Ekspansi Usaha? Nanti Dulu...

Ekspansi Usaha? Nanti Dulu...

- detikFinance
Selasa, 14 Okt 2008 07:45 WIB
Ekspansi Usaha? Nanti Dulu...
Jakarta - Krisis finansial membuat segalanya serba sulit. Likuiditas seret, semua serba penuh ketidakpastian. Apa yang kita susun hari ini, bisa menjadi tidak relevan keesokan hari.

Untuk nasabah perbankan bisa jadi menjadi lebih tenang setelah pemerintah menaikkan penjaminan simpanan hingga Rp 2 miliar dari semula Rp 100 juta. Namun dag dig dug justru dialami oleh nasabah yang tengah mengajukan kredit. Diproses nggak ya kredit saya?

Kekhawatiran nasabah muncul karena kabarnya bank-bank sedang berupaya untuk mengerem kredit ditengah kondisi pasar finansial yang bergejolak. Bank-bank bahkan kabarnya menolak akad kredit untuk mencegah kredit macet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tadi mau akad kredit untuk KPR ditolak oleh banknya. Alasannya, bank untuk sementara tidak memberikan kredit karena bunga tinggi, jadi takut membuat macet," kata Ade, warga Slipi dalam perbincangannya dengan detikFinance, Selasa (14/10/2008).

"Salesnya ditelponin susah banget. Pas ditelpon bilangnya semua nasabah belum ada yang akad kredit karena bunganya ketinggian. Kalau ketinggian takut pada macet kreditnya," imbuh pria yang bekerja sebagai karyawan swasta itu.

Sementara dari sisi pengusaha, tampaknya harus berhitung ulang atas berbagai rencana ekspansinya. Mereka sementara memilih untuk bertahan dengan bisnis yang ada, ketimbang menyusun ekspansi ditengah kondisi yang sedang tidak pasti ini.

Seperti yang dituturkan Presdir Bosowa Grup yang juga Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa. Menurutnya, sejumlah rencana ekspansi terpaksa direm terlebih dahulu.

"Kekhawatiran ada, industri semen was-was, revisi-revisi ekspansi usaha dan koreksi sudah kita lakukan," kata Erwin saat mengunjungi kantor detikcom, Senin (13/10/2008) malam.

Erwin pun bertutur tentang sejumlah proyek hotel miliknya yang sudah groundbreaking, namun terpaksa ditahan karena perbankan meminta agar mereka tidak terlalu berlebihan mengeluarkan dana.

"Kita sudah goundbreaking, tapi perbankan yang mendanai justru minta agar jangan over spend. Simpan saja dananya dulu dalam bentuk cash. Ekpansi pabrik semen juga kita tunda karena nanti kalau market drop, produksi malah tidak bisa dibawa kemana-mana," ujarnya.

Erwin menambahkan, dalam kondisi sekarang ini, pasar properti kemungkinan akan sedikit melambat. Suku bunga yang tinggi, plus ketatnya likuiditas akan membuat perbankan semakin berhati-hati.

"Ini didasari kekhawatiran sektor perbankan. Perbankan bereaksi negatif atas kondisi global sehingga berdampak ke sektor riil. Dengan suku bunga yang tinggi, ada kekhawatiran potensi NPL, sehingga pasar properti akan sedikit terganggu," imbuhnya. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads