Investasi Saham Dalam Gejolak Pilpres

Investasi Saham Dalam Gejolak Pilpres

- detikFinance
Selasa, 07 Jul 2009 08:05 WIB
Investasi Saham Dalam Gejolak Pilpres
Jakarta - Tujuan utama seorang investor yang menanamkan modalnya di lantai bursa sudah barang tentu mengejar keuntungan atau dalam dunia pasar modal lebih dikenal dengan istilah gain.

Secara umum, ada dua metode yang bisa digunakan investor dalam memperhitungkan potensi keuntungan atau gain yang akan diperolehnya, yaitu analisis pergerakan harian harga saham dan analisis atas hubungan aktivitas ekonomi makro dengan kinerja perusahaan sasaran investasi.

Metode pertama lebih dikenal dengan istilah analisis teknikal, sedangkan metode kedua disebut analisis fundamental. Seorang investor yang mengamini bahwa keuntungan lebih mudah diperoleh dengan menggunakan kerangka ilmu matematika teoritis tentu akan menggunakan metode analisis teknikal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, investor yang memercayai matematika praktis, tentu akan menggunakan metode analisis fundamental. Keduanya memiliki karakteristiknya masing-masing yang seringkali tampak tak pernah bersinggungan kalau tidak boleh dikatakan berseberangan.

Namun ada kalanya, meski jarang terjadi, keduanya bertemu pada kesimpulan yang sama. Biasanya, hal itu terjadi karena adanya perubahan yang mencakup seluruh sistem perekonomian.

Contohnya krisis ekonomi global tahun 2008. Pada saat itu, baik pengguna metode analisis teknikal maupun fundamental terpaksa harus mengacu pada aspek yang bahkan berada di luar bidang ekonomi: sebut saja politik.

Khusus di Indonesia, iklim investasi saat ini, mau tidak mau harus memasukkan variabel politik dalam menentukan keputusan investasinya. Adanya pagelaran akbar 5 tahunan pemilihan presiden alias pilpres, merupakan tonggak penentuan segala kebijakan yang akan diberlakukan di negeri ini, termasuk kebijakan ekonomi.

Kalau kebijakan ekonomi secara menyeluruh bisa berubah, otomatis pasar modal yang merupakan salah satu sektor dalam bidang ekonomi akan mengekor pada induknya, ekonomi makro.

Atas dasar itulah tak jarang pelaku pasar modal yang mengatakan kalau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi cermin pergerakan saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga bergantung pada calon presiden mana yang akan berkuasa.

Apalagi, saat ini sedang terjadi kisruh soal adanya kemungkinan jadwal pilpres akan dimundurkan dari semula ditetapkan pada 8 Juli 2009. Situasi dadakan ini diperkirakan bakal memukul jatuh level IHSG jika pada akhirnya jadwal pilpres dimundurkan.

"Sebenarnya wacana itu tidak terlalu berpengaruh jika jadwal pilpres tetap 8 Juli. Tapi kalau sampai mundur, tentu bisa sangat berpengaruh pada level IHSG, bisa jatuh tajam," ujar Head of Research PT Recapital Securities, Poltak Hotradero saat dihubungi detikFinance, Senin (6/7/2009).

Pada hakekatnya, ujar Poltak, dunia investasi itu membutuhkan kepastian. Dengan adanya kepastian tersebut, investor bisa memiliki acuan perhitungan-perhitungan investasinya.

"Jika ada suatu kondisi yang sangat berpengaruh pada seluruh kebijakan negeri ini seperti pilpres secara tiba-tiba berubah, itu akan menyebabkan kalkulasi yang telah dilakukan para investor menjadi kacau balau. Ini mengundang kepanikan dan cenderung menyebabkan dorongan-dorongan untuk melakukan penjualan secara masif," papar Poltak.

Apalagi, ia menambahkan, tak dapat dipungkiri kalau arah IHSG dan saham di BEI secara keseluruhan bergantung pada posisi investasi yang dipasang oleh para investor kelas kakap yang bermodal besar, terutama asing.

"Dan biasanya, fund-fund manajer lokal yang besar dan asing sudah memperhitungkan aspek pemerintahan mana yang akan berkuasa dalam keputusan investasinya. Jika ternyata pilpres mundur, para pemain besar ini akan melakukan penjualan besar-besaran dan bisa menjatuhkan level IHSG,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan oleh analis PT BNI Securities Muhamad Alfatih. Ia mengatakan situasi ketidakpastian akan memberikan tekanan jual yang cukup hebat pada pasar saham.

"Saya kira selama belum ada kepastian soal pilpes, tekanan jual akan cukup kuat," ujar Alfatih.

Kalau sudah begini, pertanyaannya kemudian adalah kapan saat yang tepat bagi para investor yang ingin mengkoleksi saham dalam kondisi tidak menentu seperti ini. Poltak cenderung bersikap netral dalam menjawab pertanyaan ini.

"Saya kira masing-masing investor itu punya karakteristiknya sendiri. Jadi kapan waktu yang tepat itu sangat tergantung gaya dan perhitungan yang digunakan masing-masing investor. Saham itu kan harganya tidak bisa berubah kalau tidak ada yang jual maupun beli. Jadi harga bisa turun itu karena ada yang beli, harga naik juga karena ada yang beli. Jadi tidak bisa saya bilang kapan waktu yang tepat," papar Poltak.

Alfatih lebih berani. Ia menyarankan langkah melakukan pembelian sebaiknya dilakukan dalam suatu periode dimulai pada detik-detik terakhir menjelang pengumuman soal kepastian jadwal pilpres hingga hasil penghitungan cepat (quickcount).

"Saya kira periode itu saat yang tepat untuk masuk, terutama mengacu pada hasil quickcount. Jika hasil pilpres berdasarkan quickcount memberikan sinyal positif pada market, diperkirakan setelah itu IHSG akan mengalami rally naik," ujar Alfatih.

Sehubungan dengan itu, Poltak menyarankan investor mulai mengkoleksi saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar harian cukup besar.

"Karena saham-saham papan atas adalah yang menggerakkan IHSG jika ia rally naik, sebaliknya, ia juga menjadi motor penurunan tajam IHSG jika ada sentimen negatif. Tapi ya itu risikonya. Kalau mau dapat untung besar ya main di saham-saham bluechip, tapi risikonya juga besar," jelas Poltak.

Melihat tren saat ini, Poltak menyarankan investor yang ingin melakukan koleksi saham bisa melihat pada saham-saham sektor infrastruktur, consumer good, pertambangan dan perkebunan.

"Infrastruktur contohnya TLKM, ISAT, PGAS, JSMR. Consumer good seperti INDF, UNVR, GGRM, HMSP. Pertambangan bisa mengkoleksi INCO, ANTM, BUMI. Kemudian perkebunan seperti SGRO, AALI, UNSP dan LSIP," jelas Poltak.

"Sekarang tinggal masing-masing investor melakukan perhitungan sendiri atas komposisi portofolionya," imbuhnya.
(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads