Follow detikFinance
Senin, 12 Feb 2018 07:52 WIB

Mengenali Tanda-tanda Anda Terjebak Utang

Mohamad Taufiq Ismail – Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Kewajiban pembayaran utang saat ini sepertinya sudah menjadi salah satu pos pengeluaran yang hampir pasti ada di setiap keluarga muda di Indonesia. Contohnya utang untuk membeli rumah yang disebut Kredit Pemilikan Rumah atau KPR dan untuk membeli apartemen yang disebut Kredit Pemilikan Apartemen atau KPA.

Di dalam dompet pekerja milenial saat ini juga mudah ditemukan satu atau dua kartu kredit, sehingga ada kewajiban pembayaran utang kartu kredit. Dan masih banyak lagi jenis-jenis utang yang lain.

Berutang memang dapat membantu kita untuk memenuhi tujuan-tujuan keuangan. Namun berutanglah dengan bijak dan sesuai dengan kemampuan, agar Anda tidak sampai terjebak dalam lingkaran utang yang tak pernah lunas. Cara untuk mengetahui apakah kita terjebak utang atau tidak sangat mudah.

Perhatikan apakah Anda mulai mengalami gejala-gejala berikut ini:

1. Rasio cicilan utang lebih dari 35%
Rasio yang umum untuk pembayaran cicilan utang biasanya berkisar 30-35% dari total penghasilan bulanan. Jika masih dalam rentang tersebut maka ini masih dalam besaran yang aman.

Namun bayangkan apabila suatu bulan tertentu jumlah pengeluaran Anda meningkat sehingga dana untuk membayar utang turut terpakai. Pilihannya ada dua, menurunkan pengeluaran Anda yang lain, atau Anda akan mengambil tabungan untuk membayar utang. Itulah gejala nomor 2 yang akan muncul berikutnya.

2. Menggunakan tabungan untuk membayar utang
Pada titik ini Anda mulai mengalami kesulitan membayar utang. Mungkin tidak terlalu sulit juga, karena untungnya Anda memiliki tabungan dana darurat yang sangat berguna untuk menambal kekurangan pembayaran utang tersebut, sehingga pembayaran utang Anda pun tetap lancar tanpa tertunggak.

Jadi jangan sepelekan keberadaan dana darurat ya. Dana darurat adalah dana multi fungsi yang sangat bermanfaat pada waktunya dibutuhkan.

Nah, Itu jika Anda memiliki tabungan dana darurat, namun apa jadinya apabila tingkat pengeluaran Anda di bulan-bulan berikutnya tetap meningkat dan tidak dapat diturunkan, sementara penghasilan tidak bertambah.

Dana tabungan pun terus terpakai sedikit demi sedikit hingga akhirnya tabungan habis, alhasil tanda nomor 3 mulai terlihat.

3. Anda mulai tidak bisa membayar utang
Seiring dengan dana tabungan yang mulai menipis dan dengan adanya kebutuhan-kebutuhan lain yang mendesak, akhirnya kewajiban pembayaran utang mulai terganggu.

Anda mulai meminta kebijakan kelonggaran waktu pembayaran utang sambil mencari tambahan pendapatan dengan cara lain, salah satunya dengan menjual aset yang Anda miliki.

4. Menjual aset untuk membayar utang
Setelah tabungan habis dan meminta kelonggaran waktu pembayaran, selanjutnya emas batangan simpanan Anda pun mulai Anda jual untuk mendapatkan uang guna mencicil utang.

Alat musik yang tidak terpakai, sepeda motor, dan aset-aset lainnya juga akhirnya dilego demi mendapatkan penghasilan tambahan. Setelah semua dilakukan ternyata tetap saja utang masih terganggu pembayarannya, maka mulailah terlihat tanda kelima.

5. Mengambil utang untuk membayar utang
Inilah yang dinamakan gali lubang tutup lubang. Untuk membayar utang ke A, akhirnya Anda mengambil utang ke B.

Pembaca, itu adalah sedikit gambaran apabila Anda terjebak utang. Ceritanya mungkin bisa berhenti sampai poin kedua atau ketiga, namun bisa juga berlanjut ke nomor 6 dan seterusnya.

Saya pernah menjumpai seseorang yang sampai menjual rumah tempat tinggalnya untuk membayar utang. Utangnya pada akhirnya lunas, namun dia terpaksa pindah rumah yang lebih kecil dan lebih jauh dari lokasi kerjanya. Setelah itu dia dapat menata kembali keuangannya.

Utang memang bermanfaat untuk membantu kita memenuhi tujuan keuangan. Namun perhatikan cara dalam berutang. Anda tetap harus memonitor rasio-rasio keuangan Anda. Jika Anda tidak familiar dengan rasio-rasio keuangan, cukup perhatikan 5 tanda di atas.

Karena berutang dan mengelola utang adalah salah satu hal terpenting dalam sebuah Perencanaan Keuangan, maka cara lebih detil lagi biasanya dibahas di workshop perencanaan keuangan agar anda terhindar dari utang komsumtif yang membuat keuangan anda berantakan.

Bila anda penasaran bagaimana cara mengatasi utang dengan lebih rinci lagi, sebaiknya anda mengikuti workshop yang dilakukan oleh AAM & Associates http://ow.ly/pxId30gC3BB maupun IARFC Indonesia http://ow.ly/NbPy30gC3Dy.

Info workshop Kaya Raya Dengan Reksa Dana bulan depan 2018 buka di sini http://bit.ly/WRD0218. Untuk belajar mengelola gaji bulanan bisa ikut workshop CPMM, info di sini http://bit.ly/PMM0218.

Untuk di Bali atau anda ingin belajar sambil liburan bisa ikutan dibulan February workshop mengelola keuangan, info http://bit.ly/PMDPS02, Dan bagi yang ingin belajar Cara Kaya dengan Reksa Dana di Bali, info http://bit.ly/RDDPS02 lumayan bisa jalan-jalan liburan sambil belajar lho. Ada juga yang di Jogja, info bisa buka di sini http://bit.ly/PMJGS18 dan di sini http://bit.ly/RDJGS18.

Sementara untuk ilmu yang lengkap, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Intermediate Financial Planning info lihat di sini http://bit.ly/IMD0318. Selain itu bisa juga bergabung di akun telegram group kami dengan nama Seputar Keuangan atau klik di sini t.me/seputarkeuangan.

Bijaklah dalam berutang. Berutang sebaiknya dilakukan untuk keperluan pengeluaran yang produktif, atau untuk keperluan yang benar-benar penting.

Untuk kebutuhan konsumtif sebaiknya hindarilah utang. Tahanlah keinginan Anda hingga dana Anda mencukupi untuk pengeluaran yang konsumtif.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed