Follow detikFinance
Rabu 29 Nov 2017, 06:27 WIB

Asuransi Pendidikan, Yakin? (3)

Ila Abdulrahman - detikFinance
Asuransi Pendidikan, Yakin? (3) Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Sudah dibuka polis asuransi pendidikannya atau ilustrasi dari agen kan? Nah jadi maju atau mundur, melanjutkan atau menutup polis Asuransi pendidikannya? Bagi yang baru membaca artikel ini, silakan dibaca 2 artikel sebelumnya, Asuransi Pendidikan, Yes or No, bagian 1 dan 2.

Mari kita ulas satu persatu. Lalu Putuskan Langkah selanjutnya, apakah membeli atau batal, apakah melanjutkan atau menutup polisnya.

Tujuan Asuransi

Tujuan asuransi adalah proteksi untuk pencari nafkah utama, dalam asuransi yang Anda tujukan untuk investasi pendidikan silakan dicek siapa yang diproteksi, apakah pencari nafkah utama? Dalam Asuransi pendidikan biasanya anak sebagai peserta, harusnya sebagai penerima manfaat atau ahli waris.

Mengapa saya sampaikan asuransi yang Anda tujukan untuk investasi pendidikan? Karena dalam praktiknya produk tersebut menggunakan asuransi unit link, agen atau perusahaan asuransi bisa menawarkan dengan berbagai nama, sesuai dengan apa yang dilihat dari nasabah, bisa dana pensiun, dana haji, dana liburan, dan lain-lain.

Jumlah Uang Pertanggungan (UP). Karena tujuan asuransi adalah untuk proteksi maka UP yang dibeli harusnya disesuaikan dengan jumlah kebutuhan dan ahli waris. Artinya jumlah UP asuransi pendidikan yang dibeli harus mampu menggantikan total jumlah investasi yang harus dilakukan, ketika pencari nafkah utama meninggal.

Misal, jangan sampai total kebutuhan investasi pendidikan dari Pra Sekolah sampai S1 untuk 1 orang anak saja, sekitar Rp 400-500 juta jika dilakukan investasi sekaligus, ternyata membeli Asuransi hanya dengan UP hanya Rp 500 jutaan, padahal anaknya 2, ada pasangan dan orangtua dari pencari nafkah utama yang juga berhak akan UP.

Nah, apakah UP nya sesuai dengan kebutuhan?

Nilai Tunai

Berdasarkan data IARC Indonesia, kebutuhan biaya pendidikan untuk kuliah saja di 18 tahun mendatang sekitar Rp 2-6 milyar. Hitung dana pendidikan yang Anda butuhkan sesuaikan dengan kondisi anak anda, misalkan anak anda baru lahir, artinya anda mempersiapkan dan menghitung kebutuhan biaya pendidikan dari Pra sekolah sampi Perguruan Tinggi, kumpulkan data biaya masing-masing, kemudian "future value" kan sesuai dengan inflasi, lalu total. Silakan dicek apakah total dana tahapan yang akan diterima di tiap jenjang sejumlah tersebut?


Besaran Kontribusi (Premi)

Unit Link merupakan produk 2 in 1 berasuransi dan berinvestasi, premi dibagi ke dalam dua keranjang yaitu, investasi dan proteksi. Dengan kondisi yang demikian hasilnya baik UP ataupun hasil investasi tidak optimal, sehingga anda harus memilih salah satu mana yang mau di maksimalkan, apakah benefit UP atau hasil investasi?

Jika UP yang menjadi prioritas, ketahui rate premi nya berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, perokok atau tidak. Misal, rata-rata per Rp 100 ribu/bulan, bisa mendapatkan proteksi UP Rp 50-100 juta, maka untuk UP Rp 1 Milyar Anda hanya butuh alokasi premi sebesar sekitar Rp 1 juta per bulan, bahkan jika usia Anda masih dikisaran 30 tahun, bisa lebih murah lagi.

Jika nilai investasi yang anda prioritaskan maka, dari total kebutuhan dana pendidikan, Anda harus kalkulasi kebutuhan alokasi investasi/preminya dengan memperhitungan imbal hasil investasi atau Return of investment (RoI)sehingga tidak terjadi salah beli, apalagi salah jumlah premi (terlalu besar), yang bisa di alokasikan untuk investasi yang lain. Jangan sampai misal hanya butuh premi Rp 1 juta per bulan, Anda iya-iya aja dengan angka Rp 2 juta per bulan.

Imbal Hasil

Berapa imbal hasil yang diberikan oleh asuransi pendidikan tersebut, apakah lebih besar dari kenaikan inflasi pendidikan? Dalam Ilustrasi Asuransi pendidikan imbal hasil diasumsikan di angka rendah 3%, sedang 15% dan tingggi 25%. Ingat ini hanya asumsi, dan apakah imbal hasil tersebut sudah dikurangi biaya-biaya?


Nah, jika dari kelima poin di atas apakah jawabannya "iya" semua atau ada yang tidak? Jika iya semua boleh yakin menempatkan dana pendidikan di asuransi. Jika Ada satu saja pertanyaan jawabannya "tidak", maka anda baiknya berpikir ulang dan mencari instrumen investasi yang tepat.

Sebenarnya Anda bisa menyiapkan dana pendidikan anda sendiri dengan menghitung dan menggunakan produk investasi. Hanya saja tidak semua orang tahu caranya yang benar. Nah, Kalau anda berminat untuk belajar lebih detil dan dalam lagi, bisa dengan mengikuti kelas atau workshop yang kami rekomendasikan. Kemana saja? Ada yang dilakukan baik oleh AAM & Associates maupun IARFC Indonesia.

Untuk workshop Kaya Raya Dengan Reksadana dibulan Desember buka di sini. Untuk belajar mengelola gaji bulanan bisa ikut workshop CPMM, info di sini. Yang di Surabaya bisa cek info workshop di sini dan di sini.

Sementara untuk ilmu yang lengkap, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan ilmu advance, buka di sini dan di sini. Selain itu bisa juga bergabung di akun telegram group kami dengan nama Seputar Keuangan atau klik di sini.

Baiknya untuk menyiapkan kebutuhan perencanaan pendidikan, Anda konsultasikan ke Financial Planner terpercaya, untuk membantu menghitung baik sebagian maupun seluruh perencanaan keuangan anda dalam bentuk miniplan, maupun perencanaan keuangan komprehensif. (mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed