Rencana Keuangan si Pengantin Baru

Rencana Keuangan si Pengantin Baru

- detikFinance
Senin, 14 Jul 2008 10:01 WIB
Jakarta - Pertanyaan:
Saya Karyawan bank BUMN 25 tahun bedomisili di Denpasar dengan penghasilan sekitar Rp 3,3 juta plus bonus lebih kurang 7x gaji per tahun. Tahun ini saya akan menikah, calon istri pegawai BUMN penghasilan 3,5 juta/bulan domisili di Bogor.

Penghasilan kami berdua plus bonus rata-rata Rp 10 juta per bulan. Mohon pertimbangan berkaitan dengan financial planing tentang beberapa alternatif rencana yang akan kami lakukan setelah menikah nanti, yaitu:
Istri saya keluar dari pekerjaannya dan ikut saya ke Denpasar, risikonya kami kehilangan penghasilan dari istri Kami menjalankan pernikahan jarak jauh dengan intensitas ketemu minimal 1x tiap bulan. risikonya biaya transportasi membengkak minimal 1,5juta per bulan, tapi sampai kapan?

Kami rencana beli rumah tapi masih bingung di denpasar atau bogor saya keluar dari pekerjaan saya sekarang dan memulai merintis usaha di bogor atau mencari pekerjaan lain dengan penghasilan yang kemungkinan lebih kecil dari istri saya. Risikonya gaji saya hilang dan risiko sosial.
 
Dari empat alternatif tsb, mohon saran dan masukan serta mana paling baik.? dan kapan waktu yang paling tepat untuk memutuskan, setelah menikah (Juni 2008) nunggu 1 tahun atau dsb? mohon juga kalo ada alternatif lain yang bisa saya jadikan pertimbangan.
 
Terima kasih atas saran dan masukkannya
 
Jawaban:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya saya ucapkan Selamat atas Rencana Pernikahan Anda. Mudah-mudahan ini adalah "jodoh terbaik" bagi Anda berdua. Jodoh terbaik yang saya maksudkan adalah menjadi Pasangan Hidup yang terbaik dan paling cocok dalam segala hal termasuk mengenai Kehidupan Keuangan Keluarga. Banyak orang yang rejekinya atau kondisi keuangannya berubah menjadi lebih meningkat setelah melangsungkan pernikahan atau berhasil menemukan jodohnya.

Bagaimanapun masalah Keuangan tidak dapat berubah tanpa ada upaya dari kita sendiri untuk mengubahnya. Logika terdekat mengapa seseorang berubah positif kondisi keuangannya adlaah karena rasa tanggung jawab yang semakin besar sebagai konsekuensi dari perubahan status kehidupannya.

Pilihan yang Anda berikan semuanya benar, tidak ada yang lebih baik satu daripada yang lain. Yang paling penting adalah pilihan mana yang paling cocok dengan kehidupan, karakteristik dan kesepakatan Anda berdua. Serta jangan lupa bahwa apapun pilihan yang akan diputuskan maka tentu akan ada konsekuensinya; baik dalam bentuk material (dampak finansial) atau pun dalam bentuk lainnya.

Oleh karena itu kita sebaiknya memilih suatu alternatif yang paling sesuai berdasarkan kondisi atau informasi pendukung yang paling nyata atau memang sudah ada. Misalnya jika Anda memilih Istri ikut ke Denpasar maka sebaiknya carilah terlebih dahulu pekerjaan bagi istri jika pindah ikut suami. Tentunya jenis pekerjaannya harus sesuai dengan kemampuan dan kompetensi istri Anda, serta bisa memenuhi kebutuhan Keluarga. Begitu juga sebaliknya jika suami yang memutuskan pindah ikut istri.   

Jadi langkah awal sebelum memilih salah satu alternatif adalah membuat suatu keputusan apakah istri akan tetap menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga saja atau ibu rumah tangga tapi punya usaha rumahan sehingga tetap punya waktu untuk keluarga. Kemudian cobalah mencari lowongan pekerjaan yang tersedia bagi suami di Bogor maupun bagi Istri di Denpasar, tentunya pilih lowongan yang sesuai dengan kondisi pribadi masing-masing.

Penawaran pekerjaan yang diperoleh akan memudahkan Anda dan pasangan untuk memilih alternatif yang paling cocok dengan kebutuhan Keluarga. Jika penawaran pekerjaan belum juga diperoleh sampai dengan tanggal pernikahan maka ini menjadi suatu hal yang tidak mudah mengingat Anda berdua dihadapkan pada suatu cabang kehidupan tanpa dibekali dengan informasi atau kondisi pendukung yang lengkap.

Sekali lagi keputusan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi karakteristik kedua belah pihak. Jika Anda dan Pasangan siap secara mental dan pikiran untuk melakukan hubungan jarak jauh, bahkan Anda berdua sudah punya pengalaman melakukan hal tersebut tanpa ada gangguan maka cobalah melakukan hal ini sampai mendapatkan penawaran pekerjaan yang bisa dijadikan informasi pendukung untuk membuat keputusan.

Namun jika belum pernah melakukan hubungan jarak jauh, bahkan mental dan pola pikir Anda berdua tidak bisa menerima kondisi tersebut maka tidak ada cara lain kecuali salah satu dari Anda dan Pasangan harus ada yang berkorban untuk pindah. Akan lebih baik jika yang berkorban adalah pihak yang paling cepat dan mudah untuk memperoleh pekerjaan walaupun tidak terlalu cocok dengan kondisi kompetensi dan kemampuannya, tetapi paling tidak bisa mengurangi beban keuangannya.

Langkah terakhir adalah menentukan tempat tinggal bagi Keluarga baru, dalam hal ini keputusan pemilihan daerah tempat tinggal bisa disesuaikan dengan keputusan atas tempat menetap dari Anda dan Pasangan. Mengenai lokasi perumahan maka bisa dipilih dari alternatif tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja, punya fasilitas kendaraan umum yang memadai, punya fasilitas umum lainnya yang sesuai dengan kebutuhan (misalnya rumah sakit, dokter, sekolah, pasar, tempat ibadah, tempat belanja/super market dsb) dan juga sesuai dengan kondisi keuangan. Jenis rumah tinggal bisa beli rumah sendiri, kontrak terlebih dahulu sampai kondisi keuangan bisa lebih baik (mungkin karena sudah menemukan penawaran pekerjaan yang lebih baik dalam hal kompensasinya). Jika membeli maka ada pilihan tunai atau dengan sistim KPR.

Usulan lain yang juga harus Anda dan pasangan perhatikan dan garis bawahi adalah Gaya Hidup. Kadang-kadang seseorang tidak sadar bahwa Gaya Hidup itu sangat mempengaruhi Kondisi Pengeluaran dan bisa menggerus Pendapatan. Hal-hal kecil yang merupakan Gaya Hidup tapi bisa menjadi beban tambahan bagi Keuangan misalnya Rokok, Jajan (minuman ringan atau makanan kecil), Makan di Restauran atau "makan di luar", nonton bioskop, gaya hidup konsumtif, belanja pakaian, sepatu, alat kecantikan, fashion dengan gadget (handphone, audio, video), alat elektronik, hobi aksesoris kendaraan dan lain-lain. Jenis-jenis biaya ini ada yang nilainya tidak besar tapi sering dilakukan sehingga dalam kurun waktu sebulan atau setahun bisa membebani kondisi keuangan keluarga. Jadi saran saya adalah menyesuaikan Gaya Hidup saat bujangan atau gadis dengan saat setelah Menikah. Seharusnya penyesuaian Gaya Hidup akan dapat memberikan Tabungan lebih besar atau bisa membuat anggaran kebutuhan lebih besar dibandingkan jika biaya-biaya tidak perlu tersebut di atas tetap dikeluarkan.  

Demikian usulan dan gagasan yang bisa saya berikan, jika melihat bulan pernikahan yang Anda tuliskan maka tampaknya pada saat tulisan ini dimuat maka Anda sudah menjadi seorang Suami. Semoga tulisan ini bisa membantu Anda dan Istri untuk membuat suatu keputusan yang terbaik dan tercocok untuk Keluarga.  Selamat Menikah. (Risza Bambang-Shildt Financial Planner)

(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads