Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 11 Sep 2019 06:08 WIB

Utang Anda Termasuk Sehat atau Sakit? Cek di Sini

Prita Hapsari Ghozie - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Tidak semua utang adalah utang yang jahat. Ada utang yang bersifat produktif dan ada utang yang bersifat konsumtif. Utang produktif adalah utang sehat, yang dibuat dengan tujuan menambah manfaat dan membantu terwujudnya aset investasi.

Sedangkan, untuk pembelian aset konsumsi maka yang masih tergolong sehat adalah utang konsumtif yang memiliki nilai manfaat lebih panjang daripada masa pembayaran utang.

Nah, seperti apakah sebenarnya syarat utang yang baik atau utang yang sehat ini? Ini dia checklist-nya:

Utang yang diperuntukkan untuk menambah aset
Kenaikan harga properti, membuat banyak rumah tangga kesulitan dalam memiliki rumah tinggal. Jika menunggu sampai uang tercukupi seringkali menjadi mustahil. Apalagi aset properti biasanya memiliki kenaikan harga antara 10-20% setiap tahunnya, tergantung pada lokasi di mana Anda membeli properti.

Utang yang diperuntukkan untuk menambah modal usaha
Dengan tambahan modal, maka harapannya penghasilan usaha di masa depan akan lebih besar. Oleh sebab itu, utang yang dibuat untuk penambahan modal, masih termasuk ke dalam kategori utang yang sehat.

Namun, Anda tetap harus berhati-hati dalam memperhitungkan, karena diupayakan dengan adanya penambahan modal ini juga berpengaruh pada penambahan pendapatan. Sehingga, biaya & cicilan pinjaman harus bisa ditutup dari penambahan pendapatan.


Pembelian aset konsumsi dengan masa manfaat di atas 5 tahun
Beberapa kartu kredit akan menawarkan cicilan tetap atau bunga 0% untuk pembelian barang-barang tertentu, jika ternyata mendadak mesin cuci, TV atau alat elektronik di rumah yang biasa digunakan sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari rusak, maka Anda boleh berutang untuk membeli penggantinya.

Besaran total cicilan tidak melebihi 30% dari pendapatan
Apa pun utang yang diambil, baik untuk KPR/KPA, cicilan kartu kredit, dan lain-lain, sebaiknya jumlah cicilan pinjaman tidak melebihi dari 30% dari jumlah pendapatan bulanan. Namun, apabila Anda bekerja sebagai freelancer, sangat tidak disarankan mengambil pinjaman lain diluar KPR.

Pinjaman tidak untuk gaya hidup apalagi biaya hidup
Mengikuti gaya hidup tidak akan pernah ada habisnya dan tidak akan pernah cukup. Jadi kalau Anda membeli gadget atau memilih untuk menghabiskan waktu banyak di tempat kopi-kopi kekinian dengan berutang, atau membayar dengan kartu kredit, maka ini adalah suatu bentuk utang yang tidak sehat. Apalagi jika sampai membayar biaya harian dan biaya sekolah anak dengan pinjaman, juga tidak disarankan.

Live a beautiful life!


Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel.

Simak Video "Tips Mengelola Keuangan Ala Astrid Tiar"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com