Follow detikFinance
Rabu, 16 Mei 2018 07:27 WIB

Pakai Uang Elektronik Jadi Boros, Kok Bisa?

Stanley Christian - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Angga Aliya ZR Firdaus/detikFinance Foto: Angga Aliya ZR Firdaus/detikFinance
Jakarta - Siapa yang tidak familiar dengan uang elektronik atau e-money? Bagi yang sering menggunakan transportasi seperti, KRL, Transjakarta, termasuk kendaraan pribadi pengguna ruas tol, sudah wajib hukumnya memiliki uang elektronik ini.

Selain untuk mendukung program Bank Indonesia, yaitu Gerakan Non Tunai, keberadaan uang elektronik ini juga untuk mempermudah kita dalam bertransaksi, khususnya penggunaan transportasi seperti di atas tadi.

Berdasarkan data statistik Bank Indonesia, jumlah uang elektronik yang sudah beredar hingga November 2017 mencapai 113 juta instrumen berjenis e-money ataupun e-wallet. Jumlah ini meningkat signifikan dari posisi awal 2017 yang hanya 52 juta instrumen uang elektronik.

Jumlah itu mencakup 26 jenis uang elektronik yang dikeluarkan oleh 26 perusahaan penerbit berbeda.

Ada dua jenis uang elektronik. Pertama, uang elektronik berbentuk kartu (Chip Based) atau biasa dikenal e-money. Kedua, adalah e-wallet, Uang elektronik ini berbasis aplikasi (Server based).

Jumlah transaksi uang elektronik juga melonjak signifikan sepanjang Oktober dan November 2017. Namun, hal itu lebih disebabkan karena adanya aturan transaksi nontunai di jalan tol.

Tidak hanya sebatas untuk pembayaran sarana transportasi saja, tapi kita juga dapat menggunakan uang elektronik tersebut untuk membayar di minimarket atau store yang bekerja sama dengan uang elektronik tersebut. Semakin menyenangkan bukan.

Namun kemudahan ini sering kali membuat kita terlena dan menjadi salah satu faktor tercipta kebiasaan konsumtif alias lebih boros. Kok bisa ya dengan uang elektronik yang seharusnya mempermudah kita bertransaksi tapi malah memicu perilaku boros, berikut ulasannya.

Tidak Digunakan Sesuai Tujuan
Umumnya anda memilik uang elektronik digunakan untuk membayar sarana transportasi seperti KRL atau Bus. Sudah seharusnya anda menggunakan untuk hal tersebut, sehingga anda dengan jelas dapat mengetahui berapa besar bulanan transportasi anda.

Namun yang terjadi tidaklah hanya untuk membayar transportasi saja karena ketika sedang menunggu di stasiun kereta, anda akan melihat booth/ store yang menawarkan promo bila membayar dengan uang elektronik tertentu.

Lalu apa yang anda lakukan? Ya bisa jadi anda akan tergiur akan promosi tersebut dan akhirnya membeli dengan uang elektronik.

Bisa kita bayangkan bila ini anda lakukan terlalu sering. Yang ada malah bukan membuat untung, tapi membuat pengeluaran anda semakin boros. Seperti diungkapkan oleh David Bach, seorang penulis sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat mencetuskan istilah latte factor untuk pengeluaran-pengeluaran itu.

Latte factor mengacu pada pengeluaran kecil yang sifatnya rutin, tetapi sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa ditiadakan. Istilah latte diambil Bach dari secangkir kopi. Menurutnya, kopi, adalah pengeluaran skala kecil yang jika dijumlahkan dalam sebulan, totalnya bisa lebih besar dari anggaran menabung bulanan anda.

Coba kita bayangkan bila setiap sore seorang pekerja memiliki kebiasaan membeli jajanan di mini market selagi menunggu kereta KRL di stasiun, katakanlah harga rata-ratanya Rp 20 ribu. Dalam 20 hari kerja, ia akan menghabiskan Rp 400.000 untuk jajanan tersebut. Jadi ketika ada godaan promo hadir untuk pengguna uang elektronik, bisa saja ini menjadi sumber kebocoran anda selama ini.

Tidak Menyadari Uang Elektronik = Uang Tunai
Seringkali ketika kita mengisi ulang/ Top Up uang elektronik dengan nominal yang langsung besar. Anda bertujuan agar tidak perlu bolak balik isi ulang karena menyita waktu dan ingin menghemat uang administrasi top up tersebut.

Namun yang terjadi adalah anda lagi-lagi merasa terlena merasa uang elektronik masih banyak dan seakan itu bukan uang tunai sehingga anda dengan mudah menggunakannya untuk membayar yang lain.

Lagi-lagi anda melenceng dari tujuan anda memiliki e-money. Ini sama halnya dengan saldo anda di ojek online. Ketika anda merasa memiliki saldo banyak, dan seketika anda melihat fitur makanan.

Nah besar kemungkinan anda akan membeli dan membayar dengan saldo tersebut. Di mana awalnya anda tidak berniat membeli makanan, namun karena sedang iseng melihat aplikasi dan merasa punya saldo, anda melakukannya dengan mudah.

Maka perlu kita sadari bersama bahwa saldo pada uang elektronik kita tersebut merupakan uang tunai juga yang berlaku di tempat-tempat tertentu. Maksud anda ingin sekali top up besar agar hemat, tapi malah menjadi lebih boros.

Kebiasaan seperti ini kebanyakan menjangkiti generasi milenial. Ini karena generasi milenial sudah dimanjakan dengan kecanggihan teknologi sehingga dengan mudah dan tanpa repot dapat memesan makanan yang menarik di mata, kemudian upload di social media.

Akibatnya, para generasi milenial kerap mengeluarkan uang termasuk uang elektronik untuk sekadar memuaskan nafsu atau mengikuti tren yang sedang happening. Besar kemungkinan penyebabnya adalah pengaruh dari lingkungan.

Jika setiap hari ada teman-teman yang mengajak untuk nongkrong di coffee shop, maka secara tidak sadar kita akan ikut terus. Ditambah lagi ada iming-iming buy 1 get 1 dengan kartu tap uang elektronik anda, wahh bisa-bisa makin menarik hati.


Tak kala pentingnya ketika kita menyadari bahwa uang elektronik ini adalah uang tunai kita juga, sehingga kita juga harus waspada dengan tindakan kejahatan yang terjadi. Bila kita rutin mengisi dengan nominal cukup besar, katakanlah lebih dari Rp 300.000.

Bila uang elektronik ini hilang, tentu tidak menjadi tanggung jawab pihak penerbit, itu merupakan murni kelalaian anda dan uang elektronik tersebut bisa langsung dipakai oleh siapa saja yang menemukan.

Contoh kasus yang beberapa kali terjadi adalah ketika naik taxi online dan harus membayar tol, kita memberikan kartu tap tersebut, dan tanpa kita sadari, kartu tap milik kita yang masih memilik saldo banyak ditukar oleh oknum nakal ini dengan kartu tap alias uang elektronik miliknya yang tidak bersaldo.

Wah anda bisa membayangkan bukan ketika akan melakukan transaksi selanjutnya misal naik transjakarta atau kembali naik taxi online, namun saat akan di tap di gerbang tol, saldo anda sudah tidak ada alias ditukar oleh oknum tadi. Maka memilih gambar yang unik untuk uang elektronik anda, bisa menjadi solusi sehingga tidak mengalami hal serupa.

Bijak Menggunakan Uang Elektronik
Pikirkan kembali bila anda ingin menggunakan uang elektronik untuk berbelanja atau jajan sehingga tercipta pengeluaran latte factor seperti di atas. Memang lebih praktis dan mudah, tinggal tap saja dan sudah terbayar.

Namun ini dapat memicu perilaku konsumtif tadi. Padahal dari jajan-jajan cantik yang tadi, ada potensi dana yang bisa ditabung atau bahkan diinvestasikan lho yang berdasarkan beberapa riset dan fakta bahwa dalam beberapa tahun ke depan para generasi millennial atau pengguna mayoritas uang elektronik ini, akan mengalami kesulitan dalam memiliki aset akibat memiliki gaya hidup yang cenderung boros.

Ditambah ada Sebuah Survei bertajuk 'Share of Wallet' oleh Kadence International Indonesia yang menunjukkan masyarakat di Indonesia hanya menyisihkan rata-rata 8% dari penghasilannya untuk tabungan. Sudah cukup terbayangkan dengan hal-hal kecil seperti dari uang elektronik ini bisa menjadi pemicu untuk gaya hidup yang boros.

Maka sangatlah bijak jika Anda berpikir panjang terlebih dahulu sebelum akan menggunakan uang elektronik tersebut.


Misalnya, apakah barang-barang tersebut penting? Apakah kebutuhannya mendesak? Apakah bermanfaat untuk jangka panjang atau tidak?

Jika tidak, sebaiknya anda tidak menggunakan uang elektronik tersebut dan menggunakannya sesuai dengan tujuan anda, yaitu transportasi. Gunakan uang elektronik dengan disiplin dan anda akan terhindar dari kebiasaan boros.

Anda mungkin tidak menyangka bahwa hal kecil seperti uang elektronik justru bisa menjerumuskan anda ke masalah keuangan.

Apalagi hal lainnya yang lebih besar? Itu sebabnya sebaiknya anda belajar untuk mengelola keuangan dan investasi yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia https://ow.ly/NbPy30gC3Dy atau tim AAM & Associates http://ow.ly/pxId30gC3BB.

Di Jakarta dibuka workshop rutin bulanan Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan sehari dan Belajar Menjadi Kaya Raya dengan Reksa Dana.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning, kelas baru di bulan Juli awal.


Siap-siap juga awal bulanan Ramadan ada kelas Perencanaan Keuangan Syariah juga, info http://bit.ly/IFP0518, kelasnya hanya setahun sekali lho di bulan Ramadan saja.

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik t.me/seputarkeuangan.

Happy Planning. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed