Follow detikFinance
Rabu, 31 Okt 2018 06:56 WIB

Berinvestasi Pakai Uang Sisa (2)

Mohamad Taufiq Ismail - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Seperti yang kita ketahui bersama, untuk melakukan investasi tentu diperlukan modal, atau dana untuk berinvestasi. Baik itu di instrumen saham maupun instrumen lainnya, seperti obligasi, properti, dan bisnis.

Nah, bagaimana jika kasusnya kita sudah kehabisan uang untuk berinvestasi karena uangnya sudah kita gunakan untuk keperluan yang lain, belanja, SPP anak, transportasi, pembayaran utang dan keperluan penting lain.

Salah satu solusinya adalah dengan mengeluarkan dana investasi kita tersebut di awal. Jadi tidak ada lagi cerita kita kehabisan dana untuk berinvestasi, karena kita telah melakukan investasi tersebut di awal setelah kita menerima penghasilan.

Dalam hal ini kita harus melakukan seleksi prioritas, mana yang menjadi pos pengeluaran terpenting yang harus didahulukan terlebih dulu.

Mari kita coba bahas satu-persatu jenis pengeluaran kita dan tentukan ada di kelompok mana pengeluaran untuk investasi. Lho, Anda mungkin bertanya-tanya, kan ini saya mau investasi, kok malah jadi pengeluaran?

Tenang pembaca, jadi jika di artikel ini dikatakan pengeluaran, maka artinya uang yang kita keluarkan dari penghasilan kita. Coba Anda pikir, untuk investasi tentu menggunakan uang bukan?

Artinya kita mengeluarkan uang dari kantong kita untuk masuk ke instrumen investasi. Meskipun rekening investasi tersebut masih atas nama kita, tapi sebaiknya kita tidak menggabungkan rekening investasi tersebut dengan rekening utama atau rekening belanja kita.

Hal ini kelak akan berguna untuk memonitor berapa saldo investasi kita sekarang. Itulah mengapa kita harus mengelompokkan investasi sebagai salah satu pos pengeluaran.

Nah, apa saja jenis pengeluaran kita? Saya mencoba mengelompokkan pos-pos pengeluaran ke dalam lima kelompok utama. Sebenarnya sih bebas saja ya, mau dijadikan satu atau empat kelompok pun juga bisa, yang penting Anda bisa membedakan secara jelas peruntukannya.

Kelompok pertama adalah pengeluaran sosial. Pengeluaran ini meliputi pengeluaran kita yang terkait amal dan hal-hal sosial lainnya. Contohnya adalah pengeluaran untuk zakat, sedekah, perpuluhan, dan sumbangan. Anda juga bisa memasukkan angpao pernikahan dalam kelompok pengeluaran ini.

Kelompok pengeluaran kedua adalah pembayaran kewajiban. Apa itu kewajiban? Yaitu utang. Anda mungkin memiliki utang kartu kredit? Utang kredit pemilikan rumah? Utang kepemilikan kendaraan bermotor? Atau jenis utang-utang lainnya, seperti utang kredit panci mungkin?

Memangnya masih ada ya kredit panci? Mungkin saja, lha wong harga panci sekarang bisa jutaan rupiah dan Anda membelinya menggunakan cicilan kartu kredit selama 6 bulan, hehehe... Maka untuk jenis pengeluaran untuk pembayaran kewajiban ini Anda masukkan ke dalam kelompok pengeluaran kedua.


Bisa membayangkan tidak ada beberapa jenis pengeluaran? Kalau bingung anda bisa melihat contoh pengeluaran-pengeluaran tersebut dengan cara ikut workshop perencanaan keuangan dan investasi yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed