Β
Kalau ingin membeli rumah di Jakarta nggak mungkin karena harganya tidak terjangkau. Sementara 1/3 dari gaji untuk membayar cicilan KPR.
Β
Sebenarnya saya dan suami sama sama punya keinginan untuk usaha. Kami sangat menyukai komputer dan internet. Kami ingin sekali membuka warnet dengan bermodalkan DP Rumah tadi.Namun modal terasa masih kurang. Saya ingin menambah modal dengan miminjam dari saudara dengan cicilan ringan .
Β
Apakah membuka usaha adalah langkah yang tepat ?
Β
Jawaban:
Saya salut dan kagum kepada Ibu karena memiliki kebijaksanaan yang sangat baik dalam membuat keputusan untuk keluarga. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan untuk membeli rumah secara KPR. Selain ada beban biaya yang diakibatkan karena pembelian rumah itu sendiri, misalnya:
1. Dana untuk Uang Muka pembelian rumah
2. Cicilan atau angsuran yang harus dilakukan setiap bulan
3. Biaya Notaris
4. Biaya Pajak Pengalihan Nama
5. Biaya Provisi dan Administrasi Bank
6. Biaya Asuransi Jiwa dan Asuransi Kerugian
maka ada juga tambahan biaya yang terjadi akibat kepemilikan, penghunian dan pemeliharaan rumah, antara lain:
- Biaya PBB setiap tahun
- Perubahan biaya transportasi (bahan bakar, ongkos kendaraan umum, tol, parkir, perawatan kendaraan dsb) akibat pindah tempat tinggal
- Biaya Sampah, Keamanan, Setoran RT,
- Biaya Listrik, PAM
- Biaya Perawatan dan Renovasi Rumah
- Tambahan Biaya Belanja contohnya; pembelian alat-alat kebersihan (sapu, pel, dsb), pembelian sabun atau obat kebersihan, dan lain-lain.Β Β
- Biaya Pembantu, merawat kebun, pompa air dsb.
Tambahan beban biaya tersebut di atas sering kali membuat seseorang kaget karena baru menyadarinya setelah terlanjur membeli rumah atau membayar uang mukanya sehingga terlalu berat untuk dibatalkan.
Oleh karena itu secara Perencanaan Keuangan Keluarga maka Tempat Tinggal bisa berupa Rumah Milik Sendiri atau Sewa Rumah atau Sewa Apartemen atau Tinggal Sementara bersama Orang Tua. Kita harus memilih mana yang paling sesuai dan cocok dengan kondisi kita baik secara Material, Finansial, Psikologis, Mental, Spiritual dan sebagainya.
Namun tampaknya Ibu sudah mempertimbangkan untuk menunda pembelian rumah sampai dengan kondisi finansial mencukupi. Dan Ibu mencoba untuk melakukan usaha sendiri yang sesuai dengan keahlian atau kemampuan yang dimiliki yaitu sesuatu yang berhubungan dengan komputer baik warnet atau bisa juga internet game.
Sekali lagi disini Ibu harus memikirkan segala sesuatunya dengan baik. Jika kita ingin berbisnis maka yang paling penting adalah Ibu harus mempersiapkan 'Mind Set' atau Paradigma Ibu dan Keluarga tentang Bisnis. Ini akan menjadi dasar pemikiran dan landasan bagi Ibu untuk membuat keputusan bisnis mengingat pola pikir pengusaha bertolak belakang dengan pola pikir karyawan. Banyak cara untuk mengembangkan Jiwa Wiraswastawan kita, Ibu bisa membeli buku-buku tentang bagaimana memulai usaha, atau mengikuti seminar-seminar pelatihan menjadi Wiraswasta, atau belajar langsung dari orang-orang yang telah memulai bisnis.
Paradigma atau pola pikir ini juga penting mengingat Bisnis tidak selalu berakhir dengan kesuksesan, bahkan sebenarnya Kesuksesan yang diperoleh adalah hasil proses yang konsisten dilakukan terus menerus dengan upaya dan pengorbanan yang tidak sedikit. Seringkali Sukses itu didapat setelah berkali-kali mengalami Kegagalan. Yang penting bagaimana kita mempelajari apa yang menyebabkan Gagal, lalu kita perbaiki dan tidak mengulangnya lagi di kemudian hari.
Setelah Ibu merasa sudah siap secara Mental dan Pola Pikir, maka coba Ibu cari tahu Keahlian, Kemampuan dan Pengetahuan apa yang Ibu dan Keluarga miliki, misalnya Ibu lebih menguasai Pemasaran dan Penjualan, sedangkan Suami lebih memahami masalah teknis komputer baik perangkat keras maupun lunak. Cobalah untuk membentuk Team, dan bagilah tugas serta tanggung jawab sesuai keahlian dan kemampuan. Jika ada tugas atau peran yang memerlukan bantuan orang lain karena Ibu dan Keluarga tidak mampu melakukannya maka tentunya Ibu harus mempekerjakan karyawan.
Langkah berikutnya adalah mempelajari, mencari tahu, mengeksplorasi, atau istilah bisnisnya adalah melakukan survey kelayakan usaha atas bisnis yang Ibu inginkan. Termasuk dalam hal ini adalah Marketing Intelligent, atau Ibu mempelajari lingkungan dari bisnis Ibu baik Lingkungan Internal seperti Tempat Lokasi Warnet, Kondisi Tempat Usaha, Peralatan yang dibutuhkan, Karyawan yang diinginkan, Kemampuan Listrik, dsb, Sedangkan Lingkungan Eksternal adalah Kompetitor yang ada disekitar lokasi, Pasar atau Calon Pelanggan yang ada dilingkungan, Biaya Perijinan, Bagaimana mendapatkan Ijin, Prosedur Pemilihan Lokasi Tempat Usaha atau Kondisi lainnya yang bisa menjadi unsur positif atau negatif yang tidak bisa kita kontrol atau datang dari eksternal kita.
Langkah terakhir adalah membuat Perencanaan Bisnis yang mencakup Proyeksi Keuangan selama minimal 1 tahun. Ibu harus menghitung semua kemungkinan bisnis yang berdampak pada faktor finansial, baik itu biaya maupun penerimaan. Buatlah asumsi Penerimaan misalnya Jumlah Calon Pelanggan yang akan menikmati fasilitas berdasarkan atas survay yang Ibu lakukan.
Dengan aktifitas ini maka Ibu bisa memperkirakan Modal Dasar dan Modal Minimal yang dibutuhkan, Bagaimana memproses Perijinannya, Bagaimana Memulai Usaha, dan tentunya Siapa yang akan menjalankan Bisnis tersebut, Bagaimana dengan aktifitas kerja Ibu dan Suami sebagai Karyawan Kantor tempat bekerja sekarang. Pada tahap inilah Ibu dan Keluarga baru bisa memutuskan apakah bisnis ini layak untuk dijalankan, dan Ibu serta Keluarga akan siap secara mental dan psikologis, material dan non material, untuk menjadi Wiraswasta.
Ibu yang Bijaksana, keputusan tersebut ada di tangan Ibu sendiri, dan konsekuensi atas pilihan Ibu harus siap dihadapi dengan bijaksana. Saya hanya dapat membantu agar Ibu dapat memperoleh informasi bagaimana caranya membuat keputusan terbaik dengan penjelasan yang tertulis di atas. Semoga Ibu sekali lagi bisa membuat Keputusan yang Bijaksana demi kebaikan seluruh Keluarga.
Salam
Risza Bambang
(qom/qom)











































