Berikut analisa investasi NISP Sekuritas, Kamis (25/9/2008):
Saham
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki bulan September, bursa saham terkoreksi tajam menembus titik support 2000 (9 September). Kondisi panik akibat bangkrutnya Lehman Brothers menyebabkan penembusan support 1800 (12 September). IHSG menyentuh titik terendah 1719 pada 15 September, kembali ke titik seperti pada akhir November 2006 dan menghilangkan semua pertumbuhan IHSG sepanjang tahun 2007.
Dengan IHSG berada di 1700-an, PER IHSG sudah berada di 9,5 kali atau sekitar 25% di bawah rata-rata jangka panjang PER IHSG yaitu 12 kali. Pasar telah memangkas semua optimisme investor yang mencapai puncaknya pada periode akhir 2007 - awal 2008, dimana PER pasar berkisar 17 kali. Saat ini pasar sedang menguji pesimisme dan kesabaran investor.
Dengan valuasi PER IHSG di 9,5 kali, kami melihat kondisi investasi saham menjadi 'High Risk, High Return'. Kondisi 'high risk' terjadi karena saat investor pesimis, pasar yang sudah murah (PER sebesar 9,5X) dapat menjadi lebih murah (artinya penurunan IHSG berlanjut). Misal valuasi IHSG turun ke PER 8 kali, atau ke 1.500, menyamai valuasi dimasa bearish 2000-2002.
Risiko utama adalah: perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan berlanjutnya sentimen negatif di pasar kredit global akibat krisis sub-prime. Peluang 'high return' dimungkinkan karena valuasi saham yang sangat murah. Sehingga pemulihan harga saham nantinya akan memberikan return yang menyamai return rata-rata jangka panjang IHSG yaitu sekitar 20% per tahun. Catatan: return rata-rata IHSG IDX tahun 1988-2007 adalah 19%, di luar dividen.
Obligasi
Indeks Harga SUN (dari HSBC) turun 14,3% sejak awal tahun (YTD). Dari titik terendah pertengahan Juni 2008 sampai awal Agustus, Indeks SUN HSBC sempat naik 11%. Tapi indeks SUN HSBC kembali terkoreksi sebesar 8% dari minggu ke-2 Agustus sampai 16 September. Pada saat ini, yield SUN bertenor lima tahun sudah mendekati 13% per tahun.
Harga obligasi yang murah menjadikan instrumen ini sebagai pilihan investasi utama untuk satu tahun ke depan. Kami melihat obligasi sebagai pilihan investasi yang 'Low Risk, High Return'. 'Low Risk' dimungkinkan karena penurunan harga obligasi sudah sangat terbatas.
Pemerintah menjadi lebih berhati-hati dalam menerbitkan obligasi baru. Bahkan pemerintah berniat melakukan buyback SUN mengingat harga obligasi sudah sangat murah. Inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga sudah terfaktorkan dalam tingkat yield sekarang.
Sejalan dengan stabilnya inflasi, diperkirakan suku bunga akan stabil bahkan turun pada semester ke-2 tahun 2009. Bila suku bunga stabil atau menurun, maka terbuka potensi capital gain pada investasi obligasi. Potensi capital gain tersebut berkisar antara 3% sampai 8%, tergantung durasi obligasi.
Capital gain ini menambah return investasi obligasi sehingga menjadi skenario 'high return', yang bisa mencapai 20% per tahun (asumsi durasi obligasi limatahun). Skenario pemulihan harga obligasi di tahun 2009 mirip seperti pemulihan harga obligasi di tahun 2006.
Sebagaimana diketahui pada tahun 2005 bearish obligasi disebabkan crash reksa dana pendapatan tetap, lonjakan inflasi, dan suku bunga yang tingi. Sebaliknya, stabilitas di tahun 2006 dan penurunan bunga mendorong kenaikan harga obligasi yang luar biasa.
Dalam skenario kondisi bearish obligasi berlanjut sampai akhir 2009, maka investor diperkirakan tetap memperoleh return yang lebih baik (yield obligasi lima tahun sekitar 13% per tahun) dibandingkan rata-rata bunga deposito.
Risiko utama bearish obligasi adalah berlanjutnya krisis kredit global sehingga investor asing mengurangi posisinya di SUN. Selain itu kebijakan perpajakan obligasi juga menjadi sentimen negatif.
KesimpulanΒ
Dengan melihat kondisi-kondisi di atas, pilihan investasi paling menarik saat ini adalah obligasi (berdasarkan yield & potensi capital gain, dan risiko yang terbatas).
Deposito dengan bunga tinggi hanya bertahan untuk beberapa bulan, seperti yang terjadi pada akhir 2005 sampai awal 2006.
Pilihan saham jatuh pada saham perusahaan berbasis konsumen domestik yang kuat dan valuasi murah seperti telekomunikasi (TLKM), perbankan (BMRI, BBNI, BBRI, BBCA), konsumer (KLBF), dan semen (SMGR).
Penurunan harga ASII yang dratis membuat valuasinya sangat menarik dengan PER 2008-2009 sekitar 9 kali. ASII merupakan konglomerat (memiliki AUTO, AALI, UNTR, BNLI, dan ASGR) dengan kinerja konsisten.
PGAS & UNVR meskipun valuasinya mahal tetap menarik. PGAS adalah penyedia sumber energi bersih dengan potensi pertumbuhan tinggi. UNVR memiliki lini produk konsumer yang dipakai secara luas oleh masyarakat Indonesia.
Kutipan dari tokoh investasi berikut perlu dijadikan panduan investasi pada masa bearish.
Sir John Templeton (Pendiri & Pemilik Templeton Fund): "The time of maximum pessimism can be the best time to buy, and the time of maximum optimism can be the best time to sell".
Baron Nathan Mayer Rothschild (Rothschild Banking Family, England): "Buy when there's blood in the streets, even if the blood is your own".
(ir/qom)











































