Tips Hemat Anti Boros Ala PPKM dan Pandemi (1)

Aidil Akbar Madjid & Partners - detikFinance
Selasa, 27 Jul 2021 08:30 WIB
Ilustrasi kelola keuangan
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Ternyata, COVID-19, COVID-20, COVID-21 masih belum berakhir. Munculnya varian baru seperti delta dan varian-varian berikutnya menyebabkan jumlah korban yang terpapar COVID dan meninggal dunia naik secara significant, bahkan menurut salah satu artikel/posting di detikcom, Indonesia dituding sebagai episentrum COVID dunia sekarang.

Rumah sakit kewalahan, bahkan beberapa sempat kolaps kekurangan oksigen, tenaga medis, kekurangan obat, bahkan kekurangan pengurus jenazah karena banyak diantara mereka pun yang terpapar harus isoman bahkan banyak juga yang ikutan meninggal dunia (meskipun masalah kolaps ini sempat dibantah oleh pemerintah).

Akibatnya bisa ditebak, pengetatan PPKM darurat diberlakukan lagi. Kemarin ada wacana bahwa PPKM darurat akan dilonggarkan di tanggal 26 Juli (dengan catatan jumlah yang positive COVID menurun), jadi sampai dengan tulisan ini dibuat posisi PPKM masih berlaku. Dan bila melihat angka yang diumumkan oleh Kemenkes bahwa jumlah positif COVID dan jumlah yang meninggal dunia masih tinggi sekali, kemungkinan besar PPKM darurat belum tentu diperlonggar.

Tanpa adanya PPKM darurat saja masyarakat sudah pusing dalam mengatur keuangan dan menjalankan kehidupan mereka. Apalagi ditambah dengan adanya PPKM atau dulu dikenal dengan istilah PSBB ini (ganti-ganti istilah aja).

Dengan tinggal dirumah saja yang seharusnya membuat pengeluaran menjadi lebih sedikit, tapi yang terjadi malah banyak orang yang mengeluh lebih boros. Lalu, apa Tips Hemat Anti Boros ala PPKM & Pandemi? Yuk kita bahas di beberapa seri tulisan berikut ini.

Pertama, boros terjadi ketika kita tidak punya aktivitas yang lain selain bekerja dari rumah atau kuliah/sekolah dari rumah (untuk yang masih kuliah/sekolah). Kita mempunyai waktu kosong yang lebih lama. Hal ini mengakibatkan kita akan sering membuka aplikasi e-commerce atau aplikasi untuk membeli makanan secara online.

Jadi yang terpenting justru atur dan punya aktivitas tambahan di rumah yang tidak mengeluarkan biaya tambahan, atau bahkan minim biaya. Apa saja yang bisa dilakukan? Misalnya contoh: membuat konten untuk media social baik itu di Instagram, tiktok, youtube, dan lain sebagainya.

Atau bila merasa tidak berbakat jogged-joged ala tiktok, bisa juga dengan membuat konten dalam bentuk artikel untuk blog pribadi ataupun blog umum seperti di detik blog ini. Aktivitas lainnya yang bisa dilakukan bersama anak adalah masak-memasak atau membuat makanan kecil snack sore. Aktivitas masak-memasak ini selain mengisi waktu luang, makanan kecilnya atau snacknya juga bisa untuk makan sore keluarga, terutama untuk anak-anak sehingga bisa mengurangi biaya jajan online yang mahal, Dan masih banyak aktivitas lainnya yang bisa anda dan keluarga lakukan disela-sela waktu bekerja dari rumah.

Apabila anda mempunyai 5 aktivitas tambahan berbeda untuk 5 hari kerja, niscaya waktu anda untuk scroll e-commerce atau aplikasi makanan akan berkurang jauh bahkan tidak sempat melakukan hal itu lagi. Dan hasilnya, uang anda aman alias tidak menjadi boros.

Oh iya, salah satu cara untuk tidak boros juga dengan mencatat bujet dan pengeluaran Anda. Cara mencatat yang baik dan benar bisa dipelajari dengan mengikuti workshop yang ada. Salah satunya adalah workshop simple mengelola keuangan di sini, dan untuk belajar investasi reksadana bisa ikutan di sini. Atau untuk yang versi lengkapnya bisa dilihat di sini.

Kamu juga bisa melakukannya dengan belajar perencana keuangan bersertifikasi secara online secara mandiri (self study), mudah, terjangkau dan bisa belajar sesuai waktu kita. Untuk info-info kelas secara online (self study) baik yang gratisan ataupun biaya terjangkau sekali, bisa dilihat di sini.

OK cara pertama sudah kita bahas, masih ada sekitar 4 cara lagi agar kita bisa lebih hemat dan tidak boros, seperti apa caranya? Tunggu di artikel berikutnya.

(fdl/fdl)