Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 03 Apr 2020 07:12 WIB

Market Lagi Sakit, Jangan Berharap Sembuh Cepat Dulu (1)

Aidil Akbar Madjid - Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (8/11/2016). IHSG ditutup meroket hingga 1,57%. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Market sedang sakit dan jangan berharap cepat sembuh dulu. Mengapa? Banyak hal dan sebab yang mengiringi pendapat ini.

Banyak orang bertanya-tanya apakah saya harus tarik keluar atau cut loss investasi saya saat ini mengingat penurunan di bursa sudah parah dan tajam. Sebagian lagi yang berani (entah ini berani beneran atau sok-sokan berani) menanyakan, "Mas, apakah ini waktu yang tepat untuk berinvestasi di saham? Melihat harga sahamnya sudah murah."

Harus dipahami bahwa kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi seperti 2008 bahkan kondisi 1997-1998. Di tahun 1997-1998 yang telah terjadi adalah krisis kepercayaan, krisis politik, dan krisis ekonomi.

Sementara di tahun 2008 yang telah terjadi adalah krisis utang dan krisis ekonomi (tanpa krisis kepercayaan dan krisis politik). Nah, di tahun 2020 ini (yang geser 2 tahun, seharusnya kejadian di tahun 2018 kemarin), yang terjadi adalah multi dari semua itu, yaitu krisis utang (di Indonesia utang yang naik sangat cepat), krisis kepercayaan (di Amerika terhadap Trump dan di Indonesia terhadap presiden Jokowi karena dianggap sebagian masyarakat lambat atau terlambat dalam mengambil keputusan lockdown sehingga menyebabkan banyak korban meninggal akibat covid-19).

Tidak berhenti hanya sampai di situ, ditambah krisis politik (banyak menteri, kepala daerah dan politikus terlihat tidak kompak masing-masing mengeluarkan pernyataan yang bertentangan di saat negara ini sedang membutuhkan 1 suara dan 1 komando), kemudian disambung dengan krisis ekonomi di mana rakyat merasakan hidup semakin lama semakin sulit, apa-apa semua semakin mahal, kesejahteraan jauh dari harapan sementara di luar negeri kiita masih lihat bayang-bayang perang dagang China - Amerika.

Dan yang terakhir krisis kesehatan dikarenakan pandemic Covid-19 ini yang menjadi pemicu (trigger) mempercepat proses. Kenaikan posisi Indonesia sebagai negara maju justru mempersulit Indonesia untuk mendapatkan bantuan-bantuan luar negeri baik untuk bantuan bidang keuangan dan ekonomi maupun kesehatan tersebut, selayaknya sebuah negara berkembang.

Terus apa hubungannya wabah dan kondisi-kondisi diatas dengan ekonomi dan saham tadi? Yang mau coba saya terangkan adalah bahwa "this is only the beginning," ini adalah baru permulaan.

Reaksi pemerintah yang dianggap lamban oleh banyak orang (apalagi investor asing), membuat kepanikan di bursa. Asing serentak menjual investasi mereka pada saham dengan nilai triliunan rupiah, akibatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas dan sempat menembus di bawah 4.000 minggu lalu.

Tidak hanya harga saham yang turun, harga obligasi pemerintah seperti FR0080 sampai FR0083 juga ikutan turun dari bulan lalu. Hal ini juga yang menjadi salah satu sebab kenapa nilai tukar dolar AS berbanding rupiah naik cukup drastis alias rupiah melemah.

Apalagi kemudian pernyataan dari Australia yang tidak mempercayai kesiapan Indonesia dalam menghadapi wabah Covid-19 ini, serta permintaan Amerika agar warna negaranya keluar dari Indonesia turun membuat asing dan investor asing kehilangan kepercayaan pada Indonesia.

Hasilnya bisa ditebak? Bursa semakin babak belur.

Selain itu Pemerintah yang mencoba menghentikan penurunan bursa dengan mengajak Dana Pensiun dan perusahaan BUMN untuk membeli saham kembali (buyback), serta intervensi Bank Indonesia (BI) ke pasar untuk menurunkan nilai tukar dolar AS tampaknya hanya berdampak sesaat saja.

Lalu apa yang harus anda lakukan? Ada pepatah bule yang mengatakan "Don't try to catch a falling knife" yang artinya kira-kira jangan mencoba menangkap pisau yang sedang jatuh. Perumpamaan ini cocok untuk kondisi saat ini di mana kecepatan turunnya harga saham seperti pisau jatuh.

Beberapa orang menyarankan untuk membeli secara rutin ketika harga turun atau dikenal dengan istilah Average Down. Saya pribadi kurang setuju dengan strategi ini.

Average down ideal dijalankan ketika pasar turun untuk sementara. Dengan kata lain pasar bisa berbalik arah dan naik dalam waktu cepat.

Selain itu, dengan kondisi pasar seperti ini, average down membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena untuk bisa mendapatkan harga rata-rata yang ikutan turun anda harus beli saham lagi ketika harganya turun. Sementara kita belum tahu pasti sampai kapan harganya akan turun.


Sambil menunggu ketidakpastian ini mungkin akan lebih baik bila kita semua mulai mengatur keuangan kita dengan baik dan benar.

Mengatur keuangan bisa dilakukan secara mudah dengan menggunakan aplikasi keuangan. Gunakan kalkulator perencana keuangan gratis untuk membantu anda membuat perencanaan keuangan. Aplikasinya sendiri bisa diunduh di sini.

Selain mencatat anda juga penting untuk berinvestasi dan berasuransi. Permasalahan dengan investasi masih banyak orang yang awam.

Sementara untuk berasuransi banyak masyarakat yang enggan karena takut dikejar-kejar oleh agen, padahal mereka baru hanya mau tahu berapa besar sih premi yang mereka harus bayarkan.

Nah, untuk hal ini ada solusinya, anda bisa cek premi asuransi tanpa takut dikejar-kejar agen melalui aplikasi yang bisa diunduh di sini.

Selain itu anda juga bisa belajar dengan mengikuti kelas dan workshop tentang keuangan, infonya bisa anda dapatkan dari aplikasi tersebut di atas atau anda bisa cek di sini.

Oke melihat kondisi seperti ini, lalu apa yang sebaiknya dilakukan? Persiapan atau tanda-tanda apa yang harus diperhatikan di pasar sebelum mulai berinvestasi dalam kondisi seperti saat ini?

Kita bahas, kupas tuntas di artikel berikutnya ya.

Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel.



Simak Video "Tips Merdeka Finansial dengan Gaya Hidup Minimalis"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com