"Memang tradisinya seperti itu. Setiap menjelang pemilu hantu-hantu politik banyak yang menarik dananya dari lantai bursa," ujar Head of Research PT Recapital, Poltak Hotradero saat dihubungi detikFinance, Rabu (17/3/2009).
Poltak mengatakan, keberadaan dana-dana partai politik di Bursa Efek Indonesia (BEI) memang tidak bisa dibuktikan secara jelas. Namun, menurutnya penurunan IHSG secara berulang setiap menjelang pemilu bisa dijadikan bukti kuat adanya dana-dana politik di lantai bursa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Poltak hal itu hanya bisa dimaklumi saja. Toh, justru karena adanya investasi-investasi bayangan tersebut di lantai bursa menjadikan perdagangan menjadi ramai.
Kendati demikian, Poltak melanjutkan, pemilu legislatif belum akan memukul IHSG jatuh cukup dalam. Penurunan IHSG beberapa hari belakangan, menurut Poltak bukan didominasi oleh penarikan dana partai.
"Penarikan memang ada, tapi belum terlalu besar. Saat ini penurunan lebih disebabkan reaksi pasar atas tradisi pemilu yang biasanya memang turun," ujarnya.
Poltak mengatakan, kondisi pasar saat ini tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan kondisi menjelang pemilu 2004 lalu. Menurutnya, faktor eksternal resesi global masih menjadi penggerak pasar saat ini.
"Kalau pemilu 2004 kan pasar kita sedang bagus. Jadi ketika menjelang pemilu market turun, itu bisa diindikasikan langsung kalau itu terkait pemilu. Kalau sekarang, saya kira faktor global masih cukup kuat. Pasar masih sangat fluktuatif karena isu global. Jadi tidak bisa dibandingkan apple to apple dengan kondisi menjelang pemilu 2004," jelas Poltak.
"Saat ini lebih sulit membaca apakah penurunan IHSG benar-benar karena faktor pemilu legislatif atau karena faktor global yang juga sedang turun," imbuhnya.
Poltak justru memperkirakan, pengaruh kuat pada pergerakan IHSG justru akan terjadi saat menjelang pemilihan presiden (pilpres) 8 Juli 2009. Menurutnya, pemilu legislatif kurang cukup kuat mempengaruhi motivasi investasi para investor di pasar modal.
"Pemilu legislatif kan tidak membawa perubahan apa-apa terhadap kebijakan makro ekonomi negara. Justru pemilu presiden yang lebih berpengaruh. Karena investor-investor akan menunggu siapa yang akan memimpin negara ini, siapa saja kabinet-kabinetnya, kebijakan seperti apa yang akan diterapkannya. Itu yang akan mempengaruhi investor dalam menghitung investasinya," papar Poltak.
Oleh sebab itu, ia memprediksi penurunan tajam IHSG justru akan terjadi menjelang pemilu presiden Juni-Juli mendatang.
"Menjelang pemilu presiden, investor akan banyak yang membuang dulu saham-sahamnya, sehingga akan menyebabkan IHSG turun tajam. Mereka akan menunggu dulu siapa yang akan menang, baru bisa memutuskan akan masuk lagi atau tidak," ujarnya.
Poltak memperkirakan, titik terendah IHSG selama periode pemilu presiden Juli hingga September mendatang akan berada di level 1200. Sebagai catatan, pemilu presiden putaran satu akan dilakukan pada 8 Juli 2009. Jika ada putaran kedua, maka akan dilakukan pada 8 September 2009.
"Selama periode itu, pasar akan cenderung kurang likuid. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Siapa yang akan duduk menjadi pemimpin negara ini akan sangat ditunggu-tunggu investor. Perkiraannya titik terendah IHSG selama periode itu akan berada di level 1.200," ujar Poltak.
(dro/ir)











































