Obligasi Valas Lokal VS Obligasi Korporasi AS

Obligasi Valas Lokal VS Obligasi Korporasi AS

- detikFinance
Rabu, 18 Feb 2009 15:10 WIB
Obligasi Valas Lokal VS Obligasi Korporasi AS
Jakarta - Perusahaan-perusahaan domestik yang berencana menerbitkan obligasi berdenominasi dolar, mungkin harus meninjau kembali rencananya. Sebab diperkirakan bakal berhadapan langsung (head to head) tingginya minat investor atas obligasi korporasi Amerika Serikat (AS).

"Kalau perusahaan domestik berencana menerbitkan obligasi dolar, dipastikan akan head to head dengan obligasi korporasi AS," ujar Direktur PT Trimegah Securities Tbk (TRIM), Desimon saat dihubungi detikFinance, Rabu (18/2/2009).

Menurut Desimon, saat ini memang tengah terjadi perburuan produk-produk obligasi korporasi AS oleh investor-investor berskala global dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Investor global cenderung berinvestasi di obligasi korporasi AS, khususnya yang memiliki rating tinggi namun harganya sedang murah. Memang sedang terjadi perpindahan modal besar-besaran ke AS, termasuk Indonesia," jelas Desimon.

Apa yang dikatakan Desimon senada dengan Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia Halim Alamsyah. Menurut Halim, perburuan obligasi korporasi AS menjadi pemicu utama pelemahan tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Jadi sekarang trennya itu seluruh dunia sedang berburu obligasi korporasi AS. Paling besar dari Asia sekitar US$ 12 miliar, termasuk Indonesia. Kemudian Eropa US$ 10 miliar," ungkap Halim.

Halim menjelaskan, investor-investor besar berskala global memang mulai memprediksi pemulihan ekonomi AS bakal lebih cepat terjadi ketimbang pemulihan ekonomi Eropa atau Jepang.

"Jadi mereka (investor global) berspekulasi dengan memburu obligasi-obligasi korporasi AS yang ratingnya tinggi namun harganya sedang murah-murahnya," jelas Halim.

Baik Halim maupun Desimon sepakat menilai bahwa tren ini akan menghambat minat investor pada penerbitan obligasi dolar yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan domestik.

"Otomatis akan head to head. Apalagi yield-nya, kupon bunganya tinggi," ujar Desimon.

Halim pun bahkan menyebutkan angka yield sebesar 12% atas obligasi-obligasi korporasi AS. "Yield-nya sekitar 12%an. Sudah begitu dalam dolar. Jadi investor besar cenderung memilih investasi kesana," ujar Halim.

Kendati demikian, Desimon mengatakan potensi obligasi korporasi domestik berdenominasi rupiah tidak akan terlalu terganggu oleh tren global tersebut.

"Segmennya kan beda. Saya lihat likuiditasnya masih cukup besar. Mungkin akan berpengaruh ke tingkat yield yang akan ditawarkan. Tapi demandnya tidak turun kok," ujar Desimon.

Menurut Desimon, prospek penerbitan obligasi rupiah sangat bagus tahun 2009 ini. Ia memperkirakan, pasar obligasi akan sangat ramai tahun ini.

"Tahun ini prospek obligasi kita bagus, karena suku bunga cenderung turun, investor akan cenderung beli obligasi. Perusahaan-perusahaan yang butuh pendanaan akan lebih memilih menerbitkan obligasi ketimbang pinjaman bank. Apalagi bank cenderung ketat dalam mengucurkan kreditnya, ditambah suku bunga obligasi biasanya lebih tinggi dari bunga deposito. Jadi obligasi akan menarik," papar Desimon.

(dro/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads