Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 12 Mar 2019 07:14 WIB

Tahun 2019 Ingin Hidup Hemat? Ini Tipsnya

Tetty Hutapea - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: Tim Infoografis: Fuad Hasyim Foto: Tim Infoografis: Fuad Hasyim
Jakarta - Mumpung masih di awal tahun, rasanya masih relevan untuk membicarakan resolusi di tahun yang baru ini. Resolusi adalah kata yang tidak asing terdengar setiap memasuki tahun yang baru.

Berbagai resolusi telah dibuat orang-orang dengan harapan hidup akan lebih baik di tahun yang baru ini.

Tidak dipungkiri semakin hari himpitan ekonomi makin terasa. Harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi. Kalau dulu uang Rp 100 ribu bisa membeli lauk, sayur dan bumbu. Tetapi belakangan ini uang Rp 100 ribu hanya cukup untuk membeli bumbu.

Nah sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang diberi otak untuk berpikir tentu jangan cepat menyerah dengan situasi seperti ini. Bagi yang banyak uang tentu ini tidak menjadi masalah karena kenaikan harga-harga tidak seberapa dibanding dengan pendapatan mereka tiap bulan.

Namun bagi keluarga yang berpenghasilan pas-pasan, kenaikan harga-harga bahan pokok ini sangat membebani keuangan mereka. Belum lagi harus memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya.

Sekali lagi jangan menyerah dengan situasi ini. Kita harus memakai akal budi kita untuk mengatasi situasi seperti ini.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghemat antara lain:

1. Mulailah bertanam sendiri sayur-sayuran di rumah. Kalau lahan terbatas, kita bisa menanam sayur di pot. Bibit nya bisa dibeli di toko tanaman. Atau bisa juga yang ditanam sisa sayuran yang dibeli di pasar.

2. Beberapa bumbu juga bisa ditanam sendiri seperti: kunyit, daun kemangi, sange-sange, cabai

3. Setiap belanja baik di pasar atau di super market, sebelum membayar pastikan apakah barang-barang tersebut benar-benar kita butuhkan? Misalnya makanan ringan atau minuman ringan sebelum dibayar pastikan apakah makanan dan minuman tersebut benar-benar kita perlukan? Apakah makanan-makanan tersebut membuat kita lebih sehat? Kalau jawabannya tidak langsung singkirkan.

4. Begitu juga kalau tergoda barang-barang sale. Kita sering tergoda untuk beli karena diskon yang besar padahal sebenarnya barang tersebut tidak benar-benar kita butuhkan. Hanya karena lapar mata saja kita tergoda untuk beli walaupun harganya murah tetap kita harus pikirkan kembali apakah barang-barang tersebut benar-benar kita butuhkan.

Kalau barang lama masih ada misalnya kaos dalam, pakaian dalam masih ada sebaiknya singkirkan barang tersebut dari keranjang belanja kita.

5. Begitu juga di akhir pekan, sebaiknya hindari jalan-jalan ke mal karena kita bisa tergoda untuk makan di mal padahal kita bisa makan di rumah. Pilihlah rekreasi murah meriah misalnya membawa anak-anak ke taman kota atau olahraga bersama di kompleks rumah.

6. Setelah aktivitas di luar rumah, ajak anak-anak untuk masak bersama. Sehingga acara wiken keluarga tidak kalah seru nya kalau harus bepergian ke mal atau tempat-tempat rekreasi lainnya.

7. Usahakan mencatat pengeluaran tiap hari paling tidak selama 2-3 bulan supaya ada gambaran kira-kira pengeluaran bulanan kita berapa. Anda pasti kaget ketika sudah mulai mencatat akan menemukan angka yang luar biasa yang selama ini kita tidak menduga pengeluaran bulanan kita berapa.

8. Supaya berasa hasil penghematan kita, maka setiap barang atau makanan yang tidak jadi dibeli seperti yang dijelaskan pada poin 3 dan 4, langsung sisihkan sejumlah uang yang harusnya kita keluarkan untuk beli barang atau makanan tersebut.

Masukkan dalam satu amplop dan kumpulkan tiap bulan. Dana ini bisa langsung ditabung di bank atau disimpan dalam amplop sehingga bisa digunakan untuk pengeluaran lain yang lebih penting misalnya uang sekolah anak-anak.

9. Terakhir tapi sangat penting, setiap menerima gaji tiap bulan langsung sisihkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan di masing-masing amplop. Yang paling utama disisihkan adalah tabungan minimal 10% dari penghasilan harus langsung disisihkan dan ditabung di satu rekening tersendiri.

Uang sekolah anak atau uang kursus kalau ada masukkan dalam satu amplop dan di awal bulan langsung lakukan pembayaran uang sekolah atau kursus kalau ada. Uang belanja dalam 1 bulan langsung masukkan dalam 1 amplop sehingga tiap belanja tinggal ambil dalam amplop tersebut.

Uang listrik, air, dll masukkan dalam 1 amplop. Begitu juga pengeluaran lainnya seperti uang arisan, uang rekreasi kalau ada masukkan dalam 1 amplop. Biasakan langsung melakukan pembayaran semua kewajiban-kewajiban di awal bulan. Kalau kewajiban sudah dibayar kita bisa tenang sepanjang bulan.

Masih perlu panik menghadapi harga-harga yang naik terus? Tentu saja dengan menggunakan uang dengan bijak masalah keuangan bisa diatasi dengan hati tenang. Percaya deh kalau kita bijak menggunakan uang maka ide-ide untuk mencari penghasilan tambahan juga akan datang sendiri.


Semua hal ini bisa anda pelajari dengan mudah dengan mengikuti workshop yang dilaksanakan oleh tim ARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.

Terakhir, saya teringat akan pendapat Bill Gates: Jika anda terlahir dalam kemiskinan itu bukanlah kesalahan anda, tapi jika anda mati dalam kemiskinan itu adalah kesalahan anda.

So? Masih pesimis untuk bisa merubah nasib? Itu salah anda! Optimislah!


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed