Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 03 Okt 2018 16:31 WIB

Heboh Ratna Sarumpaet Operasi Plastik, Begini Cara Ngumpulin Biayanya

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Operasi plastik menjadi kata yang ramai diperbincangkan hari ini. Itu karena Polisi mengungkap penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet tidak benar, dia hanya melakukan operasi plastik.

Operasi plastik sendiri belakang memang menjadi populer di kalangan masyarakat kekinian. Berbagai alasan orang melakukannya. Korea Selatan menjadi negara paling banyak masyarakatnya yang melakukan operasi plastik.

Namun operasi plastik tidak murah. Dibutuhkan biaya yang besar untuk menggunakan jasa medis itu. Lalu bagaimana bijaknya mengumpulkan uang untuk membiayai operasi plastik yang besar itu? Mari kita lihat dari sisi perencanaan keuangannya.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno menjelaskan untuk menentukan prioritas operasi plastik dalam pengelolaan keuangan harus melihat dari tingkat kebutuhannya. Operasi plastik bisa menjadi sangat penting bagi orang yang mengalami cacat penampilan, baik dari lahir atau karena kecelakaan.

"Kalau alasan kesehatan ya sifatnya urgent. Maka harus dilakukan. Contoh karena kecelakaan, atau fisik bawaan," katanya kepada detikFinance, Rabu (3/10/2018).



Jika mengalami cacat penampilan, maka bisa jadi mempengaruhi masa depannya. Seperti sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan kondisi fisik yang kuranf sempurna. Jika kondisi seperti itu Mike menyarankan agar menyiapkan pos tabungan prioritas.

"Kalau memang jadi prioritas berarti itu jadi tujuan menabung yang utama. Langsung saja sisihkan 20% dari pendapatan untuk menabung untuk biaya operasi plastik," terangnya.

Operasi menjadi tidak penting bagi orang yang memiliki fisik sempurna namun merasa tidak percaya diri dengan penampilannya. Akan tetapi hal itu boleh dilakukan asalkan, kebutuhan hidupnya sudah tercukupi.

"Selama anda tidak ngutang boleh saja dilakukan. Asalkan kebutuhan utama sudah dicukupi. Seperti kewajiban keluarga dan cicilan, itu boleh dilakukan. Jadi yang tidak boleh jangan sampai berhutang. Karena risikonya juga besar," tegasnya.

(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed