Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 25 Okt 2018 08:05 WIB

Berinvestasi Pakai Uang Sisa (1)

Mohamad Taufiq Ismail - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Belum lama ini, seorang rekan saya baru saja berkonsultasi perihal perencanaan keuangan pribadinya. Rekan saya tersebut, sebut saja Ardan, adalah seorang pria berusia 38 tahun, pekerjaan sebagai karyawan BUMN.

Ardan memiliki istri berusia 35 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta. Mereka sudah menikah selama 10 tahun dan punya 3 anak.

Pada awalnya Ardan bertanya kepada saya perihal investasi di pasar modal, yaitu saham. Ardan tertarik untuk berinvestasi di saham karena dia ingin uangnya bertambah banyak.

Maka Ardan pun bertanya kepada saya saham apa yang bagus, kapan waktu membeli yang tepat, dan lain sebagainya. Apalagi dia telah mendengar masukan dari rekannya yang sudah berkecimpung di dunia saham, bahwa saat ini adalah saat yang tepat karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.

Setelah saya jelaskan panjang lebar mengenai saham, bagaimana cara memilih saham, bagaimana caranya melakukan analisa saham secara teknikal dan fundamental, kemudian saya bertanya balik kepada Ardan, kapan Ardan akan menghubungi perusahaan sekuritas untuk mulai berinvestasi di saham? Jawaban dari Ardan adalah ketika dia punya uang sisa.

Jawaban ini cukup mengejutkan bagi saya, karena dalam pandangan saya, Ardan yang bekerja di sebuah BUMN bidang energi ini seharusnya memiliki pendapatan yang boleh dibilang cukup besar.

Apalagi ditunjang dengan istrinya yang juga memiliki penghasilan. Namun kenyataannya untuk melakukan investasi pun ternyata Ardan tidak memiliki uang.

Padahal sebelumnya saya sudah menjelaskan bahwa untuk melakukan investasi di instrumen saham, maka jumlah dana awal yang dibutuhkan tidaklah besar. Cukup membuka rekening investasi di perusahaan sekuritas, dan kemudian mengisi rekening investasi tersebut dengan dana investasi kita.

Berapa jumlahnya? Ya terserah kita, apabila kita ingin membeli saham sebuah perusahaan yang per lembar sahamnya seharga Rp 500, maka tentu kita harus menyediakan uang dalam rekening investasi sebesar Rp 50.000 untuk membeli saham perusahaan tersebut sebanyak 1 lot.

Karena peraturan di Bursa Efek Indonesia mengharuskan nasabah membeli moinimal sejumlah 1 lot, yaitu 100 lembar. Artinya Rp 500 per lembar dikalikan 100 lembar sama dengan Rp 50.000.

Nah, saya kemudian berpikir, jika untuk membeli saham senilai Rp 50.000 saja Ardan masih enggan menyediakan dananya, apalagi untuk mencapai tujuan keuangannya ya?


Ardan beralasan karena biaya sekolah ketiga anaknya cukup besar. Belum lagi les-les yang diikuti anaknya. Ardan juga mengeluhkan anak-anaknya yang selalu meminta dibelikan mainan setiap kali mereka pergi ke mal. Belum lagi untuk makan siang sekeluarga saat di mal tersebut.

Semua hal tersebut menguras gajinya. Untung saja istrinya juga bekerja sehingga cicilan rumah masih dapat dibayar tepat waktu. Apakah Anda juga memiliki kondisi yang sama dengan Ardan sekarang ini? Sulit berinvestasi?

Jika iya, simak artikel berikut ini untuk mencari solusinya.

Yang harus kita sadari adalah bahwa investasi di saham itu mempunyai risiko yang relatif tinggi dan tidak untuk semua orang. Itulah sebabnya anda sebaiknya belajar terlebih dahulu dengan mengikuti workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.

So jadi artikel yang mana yang harus anda ikuti? Artikelnya akan dibahas tuntas pada artikel sambungan berikutnya.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed