Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 14 Nov 2019 06:08 WIB

Waspada Cashback Factor (2)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: istimewa Foto: istimewa
Jakarta - Dalam artikel sebelumnya telah dibahas tentang Latte Factor dan E-wallet factor yang kemudian menyebaban terjadinya Cashback Factor. Bahwasanya kedua faktor di ataslah yang menyebabkan masyarakat banyak berbelanja dan menghambur-hamburkan uang.

Pertanyaannya sebenarnya adalah apa sih yang bisa menyebabkan orang belanja?

Dalam teori perencanaan keuangan keluarga dikatakan bahwa orang berbelanja sejatinya adalah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Permasalahan yang sering terjadi justru orang berbelanja karena memuaskan keinginan mereka.

Ini yang kemudian menyebabkan terjadinya ketimpangan. Banyak orang menjadi boros karena mereka tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Lalu bagaimana cara membedakan antara kebutuhan dengan keinginan agar anda tidak kemudian menjadi boros. Perencana Keuangan Bareyn yang dikenal sebagai Rey menyatakan bahwa ketika kebutuhan tidak terpenuhi maka yang terkena dampak atau "tersakiti" adalah fisiknya, sementara ketika keinginan tidak terpenuhi maka yang terkena dampak atau "tersakiti" adalah gengsinya.

Apabila anda secara disiplin menerapkan rumusan ini, maka sebenarnya tidak sulit bagi anda untuk mengatur pengeluaran dan mengerem belanja anda atau bahkan menghilangkan kebiasaan belanja boros anda.

Kembali ke pembahasan tentang e-wallet dan cashback diatas, maka pertanyaan yang kemudian timbul adalah, apa bonus cashback yang selama ini sering didengungkan sebagai bagian dari promo memberikan manfaat bagi anda?

Jawabannya adalah yes, bila anda bisa mengatur dan memanfaatkan cashback tersebut. Segala bentuk promo baik berupa diskon, cashback atau apapun bentuknya akan membeikan manfaat positif dari sisi keuangan apabila anda memang mempunyai kebutuhan untuk membelanjakan uang anda untuk hal tersebut.

Sebagai contoh, beberapa pasar swalayan sekarang sudah bekerja sama dengan e-wallet yang ada sehingga anda juga bisa memanfaatkan cashback dengan melakukan pembayaran dengan e-wallet di pasar swalayan tersebut.

Nah misalnya, anda haus dan harus membeli minuman berupa air dalam botol (kemasan). Minum dan membeli air adalah kebutuhan karena bila tidak dipernuhi maka tubuh anda akan kekurangan cairan (dehydrasi).

Ketika anda membayar minuman yang berharga Rp 3.000-4.000 tersebut dan menggunakan e-wallet dengan program cashback sebesar 30% atau setara Rp 900-1.200, maka sesungguhnya anda sudah mendapatkan manfaat dari promo tersebut, karena yang anda beli adalah suatu kebutuhan.

Akan tetapi apabila anda sedang berjalan di mall dan kemudian melihat spanduk promo cashback yang kemudian menyebabkan anda ingin membeli minuman Boba yang hargaya Rp. 38,000 tersebut, maka hal ini bisa saja termasuk ke dalam pemborosan. Ingat, minum itu adalah kebutuhan, sementara apa yang diminum itu adalah keinginan.

Jadi, apakah cashback menyebabkan boros? Jawabannya ya dan tidak tergantung bagaimana anda menyikapinya. Bila anda membeli kebutuhan, maka cashback tidaklah menjadi boros.

Tapi ketika anda kebanyakan membeli keinginan, maka di situlah terjadi pemborosan (lihat contoh di 3 paragraf di atas).

Bagaimana supaya tidak boros, cek halaman selanjutnya.

Lanjut ke halaman berikutnya >>> (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com