Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 16 Agu 2019 06:25 WIB

Mengatur Keuangan ala Keluarga Milenial (2)

Baratadewa Sakti P – Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta - Milenial identik dengan boros. Apalagi dengan adanya teknologi aplikasi yang memudahkan milenial belanja dengan ojek online atau belanja online dan melakukan pembayaran menggunakan e-wallet.

Oleh sebab itu pembahasan tentang milenial selalu menarik untuk diketahui dan dipahami. Lalu bagaimana sih cara mengatur keuangan milenial tersebut? Untuk mengetahui cara mengatur keuangan keluarga milenial agar tidak boros serta mendapatkan kunci sukses dalam mengatur keuangan keluarganya, mari simak langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Membuat Daftar Belanja Bulanan dalam 4 Kelompok Besar, yaitu :
a. Keinginan Rutin
b. Keinginan Tidak Rutin
c. Kebutuhan Rutin
d. Kebutuhan Tidak Rutin

2. Menentukan Anggaran Belanja Kebutuhan menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Kebutuhan Dasar Pribadi/Keluarga
b. Pos Anggaran Sosial
c. Pos Anggaran Investasi


3. Membuat daftar skala Prioritas Pembelanjaan bersama pasangan (bila sudah menikah) dimulai dari yang paling tinggi skala prioritasnya hingga yang paling rendah. Contoh kasus: Pak Firman (bukan nama sebenarnya) berdomisili di Pekalongan, adalah seorang pemilik startup bidang laundry, yang telah menikah dan saat ini baru dikaruniai satu orang anak seusia balita, tinggal dengan menyewa rumah kecil sederhana, memiliki kendaraan roda dua untuk bekerja, dari bisnisnya ia mendapatkan penghasilan bersih bulanan rata-rata sebesar Rp 3 juta. Pak Firman pada saat ini memiliki kewajiban membayar angsuran motornya sebesar Rp 400.000 per bulan.

Langkah Pertama, Keluarkan lah untuk kebutuhan yang tergolong prime cost lebih dahulu. Prime cost adalah biaya yang apabila tak terbayarkan akan menjadi masalah besar dalam kehidupan seseorang, antara lain tagihan listrik, tagihan air PDAM, tagihan BPJS Kesehatan, beras, gas Elpiji, keperluan harian sekolah anak dan sewa rumah kamar kos.


Dianggap rinciannya dihitung bulanan, dengan nominal Rp 200.000 untuk tagihan listrik, Rp 100.000 untuk tagihan PDAM, Rp 240.000 untuk tagihan tiga anggota keluarga pada BPJS Kesehatan kelas 1, Rp 150.000 untuk kebutuhan beras sebesar 15 kilogram (kg). Selanjutnya ada kebutuhan Rp 80.000 untuk pembelian gas Elpiji 3 Kg sebanyak empat kali, Rp 400.000 untuk anggaran persiapan bayar sewa rumah cara bayar tahunan Rp 300.000 untuk anggaran transportasi dan sisa Rp. 1.530.000.

Langkah Kedua, yaitu mengeluarkan dana untuk membelanjakan kebutuhan dengan kelas skala prioritas di bawah prime cost. Pos kebutuhan ini juga masih penting, hanya aja risiko gangguannya tidak segawat sebelumnya bila tidak dibelanjakan, antara lain adalah makanan jadi, kebutuhan dapur, angsuran KPR/KPM/utang produktif lainnya diusahakan maksimal 30%, pos dana darurat diharapkan sebesar minimal 10%, paket telepon dan internet, dan sedekah dengan target minimal 20% angka ini bisa berkurang disesuaikan dengan kebutuhan kita, akan tetapi jangan sampai nol sama sekali. Pertanyaannya, ketika kita membelanjakan uang pada pos-pos tersebut, apa saja sih prinsip yang harus kita pegang? Ini akan kita bahas di sambungan artikel berikutnya.

Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel.


Simak Video "Netizen Heboh Harta Anggota DPR Milenial yang Nggak Masuk Akal"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com