernikahan tanpa pernah sekalipun membicarakan secara serius tentang keuangan rumah tangga mereka. Pembicaraan seputar bagaimana nanti keuangan rumah tangga kelak? Kemudian siapa yang akan bertanggung jawab untuk pengeluaran bulanan dan pengeluaran lainnya. Akan tetapi hal ini menjadi seakan-akan tabu untuk dibacarakan. Seakan-akan membicarakan keuangan sebelum menikah menunjukkan bahwa seseorang itu masuk ke dalam golongan 'matre' alias materialistis. Di sini kita belum membicarakan tentang adanya perjanjian pisah harta dan lain sebagainya.

Selain itu, saat ini juga sudah semakin banyak wanita bekerja (wanita karir) yang bekerja dan mempunyai penghasilan atau bahkan jabatan penting di perusahannya. Hal ini diperparah dengan jurang pemisah keuangan semakin terbuka lebar ketika sang istri atau calon mempelai wanita ternyata mempunyai penghasilan yang lebih besar dari calon mempelai pria.

Selain itu, di kalangan masyarakat juga beredar paham bahwa di dalam suatu pernikahan, bagi seorang Istri maka Uang Mu adalah Uang Ku, sementara Uang ku adalah Uang ku yang artinya kira-kira meskipun istri bekerja maka penghasilan mereka untuk diri mereka sendiri, sementara seluruh penghasilan suami untuk dirinya. Ini pun masih menjadi pro dan kontra serta kontroversial dan banyak pihak yang setuju maupun tidak setuju terhadap statement tersebut.

Tidak lupa juga, karena tingkat populasi pemeluk agama Islam terbesar di Indonesia, secara otomatis jumlah perceraian terbesar juga terjadi pada pemeluk agama Islam. Bila anda tidak percaya coba cek di Pengadilan Agama dan Kantor Urusan Agama. Celakanya, good money habit and family money management tidak pernah diajarkan kepada calon pasangan yang akan menikah. Sementara, menurut sepengetahuan saya dari beberapa teman-teman yang beragama Nasrani, mereka harus ikut ke dalam 'Sekolah Persiapan Calon Pengantin' untuk mempersiapkan diri menjadi calon pengantin, dan di dalamnya juga rata-rata diajarkan keterbukaan tentang pengaturan keuangan rumah tangga (menurut pengakuan mereka).

Nah, jadi sebenarnya seperti apa pengaturan keuangan rumah tangga yang benar? Siapa bertanggung jawab untuk apa di dalam rumah tangga? Ada beberapa sistem rekening yang bisa anda pakai dan terapkan dalam rumah tangga? Beberapa dari pertanyaan ini sudah dibahas dalam tulisan karya mbak Ila Abdurahman sebelumnya tentang beberapa Teknik penggunaan rekening dalam keuangan rumah tangga. Artikel saya sebelumnya juga membuat tentang perbuatan 'Bohong Keuangan' anda kepada pasangan anda.

Tentu saja agak sulit membahas secara detil Teknik pengaturan keuangan rumah tangga yang baik ke dalam tulisan karena pasti ada yang terlewatkan atau penjelasannya sulit untuk dimengerti. Itulah sebabnya ada workshop-workhop yang bisa anda ikuti untuk belajar tentang hal ini. Ada workshop mengelola keuangan dan gaji CPMM di Jakarta info bisa dibuka di sini berbarengan dengan kelas Belajar Asuransi info buka di sini, sementara untuk reksa dana Jakarta info bisa dibuka di sini berbarengan dengan di Yogya, Solo dan Semarang (JogLoSemar / Jawa Tengah) bisa lihat info di sini dan di sini.

Ingat bahwa membicarakan masalah keuangan kepada calon pasangan dan pasangan anda tidaklah tabu bahkan penting. Salah satu associate kami telah mempraktikkan hal ini dan pada akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungan (tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya) dikarenakan kurang keterbukaan calon pasangannya tentang uang dan bahkan berpotensi bisa menyebabkan keributan di kemudian hari, seperti contoh kasus pembunuhan tersebut. Pada akhirnya keputusan untuk tidak meneruskan hubungan jauh lebih baik daripada memulai suatu hubungan dengan pola pikir yang salah.

Selamat terbuka kepada pasangan anda. (wdl/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed