Takut Boros di Bulan Puasa? Begini Cara Atur Duitnya

Takut Boros di Bulan Puasa? Begini Cara Atur Duitnya

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Jumat, 11 Mei 2018 07:45 WIB
Takut Boros di Bulan Puasa? Begini Cara Atur Duitnya
Penjual takjil di Benhil, Jakarta. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Bulan Ramadan sebentar lagi tiba. Pada momen itu, mereka yang beragama Islam harus bisa menahan diri baik makan, minum, serta hawa nafsu selama sebulan penuh.

Namun, biasanya pengeluaran saat bulan puasa bakal lebih tinggi dibanding hari-hari biasa. Padahal seharusnya, dengan berpuasa pengeluaran sehari-hari bisa lebih ditekan.

Lantas bagaimana sih cara mengatur keuangan yang baik saat puasa agar tak boros? Simak penjelasan selengkapnya.

Bikin Anggaran Bayangan

Foto: Rachman Haryanto
Perencana keuangan dari Finansia Consulting, Eko Endarto mengatakan ada berbagai cara untuk menyiasati keuangan di bulan puasa agar tak boros. Dia menyarankan agar sebelum puasa harus dibuat terlebih dahulu anggaran bayangan.

"Jadi kira-kira begini, ketika saya nanti puasa, apa saja yang bisa dikurangi. Misalnya bagi perokok, kan berarti rokok siang sudah nggak ada. Terus jajan sore nggak ada. Nah cobalah angka-angka yang bisa dikurangi itu disisihkan dulu setiap hari," kata Eko kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (10/5/2018).

Selain itu, kata Eko, setiap orang yang berpuasa harus bisa menahan diri dan tak haus mata saat berbuka. Karena biasanya hal itu yang sering membuat boros.

"Saat nanti buka, jangan serakah semua dimakan. Tapi mulai dari sedikit ke besar. Karena kecenderungannya ketika puasa lalu berbuka biasanya membalas dendam, padahal puasa itu ajang menahan diri bukan untuk balas dendam," katanya.

Dengan begitu, maka masyarakat bisa lebih hemat dalam mengatur pengeluaran di bulan puasa. Eko mengingatkan agar bisa cermat dalam menjaga kondisi keuangan agar saat puasa agar bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.

"Cuma masalahnya kita sering seperti itu, sahurnya dibuat lebih spesial, dan berbukanya juga dibuat lebih spesial. Akhirnya anggaran harusnya sama seperti hari biasa, tapi jadinya lebih besar. Jadi harusnya uang tadi bisa disimpan. Untuk yang lebih berguna, seperti THR, mudik dan lainnya," tuturnya.

Jangan Sahur dan Buka Puasa Berlebihan

Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Eko Endarto mengatakan lebih borosnya bulan puasa dibanding hari biasa disebabkan oleh sejumlah hal. Namun, yang utamanya ialah karena kebiasaan 'balas dendam' saat berbuka maupun sahur.

"Sebenarnya kan puasa ada uang jajan yang bisa ditabung. Karena kita nggak ada uang makan siang, kedua nggak ada jajan tengah hari. Nah harusnya uang tadi bisa kita sisihkan, dengan asumsi tidak ada balas dendam pada saat kita sahur dan berbuka," kata Eko.

Dia bilang karena balas dendam tersebut, biasanya menu sahur dan berbuka dibuat lebih spesial hingga harus merogoh kocek yang lebih besar dibanding hari biasa.

"Masalahnya kita sering seperti itu, sahurnya dibuat lebih spesial, dan berbukanya juga dibuat lebih spesial. Akhirnya anggaran harusnya sama seperti hari biasa, tapi jadinya lebih besar," jelasnya.

Oleh sebab itu, Eko mengingatkan agar di saat bulan puasa tersebut masyarakat harus bisa menahan diri. Hal itu agar puasa yang dilakukan juga bisa lebih bermanfaat.

"Jadi jangan serakah semua dimakan. Tapi mulai dari sedikit ke besar. Karena kecenderungannya ketika puasa lalu berbuka biasanya membalas dendam, padahal puasa itu ajang menahan diri bukan untuk balas dendam," tuturnya.

Agar Kantong Tak Jebol saat Banyak Ajakan Buka Puasa

Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Bulan Ramadan tak lepas dari ajakan buka puasa bersama atau bukber dengan banyak kerabat. Bila tak pandai mengaturnya, maka banyaknya ajakan bukber tersebut bisa membuat kantong terkuras.

Perencana keuangan dari Finansia Consulting, Eko Endarto menjelaskan sejatinya ajakan buka puasa bersama tersebut tak salah asalkan bisa pintar dalam mengatur keuangannya.

"Sebenarnya buka puasa bersama tidak masalah asalkan angkanya sama dengan uang makan siang kita. Dia nggak sama seperti hari biasa kan sebenarnya," kata Eko.

Eko menyarankan agar membuat batasan anggaran untuk kegiatan buka bersama itu. Terutama untuk pekan terakhir puasa.

"Buka puasa bersama kan nggak mungkin setiap hari, biasanya adanya di minggu-minggu terakhir atau dua minggu terakhir. Nah harusnya kita buat anggaran," kata dia.

Untuk batasannya, Eko menyarankan agar anggaran buka bersama tak lebih besar dari uang makan siang dan uang makan malam sehari-hari. Bila lebih dari itu, maka bisa membuat keuangan lebih boros dari hari biasa.

"Besarannya mungkin tidak lebih besar daripada uang makan siang plus uang makan malam kita, itu sudah maksimal. Karena kan kita hanya mengubah waktu dan pola makan," jelas dia.

"Kalau angkanya sudah lebih besar dibanding uang makan siang plus uang makan malam kita berarti sudah salah. Jadi tak boleh lebih dari uang makan sehari," tuturnya.


Tips Menabung di Bulan Puasa

Foto: Rachman Haryanto
Selain untuk ibadah, bulan puasa juga bisa dijadikan momen untuk menghemat uang lebih besar dibanding dengan bulan-bulan biasanya. Sebab, kebutuhan saat puasa biasanya tak akan sebanyak hari biasa.

Perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan pada bulan puasa masyarakat harus bisa mengatur keuangannya agar bisa menabung lebih banyak dari bulan-bulan biasa. Pengeluaran harus pintar-pintar dibatasi.

"Karena kan kita keperluan rumah, makan, tak sebanyak biasanya harusnya. Jadi bisa dibatasi," kata dia.

Dia bilang, pada bulan puasa masyarakat bisa menabung hingga setengah dari pengeluarannya setiap bulan. Hal itu melihat dari kebutuhan puasa yang seharusnya tak sebanyak bulan biasa.

"Katakan misalnya pengeluaran Rp 100 ribu sehari, mestinya minimal Rp 40 ribu bisa ditabung dalam sehari," kata dia.

Untuk itu dia mengatakan, diperlukan suatu anggaran bayangan agar bisa mengatur jumlah pengeluaran saat puasa. Dengan begitu, masyarakat bisa mengetahui pengeluaran mana saja yang bisa dikurangi selama puasa.

"Jadi cobalah buat anggaran bayangan. Kira-kira ketika saya nanti puasa, apa saja yang bisa dikurangi. Misalnya bagi perokok, kan berarti rokok siang sudah nggak ada. Terus jajan sore nggak ada. Nah cobalah angka-angka yang bisa dikurangi, itu disisihkan dulu setiap hari," tuturnya.


Halaman 2 dari 5
(fdl/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads