Penerbitan saham baru (rights issue) dan obligasi diperkirakan bakal meramaikan lantai bursa di triwulan I-2009 ini. Industri pasar modal dinilai masih lebih menarik ketimbang melakukan pinjaman perbankan.
"Bursa di triwulan I-2009 ini sepertinya akan didominasi rights issue dan obligasi," ujar Direktur Utama PT Morgan Stanley Asia Indonesia, Inghie Kwik, dalam seminar Capital Market Outlook Q1-2009 di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Inghie, rights issue dan obligasi menjadi incaran mencari dana bagi sejumlah perusahaan ketimbang mencari pinjaman perbankan karena tetap dinilai lebih strategis.
"Apalagi banyak obligasi yang jatuh tempo tahun ini," jelasnya.
Kwik menjelaskan, perusahaan akan memfokuskan pada upaya pemulihan kondisi internal dengan mengurangi utang. Oleh sebab itu opsi yang tersedia adalah rights issue atau obligasi.
Kendati demikian, ia mengatakan masih akan terjadi tekanan harga di pasar saham, terutama di emerging market. "Banyak inventarisasi aset yang belum terjual, seperti di AIG dan Adaro. Di Adaro (PT Adaro Energy Tbk) masih banyak investor asing yang belum melepas sahamnya," ujar dia.
Menurutnya, investor yang berminat mencari pendanaan murah akan fokus ke pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Meskipun demikian, volatilitas pasar modal global masih akan tumbuh 5-10%. Sedangkan perbaikan indeks global diperkirakan terjadi pada akhir 2009 atau awal 2010.
"Krisis ekonomi secara global akan terjadi selama sembilan kuartal, dan saat ini sudah masuk kuartal kelima," jelasnya. (dro/ir)











































