Follow detikFinance
Rabu 24 Jan 2018, 07:25 WIB

Tak Punya Investasi? Mungkin Ini Penyebabnya

Annissa Sagita – AAM & Partners - detikFinance
Tak Punya Investasi? Mungkin Ini Penyebabnya Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Mengapa rasanya sulit sekali berinvestasi? Mungkin selama ini Anda terpapar oleh hal-hal berikut yang mempersulit Anda berinvestasi, tanpa sadar.

The Latte Factor
The Latte Factor adalah buku yang ditulis oleh David Bach, yang menyatakan bahwa untuk menjadi kaya, yang diperlukan adalah melihat ke kebiasaan kecil keuangan yang dilakukan setiap hari dan memutuskan apakah uang yang habis untuk itu bisa dialihkan ke kebutuhan masa depan (menabung dan berinvestasi).

Menyisihkan sebagian uang untuk masa depan daripada 'jajan' seperti ngopi-ngopi cantik, rokok, majalah/biaya berlangganan, akan bisa membuat perbedaan antara hidup sejahtera dan hidup pas-pasan bahkan minus.

Kata 'latte' digunakan sebagai contoh untuk kebiasaan, namun juga bisa menunjuk kebiasaan kecil apapun yang secara tidak sadar menghabiskan banyak uang jika diakumulasikan. Mungkin Anda tidak hobi minum kopi, tapi sering mengunjungi minimarket samping kantor untuk sekedar menghilangkan rasa bosan. Atau iseng membuka aplikasi ojek online dan melihat-lihat cemilan apa yang bisa diantar saat ini langsung ke tempat Anda.

Hal ini sudah menjadi kebiasaan, dan tentu saja tidak mudah menghilangkan kebiasaan. Tidak harus dihilangkan, namun cukup menyadari bahwa kebiasaan kecil Anda ternyata memboroskan uang secara akumulasi dan Anda bisa membuat keputusan yang lebih bijaksana.

Selain itu juga menyadari bahwa jika Anda masih bisa 'jajan', gaji Anda ternyata tidak sepas-pasan itu.

Terpengaruh Lingkungan
Berdasarkan polling yang diadakan oleh American Institute of CPA (AICPA) tahun 2013 kepada responden berusia 25-34 tahun, tiga perempatnya atau sekitar 78% terpengaruh kebiasaan keuangan dari teman.

Enam puluh enam persen ingin bertempat tinggal di mana teman-teman mereka tinggal, dan 64% mengatakan hal yang sama soal pakaian. Dan hampir dua per tiga mengalami tekanan pergaulan soal tempat makan kekinian dan gawai yang dimiliki.

Data tersebut menunjukkan bahwa teman sepergaulan memegang peranan penting dalam keuangan, tanpa disadari. Uang yang seharusnya bisa dialihkan untuk berinvestasi, bisa jadi habis karena pergaulan, misalnya nongkrong di café atau restoran yang cukup menguras kantong, berbelanja bersama, iseng mengunjungi mall yang diskon lalu terpengaruh teman untuk membeli barang.

Bagaimana cara menghindarinya? Tentu saja sulit untuk menghindar dari teman sepergaulan sendiri, namun sebagai orang yang sedang belajar berinvestasi Anda bisa pelan-pelan membuka topik tentang mengapa penting berinvestasi tanpa terdengar menggurui. Siapa tahu teman-teman Anda akan sadar dan justru bisa saling mengingatkan tentang pentingnya berinvestasi.

Tidak Mengerti Pentingnya Berinvestasi
Untuk apa berinvestasi? Banyak orang tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Jawaban yang seringkali terdengar adalah "Yaa.. buat invest aja." Belum adanya pengertian korelasi antara tujuan keuangan dan berinvestasi.

Masyarakat kita adalah masyarakat yang gemar menabung. Gerakan menabung digalakkan pemerintah sejak usia dini. Gerakan ini sangat baik namun sayangnya tidak relevan untuk tujuan keuangan jangka panjang, misalnya mempersiapkan pensiun atau dana pendidikan anak.

Mengapa? Adanya inflasi yang cukup tinggi. Dengan tabungan biasa yang mungkin kenaikannya hanya 1% atau 2%, atau deposito dengan 4%, menghadapi inflasi sekolah swasta misalnya yang bisa mencapai 10-15%.

Tentu saja hanya dengan menabung, uang simpanan kita akan 'kalah' dibandingkan kenaikan harga barang. Apalagi jika tujuannya adalah tujuan jangka panjang terutama pensiun di mana tidak akan ada pemasukan seperti saat usia produktif namun biaya hidup sangat tinggi.

Semakin panjang jangka waktunya maka semakin tinggi kenaikan harga barang, semakin tinggi pula biaya hidup. Di sinilah investasi berperan.

Investasi mengandung risiko, namun investasi bisa memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari tabungan. Yang membedakan investasi dan tabungan adalah produknya. Tabungan, seperti yang telah dikenal, adalah produk bank.

Simpanan yang aman, karena kapanpun ingin diambil jumlahnya pasti sesuai dengan yang disetorkan awal, hanya dipotong biaya administrasi. Investasi, sangat bervariasi produknya.

Bisa berupa produk bursa seperti saham, obligasi, reksa dana atau investasi riil seperti properti dan menanam modal langsung di bisnis. Pemilihan produk haruslah disesuaikan dengan tujuan keuangannya.

Contoh, untuk tujuan keuangan jangka panjang bisa menggunakan produk reksadana saham atau saham, dengan menyesuaikan profil resiko masing-masing. Tetapi untuk tujuan keuangan jangka menengah, bisa menggunakan ORI (Obligasi Ritel Indonesia) yang dikeluarkan pemerintah dan bisa dibeli di bank.

Sangat berbahaya jika Anda tidak menyesuaikan investasi yang dimiliki dengan tujuan keuangan, karena sama saja dengan memaparkan uang Anda ke risiko tinggi tanpa mengerti/menentukan untuk apa melakukan hal itu.

Setelah mengetahui untuk apa Anda berinvestasi, akan jadi lebih mudah untuk mencari tahu bagaimana caranya berinvestasi. Jika tujuannya saja tidak ada, wajar jika hingga kini Anda belum memiliki investasi.

Tidak Mencari Ilmu
Investasi tentu perlu ilmu. Mungkin Anda pernah mendengar kerabat Anda tertipu "investasi" hingga jutaan bahkan puluhan/ratusan juta Rupiah. Hal itu terjadi karena minimnya ilmu tentang berinvestasi, selain karena pada dasarnya sifat manusia yang serakah.

Investasi yang paling awal perlu Anda lakukan adalah bukan ke keuangan Anda tapi investasi "leher ke atas" alias ilmu. Anda bisa investasi ilmu dengan membaca segala artikel yang ada di internet ataupun video secara gratis namun ilmu yang didapat tentu saja tidak sistematis.

Untuk memperoleh ilmu perencanaan keuangan dan investasi secara sistematis dan komprehensif Anda bisa mengikuti kelas perencanaan keuangan yang dilakukan baik oleh AAM & Associates https://ow.ly/pxId30gC3BB maupun IARFC Indonesia https://ow.ly/NbPy30gC3Dy.

Info workshop Kaya Raya Dengan Reksa Dana Januari 2018 buka di sini https://bit.ly/WRD0118. Untuk belajar mengelola gaji bulanan bisa ikut workshop CPMM, info di sini https://bit.ly/PMM0118.

Sementara untuk ilmu yang lengkap, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan ikutan workshop Basic Financial Planning info lihat di sini https://bit.ly/BFP0118.

Selain itu bisa juga bergabung di akun telegram group kami dengan nama Seputar Keuangan atau klik di sini t.me/seputarkeuangan. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed