Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 11 Nov 2019 07:47 WIB

Waspada Cashback Factor (1)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: istimewa Foto: istimewa
Jakarta - Anda pernah dengan yang namanya latte factor? Pasti tahu dong ya, di mana orang, kebanyakan generasi milenial membuang-buang uang untuk ngopi sore alias kalau di Indonesia dikenal dengan istilah ngopi cantik.

Mengapa ngopi yang puluhan ribu itu kemudian menjadi pembicaraan? Karena ketika saya dulu tinggal di Amerika, harga secangkir kopi itu hanyalah 25 sen atau setara dengan Rp 3.500 saja.

Kalaupun anda duduk di suatu diner (restoran 24 jam untuk sarapan, makan siang dan makan malam), maka harga secangkir kopi tidak lebih dari US$ 1 atau setara dengan Rp 14.000 dan itu pun anda bisa minum kopi sepuasnya alias all you can drink.

Nah ngopi cantik seperti di Starbucks atau Coffee Bean ini kemudian menjadi bermasalah ketika anda harus membayar US$ 5-7 untuk secangkir kopi atau setara dengan di atas Rp 60.000.

Mengapa orang mau membayar mahal 5-7x lipat untuk kopi yang mirip yang ditawarkan dari tempat-tempat terkenal tersebut? Sementara hal ini dilakukan secara rutin setiap hari. Hal inilah yang kemudian memicu lahirnya istilah Latte Factor tersebut.

Sementara dalam artikel sebelumnya saya membahas di Indonesia pun sekarang juga dimulai dengan adanya e-wallet factor. Apa itu e-wallet factor?

Secara sederhana adalah memulai kebiasaan berbelanja dengan menggunakan dompet digital sesuai dengan arahan pemerintah. Permasalahan yang muncul hampir sama dengan latte factor di mana orang-orang, di Indonesia, kemudian justru boros dalam membelanjakan uangnya karena factor kemudian bertransaksi dengan menggunakan dompet digital tersebut.

Bahkan transaksi toko online dan market place pun juga mempermudah proses pembayaran dengan menggunakan dompet digital ini.

Tulisan kali ini akan membahas kelanjutan dari e-wallet factor tadi, saya namakan dengan istilah cash-back factor. Yes, tidak bisa dipungkiri masyarakat di Indonesia dalam kurun waktu satu tahun terakhir sedang tergila-gila dengan yang namanya cash-back dari perbelanjaan mereka.

Lanjut ke halaman berikutnya >>>

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com