Pertanyaan:
Saya Karyawan hotel dengan gaji total rata rata Rp 3,5 juta per bulan. Saat ini saya mengalami kesulitan dalam membayar cicilan bulanan saya. Saya punya 2 kartu kredit dan istri saya punya 1 kartu kredit, seluruhnya sudah habis limitnya.
Total hutang kartu kredit saya sebesar Rp 9 Juta dan saya juga punya kewajiban untuk membayar hutang lainnya sebesar Rp 10 juta dengan cicilan perbulan sebesar Rp 575.800,- /bulan selama tiga tahun. Untuk seluruh hutang saya itu tiap bulannya minimal saya harus membayar sebesar Rp 1,5 juta.
Terkadang saya sering menggunakan lagi kartu kredit saya untuk membeli susu bayi, padahal belum ada seminggu saya melakukan pembayaran, jadinya jumlah tagihan saya kian membengkak. Bagaimana saya mengurai benang kusut tagihan kartu kredit saya?
Jawaban:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu kita harus benar-benar menjaga aktifitas kehidupan kita, terutama yang mempunyai kaitan dengan keuangan keluarga. Seringkali hutang diperoleh akibat dari Gaya Hidup sebuah keluarga. Tanpa disadari maka Gaya Hidup tersebut bisa membuat Kondisi Keuangan sebuah keluarga menjadi terpuruk dan akhirnya hidupnya terikat kontrak seumur hidup dengan utang. Untuk itu maka Perubahan dan penyesuaian Gaya Hidup adalah kunci sukses atau syarat utama dalam memperbaiki keterpurukan kondisi keuangan kita.
Berdasarkan informasi yang bapak berikan maka tampaknya Bapak dan Keluarga harus sama-sama berkomitmen untuk merubah Gaya Hidup sebagai Langkah Awal, dan kemudian menjalankan Komitmen tersebut dengan disiplin dan bertanggung jawab.
Untuk mempermudah menjalankan penyesuaian Gaya Hidup maka Bapak harus membuat Prioritas Kebutuhan Keluarga (mana yang harus dimiliki atau must have; yang hanya sebaiknya dimiliki atau nice to have; dan hanya tambahan) kemudian buatlah perkiraan Biaya yang dibutuhkan untuk seluruh kebutuhan pokok atau kebutuhan yang harus dimiliki tersebut.
Langkah selanjutnya adalah membuat penyesuaikan Biaya dari kebutuhan-kebutuhan pokok tersebut dengan Pendapatan dan / atau Harta Kekayaan kita. Langkah perbandingan itu disebut dengan penetapan Anggaran. Dari sinilah nanti Bapak dan Keluarga bisa mengevaluasi apakah Pembelanjaan yang dilakukan saat ini sudah sesuai atau belum, atau mungkin ada beberapa pengeluaran yang dilakukan tetapi sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, atau malahan banyak pengeluaran yang sering dilakukan tetapi sebenarnya tidak diperlukan sama sekali atau hanya mengikuti keinginan saja. Inilah pentingnya kita mengetahui perbedaan antara Kebutuhan vs Keinginan (Need vs Want).
Tahap di atas bertujuan untuk membuat kesadaran penuh di dalam hati dan benak seluruh Anggota Keluarga sehingga kesan tersebut akan terpatri kuat dalam sanubari Bapak dan Keluarga. Dibutuhkan suatu kemauan yang keras dan disiplin yang kuat agar kondisi keuangan Keluarga tersebut bisa diperbaiki.
Tahap berikutnya adalah mencoba mengurangi utang yang dimiliki dengan Menjual Aset atau Harta Kekayaan yang dipunyai dan tidak produktif. Salah satu Aset Tidak Produktif yang dimiliki bisa dipertimbangkan untuk dijual, dan kemudian hasil penjualan digunakan untuk melunasi utang, baik sebagian atau total.
Aset tidak produktif maksudnya adalah aset yang tidak berfungsi untuk membantu keuangan tetapi bahkan menjadi tambahan beban keuangan. Contoh aset tidak produkti tersebut misalnya Properti atau Tanah tidak terpakai atau tidak menghasilkan uang, padahal harus membayar pajak, lingkungan dsb. Atau Aset tidak produktif bisa juga berupa kendaraan (mobil atau motor) yang tidak terlalu berfungsi dengan baik, atau sebenarnya tidak terlalu diperlukan karena sudah ada kendaraan lain atau bisa diganti dengan transportasi umum yang tersedia. Malahan kendaraan ini menjadi beban karena sering rusak sehingga memerlukan biaya perbaikan yang tidak kecil. Atau Aset bisa berupa Perhiasan atau Logam Mulia yang dimiliki yang pada saat ini akan lebih bermanfaat jika digunakan sebagai Alat Pembayar Hutang.
Tahap selanjutnya adalah memahami fungsi Kartu Kredit dan merubah cara pemakaian Kartu Kredit. Fungsi dari Kartu Kredit adalah sebagai Alat Pembayaran, bukan sebagai Sumber Dana. Jadi Kartu Kredit bermanfaat untuk fungsi efesiensi, kepraktisan dan keamanan dibandingkan jika harus membawa Uang Tunai dalam jumlah besar.
Selain itu juga bermanfaat dalam pembelian barang terlebih dahulu dan kemudian membayarnya tanpa bunga di kemudian hari selama masih dalam jangka waktu tagihan dan melunasi seluruh nilai tagihan. Bahkan pembayaran dapat dilakukan di tempat yang aman dan nyaman sesuai pilihan kita, misalmya ATM, Bank, Kantor Pos dan lain-lain. Sedangkan pemakaian Kartu Kredit adalah untuk pembelanjaan yang bersifat rutin misalnya Belanja Bulanan Rumah Tangga atau Keluarga, Kebutuhan Darurat atau Emergency. Atau bisa juga dipakai untuk Kebutuhan yang timbul saat Liburan, tetapi BUKAN Biaya untuk Liburan atau Biaya untuk Pembelian Kebutuhan yang tidak terlalu diperlukan.
Oleh karena itu pilihlah salah satu Kartu Kredit yang paling memberikan keuntungan bagi Bapak dan Ibu, lalu simpanlah di rumah, dan hanya dibawa jika akan melakukan pembelanjaan jenis di atas; misalnya Belanja Rutin Keluarga, Kebutuhan Darurat atau saat pergi Berlibur untuk bayar hotel, paket tour, beli souvenir, makan, transportasi dan lain-lain. Namun sekali lagi jangan dilakukan untuk membeli Paket Liburan jika memang sebenarnya kondisi keuangan kita tidak mencukupi. Jangan sekali-kali mengambil hutang untuk biaya liburan atau jenis kebutuhan tidak penting lainnya.
Demikian saran yang dapat diberikan untuk membenahi kondisi kuangan Keluarga Bapak, mudah-mudahan Bapak dan Keluarga diberikan Kebijaksanaan yang baik dalam menjalankan dan menerapkan hal-hal tersebut di atas demi untuk masa depan Keluarga terutama anak-anak Bapak dan Ibu. (qom/qom)











































