Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 25 Feb 2019 07:47 WIB

Hedonic Treadmill: Terlihat Keren tapi Sebenarnya Kere (1)

Baratadewa Sakti Perdana - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Dalam bahasa orang bule, selalu merasa kurang puas dengan yang sudah dimiliki, sering disebut dengan istilah 'hedonic treadmill'. Apabila diartikan kata per kata, hedonic berarti kita happy, bersenang-senang, atau mencari bahagia. Sedangkan treadmill adalah alat fitness yang sering digunakan untuk olahraga lari-lari di tempat.

Lalu apa hubungannya hedonic sama treadmill? Tentu ada hubungannya, dan ternyata Hedonic Treadmill merupakan salah satu penyakit psikologis yang membuat kita sulit untuk bahagia. Dulu istilah ini diawali dari sebuah konsep yang bernama hedonic adaptation.

Lantas apa pula yang dimaksud hedonic adaptation itu? Yaitu konsep yang diperkenalkan oleh dua orang ilmuwan bernama Philip Brickmann dan Donald Campbell di tahun 1971 dalam bukunya yang berjudul hedonic relativism and planning the good society. Inti dari konsep hedonic adaptation adalah bagaimana seseorang ternyata cenderung kembali pada standar kebahagiaan hidup yang sebelumnya.

Sebagai contoh, apabila anda adalah seorang penggemar fashion. Dulu, saat bisa membeli pakaian baru untuk berangkat kerja, rasanya sudah bahagia banget. Tetapi lama kelamaan rasa itu memudar ketika ada penawaran pakaian baru model blus longdress yang elegan, saat itu Anda berkesimpulan bahwa kebahagiaan akan bertambah jika telah memiliki blus longdress yang elegan tersebut.

Setelah dibeli, ternyata kebahagiaan itu hanya beberapa bulan atau bahkan hitungan hari saja karena ada penawaran baru berupa busana muslim model terkini, hitung-hitung bisa buat persiapan lebaran besok (mungkin itu yang ada di benak Anda). Anda merasa bahwa kebahagiaan akan bertambah seiring dengan memiliki busana muslim model terbaru tersebut.

Atau contoh lain misalnya ketika Anda berpenghasilan Rp 7 juta per bulan, memiliki dan berkendara motor matic kelas 150 cc sepertinya keren. Namun kemudian ketika penghasilan Anda naik menjadi Rp 15 juta per bulan, rasa-rasanya akan semakin keren setelah ganti menjadi mobil LMPV.

Dan perasaan bahagia seperti ini akan terulang, terulang, dan terulang kembali seterusnya hingga kemudian sulit sekali untuk bisa dihentikan.

Nah, fenomena inilah yang kemudian dikaitkan dengan treadmill. Kenapa? Karena treadmill itu identik dengan orang yang berlari di tempat yang sama.

Banyak sekali orang yang terjerumus dan meyakini bahwa meningkatkan standar hidup dari hari ke hari akan semakin meningkatkan rasa bahagia mereka, tetapi nyatanya apa yang mereka rasakan itu semu dan persis seperti sedang berjalan di treadmill, kebahagiaannya jalan di tempat.

Ini berarti bahwa Hedonic Treadmill mengakibatkan ekpekstasi seseorang terhadap kebahagiaan hidupnya akan meningkat seiring dengan meningkat pula gaya hidupnya karena peningkatan penghasilannya.

Mari kita coba membayangkan berdiri diatas Treadmill, ketika kecepatan berjalan yang awalnya sedang sedang saja tidak mengganggu keseimbangan tubuh kita untuk tetap berada di atas Treadmill, namun kemudian saat kecepatannya ditingkatkan bahkan menjadi sangat cepat, alih -alih ingin makin cepat dan makin cepat, yang ada malah keseimbangan tubuh kita yang goyah dan akhirnya karena tak mampu mengimbangi kecepatan Treadmill, kita pun akan terjatuh.

Dan fakta menunjukkan bahwa betapa pun cepatnya berlari di atas Treadmill, keberadaan tubuh kita sesungguhnya tetap stagnan alias ajeg tak berpindah dari mesin Treadmill.

Prinsip dari konsep Hedonic Treadmill ini adalah: 'makin banyak, semakin baik'. Maka semakin banyak mobil yang dimiliki tentu akan semakin keren.

Makin banyak properti yang dibeli, rasanya akan semakin nyaman. Dan seterusnya hingga seandainya pun ada gunung emas yang bisa diklaim sebagai miliknya, kemudian setelah mendapatkan itu bila air laut berubah menjadi emas, pasti akan diburu juga.

Mirip seperti konsep banyak orang yang mengatakan bahwa ketika uang sedikit maka dia tidak bisa menabung tapi kalau gaji naik 'mungkin' bisa nabung, kenyataannya tidak bisa. Ada yang salah dengan cara pengelolaan keuangan khususnya cash flow alias gaji bulanan.


Itu yang harus dipelajari melalui workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed