Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 03 Jun 2019 03:20 WIB

Tiket Mudik Mahal Mending Kredit Mobil, Benar atau Salah? (3)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Jakarta - Dalam 2 artikel sebelumnya telah dibahas fenomena mudik dengan kendaraan pribadi, meskipun dari artikel sebelumnya pernah kita lakukan perhitungan secara kasar kalau biayanya ternyata tidak murah-murah amat.

Bahkan bila dihitung waktu tempuh yang lama (akibat macet panjang), maka sebenarnya secara nominal sama saja atau bahkan lebih mahal dibandingkan naik pesawat.

Hanya saja dengan membawa kendaraan pribadi anda bebas berkelana di kota kelahiran anda tanpa harus menggunakan kendaraan umum atau pinjam/sewa kendaraan lagi.


Selain itu, efek lain yang sering dicari dari pemudik yang pulang dengan membawa kendaraan pribadi (baik itu mobil maupun motor) adalah gengsi bahwa mereka sudah sukses di kota besar sehingga bisa pulang dengan kendaraan pribadi. Nah hal ini yang kemudian menyebabkan banyak orang bela-belain mengambil kredit kendaraan untuk bisa dibawa mudik, dan hal ini adalah merupakan kesalahan, mengapa?

Utang Bersifat Konsumtif
Berutang untuk membeli kendaraan untuk mudik karena gengsi untuk bisa "nampang" ke teman-teman atau tetangga di kampung halaman sama saja dengan berutang untuk tujuan konsumtif. Oleh sebab itu hal ini salah.

Dalam teori Perencanaan Keuangan, utang diperbolehkan selama utang tersebut adalah utang produktif. Utang produktif adalah utang yang nilai asetnya akan meningkat seiring dengan waktu. Sementara bila anda membeli kendaraan maka nilai asset alias nilai kendaraan tersebut akan turun (tergantung jenis dan merek kendaraan).

Meskipun ada beberapa kendaraan yang nilai jual bekasnya sama seperti harga belinya dikarenakan harga beli baru dari kendaraan jenis yang sama akan naik dari tahun ke tahun.

Utang = Beban Cicilan
Beban berikutnya yang juga harus anda ketahui dan pahami adalah beban cicilan. Anda boleh saja senang dan bangga membawa pulang kendaraan dari hasil beli dengan cara mencicil tapi jangan lupa anda juga punya kewajiban untuk membayar cicilan bulanan setelah anda kembali ke kota anda. Pertanyaanya apakah anda sudah pernah berhitung apakah cicilan bulanan tersebut sudah diperhitungkan dan tidak mengganggu pengeluaran bulanan anda?

Kalau lihat dari cara membeli kendaraan dengan tujuan bisa mudik dan "nampang" dikampung halaman, kecil kemungkinan hal ini diperhitungkan dengan matang. Sehingga ketika anda sudah kemabli
ke kota dan menjalankan kehidupan kembali

Apa Yang Terjadi Bila Tidak Bisa Bayar?
Apa yang terjadi bila anda kemudian tidak bisa membayar cicilan? Yang pasti kendaraan anda kemudian akan disita oleh debt collector. Kemudian kondisi kredit anda akan menjadi kredit macet (kol 5) di Bank Indonesia dan OJK.

Setelah itu laporan kredit anda (dulu namanya Sistem Informasi Debitur atau SID di Bank Indonesia, sekarang di OJK berubah menjadi Sleek) anda akan menjadi buruk karena pernah ada kredit yang macet.

Akibatnya apa? Kedepannya anda tidak bisa lagi mengajukan kredit dalam bentuk apapun.


Berbeda dengan kredit personal lainnya seperti Kartu Kredit atau KTA anda masih bisa memperbaiki kredit ini dengan cara melunasi utang yang ada dan meminta bukti tanda lunas untuk dipakai memperbaiki kredit anda, Sementara kalau kendaraan maka kendaraan anda akan disita (istilahnya ditarik) untuk kemudian dijual kembali oleh perusahaan leasing, sehingga apabila anda kendaraan anda sudah terjual maka anda akan kehilangan kesempatan untuk bisa melunasi kredit anda.

Tidak bisa kredit kedepannya akan sangat menyulitkan dalam kehidupan anda dikarenakan biaya untuk membelian asset-aset besar membutuhkan dana yang tidak sedikit dan hanya bisa dikejar dengan
menggunakan kredit. Itulah sebabnya anda harus berhati-hati jangan ikutan trend mudik dengan kendaraan baru yang nanti pada akhirnya.

Mau tau teknik pengelola keuangan yang baik dan benar, ikuti workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning selain itu ada workshop Intermediate Financial Planning dan Advance Financial Planning. Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket).

Hanya di bulan Ramadhan saja (1x setahun) juga akan dibuka workshop Perencanaan Keuangan Syariah, info bisa dibuka disini http://bit.ly/RIFA19 . Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami "Seputar Keuangan" atau klik di sini . (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed