Antara Kebutuhan, Keinginan dan Promo yang Tak Datang Dua Kali

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Rabu, 10 Okt 2018 06:58 WIB
Ilustrasi Foto: Rahmi Anjani/Wolipop
Jakarta - Lagi buka laptop mau nulis artikel untuk kolom Perencana Keuangan saya di detikFinance, lalu buka-bukalah Twitter untuk mencari ide tulisan yang segar. Eeeeh dilala langsung dapat.

Dapat forward-an dari akun @OverheardJkt yang di-forward akun @Windumuktiw yang isinya (saya copy paste ya) "Kita tuh sekarang harus bisa bedain mana yang kebutuhan, keinginan, dan mana promo yang ga dateng dua kali!"

Saya rasa ini adalah pertanyaan yang ada di banyak benak orang-orang di Indonesia. Apalagi di kota besar mengingat jumlah mal yang banyak seperti di Jakarta.

Mengapa demikian? Karena di kota besar seperti Jakarta inilah sering berlangsung promo-promo, sale dan midnight sale yang sering menggoda "iman belanja" masyarakat di Indonesia. Tapi di zaman sekarang pun tidak hanya kota besar yang memiliki mal yang jumlahnya banyak tersebut.

Dengan kemajuan teknologi dan adanya online shopping alias belanja secara online, maka godaan belanja karena promo pun bisa menjangkit ke semua orang terutama yang aktif secara online.

Lalu bagaimana cara membedakan antara kebutuhan, keinginan dan promo yang tak datang dua kali (menurut versi anda). Saya akan bahas satu persatu agar bisa dipahami lebih detil.

Promo Tak Datang Dua Kali
Saya pribadi tidak setuju dengan pernyataan ini. Kata siapa promo tidak datang dua kali? Fakta dan statistik menunjukkan bahwa Indonesia salah satu negara (atau bahkan satu-satunya negara) di seluruh dunia yang paling sering melaksanakan diskon, sale atau promo.

Seperti yang sudah sering saya bahas sebelumnya, di Indonesia setiap ada momen, seperti tanggal merah, maka di situlah akan ada diskon dan promo.

Di luar itu sendiri ada yang namanya midnight sale dan itu bisa dilakukan 2-3x per tahun. Belum lagi kita bicara promo belanja online.

Jadi kata siapa promo tak datang dua kali? Kalau anda berpikiran seperti ini sepertinya anda sedang halusinasi. Anda mungkin beragumentasi bahwa barang yang akan anda beli sudah "hilang" alias diambil orang lain atau tidak bisa anda beli lagi.

Well, jangan takut kehilangan barang karena pasti akan ada barang-barang baru yang lebih baik dan up to date yang bisa anda beli lagi.

Argumentasi ini tidak berlaku untuk produk elektronik termasuk gadget (smartphone dan laptop) serta pakaian alias busana. Mengapa demikian?

Pertama, hal-hal yang berbau teknologi biasanya daya pakainya akan pudar setelah 6-12 bulan? Mengapa? Karena setelah itu akan muncul teknologi baru.

Itu sebabnya apabila anda perhatikan smarphone selalu keluar versi baru minimal setiap setahun sekali. Alangkah naifnya bila anda setiap tahun harus ganti telepon genggam karena keluar yang baru, sementara anda beli yang lama dengan menggunakan cicilan dan cicilannya belum lunas.

Sementara pakaian modelnya selalu berganti-ganti sesuai dengan musimnya. Ketika anda kemudian terikat pada suatu pakaian yang musiman, maka usia pakai pakaian anda hanya akan bertahan 1 musim alias sekitar 4-6 saja. Oleh sebab itu selalu menggunakan pakaian yang abadi yang bisa dipakai dalam jangka waktu lebih lama dan bisa diulang-ulang.

Kebutuhan
Banyak orang gagal untuk membedakan antara kebutuhan vs keinginan. Padahal untuk mengenali kebutuhan sendiri sebenarnya sangat simple. Intinya adalah ketika kebutuhan anda tidak terpenuhi maka hal ini bisa berdampak jelek bagi kesehatan, tubuh, mental, bahkan bisa berakibat fatal, celaka atau bahkan kematian. Ketika hal itu terjadi maka hal tersebut bisa dikategorikan ke dalam kebutuhan.

Orang biasanya mengkaitkan kebutuhan dengan Sandang, Pangan dan Papan. Mengapa demikian? Karena dari kecil kita sudah diajarkan seperti itu.

Tapi sebenarnya tidak sesimpel itu saja. Akan tetapi kebutuhan dasar umat manusia yang dibutuhkan memang adalah kembali ke sandang, pangan dan papan tadi. Meskipun joke-nya kids jaman now juga punya kebutuhan tambahan mereka yaitu quota.

Keinginan
Nah, apapun selain yang disebutkan diatas sebagai kebutuhan maka masuk ke dalam kategori keinginan saja. Keinginan selalu dapat anda tunda dan tidak berdampak negatif ke diri anda. Biasanya keinginan inilah yang sering mengganggu keuangan bulanan anda. Keinginan biasanya tidak ada batasannya.


Itulah sebabnya keterampilan untuk bisa membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi penting dan vital. Dan keterampilan tersebut bisa dipelajari dengan mengikuti workshop perencanaan keuangan dan investasi yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.

So, antara kebutuhan, keinginan dan promo? Kira-kira mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditinggalkan? Harusnya sudah bisa dooong memilih di antara ketiga hal tersebut.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)