Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 13 Mar 2019 07:31 WIB

Segudang Masalah Keuangan Milenial (3)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Ilustrasi Foto: shutterstock Ilustrasi Foto: shutterstock
Jakarta - Kalau dalam artikel-artikel sebelumnya dibahas bahwa salah satu masalah utama keuangan bagi generasi milenial adalah hidup pas-pasan, di Amerika hal ini dikenal dengan istilah Living from Paycheck to Paycheck alias hidup nunggu gajian berikutnya. Pertanyaannya adalah kenapa banyak generasi milenial memaksakan hidup seperti ini?

Salah satu alasan utama mengapa hal ini terjadi adalah karena mereka punya utang yang terlalu banyak untuk mendukung gaya hidup mereka yang suka travelling, gonta-ganti gawai baru, makan dan ngopi di luar setiap hari dan lain sebagainya.

Milenial seperti ini harus cepat-cepat sadar, atau mereka malah terjatuh ke lembah kesulitan keuangan yang lebih parah lagi. Kunci utama dari permasalahan ini adalah belajar cara pengelolaan keuangan yang baik dan benar.

Nah, seperti apa sih yang harus dilakukan oleh generasi milenial? Yuk kita bahas.

Pertama, Lunasi Utang Konsumtif
Lunasi utang konsumtif, titik. Tidak ada basa-basi tidak ada pengecualian, anda harus lunasi utang konsumtif anda. Meskipun pada akhirnya anda harus jual barang, melunasi utang konsumtif membantu anda menghemat biaya hidup bulanan anda dari cicilan plus bunga pinjaman yang tidak kecil jumlahnya.

Bagaimana cara melunasi utang anda? Baca 2 artikel saya sebelum ini yang membahas strategi milenial melunasi utang.

Kedua, Jangan Bikin Utang Baru
OK utang kamu sudah lunas nih, sekarang kamu aman dari cicilan bulanan, biasanya kemudian timbul keinginan untuk membuat utang baru. Hal ini yang dilarang.

Kalau anda sudah berhasil melunasi utang lama anda untuk kemudian membuat utang baru berarti sama saja bohong. Anda akan kembali terjerat ke dalam lilitan utang dan akan membuat susah kehidupan bulanan anda karena anda wajib membayar cicilan bulanan yang diambil dari cash flow bulanan anda.

Ketiga, Tahu Mana Kebutuhan dan Keinginan
Tidak banyak juga milenial yang tahu apa bedanya antara kebutuhan dan keinginan. Padahal hal ini sangat vital dan fatal. Rata-rata generasi milenial terjerumus ke dalam kesulitan keuangan karena mereka lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan. Naaah apa dan bagaimana sih cara membedakan kebutuhan dan keinginan.

Saya akan berikan kata kuncinya yang bisa anda gunakan sebagai patokan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah ketika anda tidak memenuhi kebutuhan anda maka yang akan terkena akibatnya alias 'terluka' adalah fisik anda.

Sementara keinginan adalah ketika anda tidak memenuhi keinginan anda maka yang akan terluka adalah gengsi anda.

Clear? Jadi mulai dari sekarang belajarlah membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan

Keempat, Buat Anggaran yang Menyenangkan
Kesalahan yang sering dilakukan oleh banyak perencana keuangan baru (biasanya baru lulus nih) adalah memaksa anda untuk merubah gaya hidup anda secara drastis. Misalnya, jangan belanja bulanan terlalu banyak, stop makan di luar, atau hanya pergi bersama teman satu bulan sekali.

Tebak apa yang terjadi? Hal ini hanya bertahan sebulan saja sebelum anda kembali ke kebiasaan buruk anda sebelumnya, bahkan bisa lebih buruk lagi.

Anggaran adalah alat yang membantu anda untuk mengetahui ke mana uang anda terpakai, bukan alat untuk mengubah gaya hidup anda secara drastis (mungkin saja dibutuhkan perubahan secara drastis bila keuangan anda sudah bermasalah cukup parah).

Membuat anggaran bulanan harusnya dijadikan sebuah permainan seru. Misalnya, bila anda berhasil menghemat atau menabung 15% dari uang bulanan anda, maka anda berhak untuk menggunakan 10% dari 15% yang anda hemat itu untuk apapun bebas.

Atau bila anda berhasil menurunkan biaya ngopi anda sampai 30% per minggu maka anda berhak untuk mendapatkan segelas kopi susu kekinian. Atau permainan lain yang seru.

Kelima, Berhenti Sebelum Membayar
Hal ini sering saya praktikkan dan cukup ampuh untuk menurunkan kebiasaan belanja saya sampai dengan 50% bahkan sampai nol sama sekali. Bagaimana caranya?

Ketika saya sudah kalap belanja di mall dan bersiap untuk membayar ke kasir, saya biasanya berhenti sejenak kemudian membuka lagi barang-barang yang ingin saya beli (biasanya kemeja) terus mulai bertanya kepada diri saya, apakah saya butuh barang tersebut.

Apakah saya mempunyai barang yang sama atau warna yang mirip di rumah yang belum atau jarang saya pakai? Kenapa saya harus beli barang tersebut sekarang?

Apakah barang tersebut bisa saya tunda pembeliannya? Apakah bila saya menunda pembelian barang tersebut akan berdampak buruk ke diri saya.

Proses berhenti ini sering kali mujarab sebagai 'obat' penahan boros belanja saya. Anda boleh tiru dan praktikkan hal tersebut.


Mau cara lain yang juga mujarab? Belajarlah perencanaan keuangan dan investasi di kelas atau workshop yang dilaksanakan oleh tim ARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini.


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed