img_list
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 18 Sep 2018 11:17 WIB

Bea Impor Dinaikkan, Begini Dampaknya untuk Investasi Kamu

Ellen May - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Baru-baru ini, pemerintah kembai menempuh kebijakan baru untuk mempertahankan laju rupiah dengan menambah jumlah devisa yang masuk ke dalam negeri, salah satunya dengan cara menaikkan bea impor. Seperti apakah detail dari kebijakan ini? Lalu, saham apa saja kah yang akan terkena dampaknya?

Pajak PPh Resmi Dinaikkan

Pemerintah akhirnya secara resmi telah meluncurkan aturan baru terkait kebijakan pajak penghasilan (PPh) guna mengendalikan impor. Kebijakan ini diambil untuk merespon kondisi nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan sebagai akibat dari melebarnya defisit neraca transaksi berjalan (CAD) yang tercatat sebesar US$ 13,5 miliar atau setara dengan 2,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Adapun 3 inti dari kebijakan pajak tersebut ialah:
1. Barang mewah, seperti mobil CBU dan motor besar sebanyak 210 item komoditas tarif PPh naik dari 7,5% menjadi 10%.
2. Barang konsumsi yang sebagian diproduksi di dalam negeri, seperti elektronik (dispenser air, pendingin mangan, lampu), keperluan sehari hari seperti sabun, sampo. kosmetik, serta peralatan masak/dapur, dengan total sebanyak 218 item komoditas naik dari 2,5% menjadi 10%.
3. Barang yang digunakan dalam proses produksi dan keperluan lainnya seperti bahan bangunan (keramik), ban, peralatan elektronik audio-visual (kabel, box speaker), produk tekstil (overcoat polo shirt, swim wear) dengan total sebanyak 719 item komoditas naik dari 2,5% menjadi 10%.

Pemerintah sendiri mengumumkan bahwa penerapan kenaikan tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 atas 1.147 komoditas impor ini akan mulai berlaku pada 12 September hari ini.

Lalu, apakah sentimen ini akan berdampak positif atau negatif?

Sebenarnya kebijakan ini akan memberikan dampak negatif, terutama untuk beberapa perusahaan yang masih mengandalkan bahan impor untuk memproduksi barang jadinya. Tarif PPh yang meningkat akan memaksa perseroan untuk mengeluarkan modal kerja yang lebih besar yang dapat melukai usaha menengah hingga distributor kecil.

Namun, dalam jangka panjang kebijakan ini harusnya akan memberikan dampak positif, lantaran nilai jual produk akan menjadi lebih besar akibat kenaikan pajak PPh tersebut. Terlebih lagi, kebijakan pemerintah meningkatkan tarif impor sebenarnya dapat memberi insentif bagi pemilik bisnis untuk mengajukan pajak hanya 37% dari tingkat partisipasi (participation rate) saat ini.

Lalu, saham-saham apa saja yang terkena dampak aturan baru ini?

Beberapa saham yang cukup terpengaruh oleh kebijakan ini antara lain PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Indofood CBP Tbk (ICBP), PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), dan PT Delta Djakarta Tbk (DLTA).

Lalu, bagaimana dengan beberapa saham bluechip, terutama ASII, UNVR dan ERAA yang produknya termasuk ke dalam list kenaikan PPh?

Kebijakan ini berpotensi hanya berdampak minim untuk ke-3 saham tersebut. Saham ASII misalnya, meskipun ada beberapa komponen yang masih diimpor, PT Astra International Tbk (ASII) mengatakan bahwa mayoritas kendaraan roda empat (4 wheels) mereka diproduksi secara lokal.

Pada Juli 2018, ASII mengimpor hanya 17.885 unit kendaraan roda empat atau 5.5% dari total penjualan perseroan. Pada periode yang sama, ASII melalui anak usahanya mengekspor 114,84 ribu
unit kendaraan Toyota dan Daihatsu.

Untuk UNVR, perseroan mengatakan bahwa 99% produk shampoo dan sabun perseroan diproduksi secara lokal. Sebagai distributor dan pengecer produk konsumsi ritel, perseroan memiliki 9 fasilitas produksinya di dalam negeri. Selama 5 tahun kedepan, UNVR juga menargetkan untuk mengalokasikan anggaran belanja modal US$ 500 juta untuk memperluas fasilitas produksi perawatan, makanan dan produk rumah tangganya.

Hal yang sama juga berlaku untuk ERAA. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan pada kuartal II 2018, kontribusi pendapatan terbesar perusahaan berasal dari penjualan ponsel dan tablet, terutama merek Xiaomi dan Samsung dengan persentase hingga 35,54% dan 26,09%, yang semuanya dibeli dari lokal dan dalam bentuk rupiah. Sedangkan produk Apple yang dikenakan tarif impor PPh hanya sekitar 9,60%. Jadi dampaknya tidak terlalu signifikan. (dna/dna)
Klik di sini untuk mengirimkan pertanyaan yang ingin dikonsultasikan dengan kami. Konsultasi seputar perencanaan keuangan, properti dan UKM.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com