"Saya rasa pelaku pasar sudah tidak melihat hasil pengumuman pilpres oleh KPU dalam menentukan langkah investasinya. Mereka sudah melakukan antisipasi dengan hasil perhitungan quick count," ujar analis PT BNI Securities, Muhammad Alfatih saat dihubungi detikFinance, Rabu (22/7/2009).
Menurut Alfatih, sejumlah lembaga survey telah mengumumkan hasil pilpres yang cenderung identik dan memenangkan duet SBY-Boediono sebagai pucuk pimpinan pemerintahan yang baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kelihatannya pelaku pasar sudah tidak mempermasalahkan potensi adanya kecurangan dalam pilpres seperti diungkapkan salah satu pasangan capres-cawapres," ujarnya.
Oleh sebab itu, lanjut Alfatih, pergerakan IHSG tidak akan terlalu reaktif dalam menanggapi pengumuman hasil pilpres dari KPU yang rencananya dilakukan antara 23 atau 24 Juli 2009.
Alfatih melihat saat ini pelaku pasar lebih menunggu susunan kabinet baru yang akan dibentuk oleh duet SBY-Boediono serta realisasi berbagai program stimulus dari pemerintahan baru.
"Saat ini yang ditunggu-tunggu pelaku pasar adalah susunan kabinet yang tentunya akan menentukan kebijakan ekonomi makro seperti apa yang akan diterapkan pemerintahan baru seperti realisasi program-program stimulus dan sebagainya. Namun ini tentu masih menunggu pelantikan pemerintahan baru," ujar Alfatih.
Pelantikan pemerintahan baru rencananya akan dilakukan sekitar Oktober 2009. Menurut Alfatih, selama periode Juli hingga akhir September 2009, kemungkinan level IHSG akan cenderung stabil pada kisaran 2.000 - 2.100.
"Sentimen positif yang bisa mendorong IHSG naik lebih tinggi kemungkinan baru akan terjadi sekitar September-Oktober," ujarnya.
Kendati demikian, Alfatih membuka kemungkinan kalau sentimen positif IHSG menyambut kabinet baru dan realisasi program stimulus bisa saja terjadi sekitar Agustus 2009.
"Jika pelaku pasar sudah membaca susunan kabinet yang mungkin terbentuk, mereka bisa saja melakukan antisipasi dengan melakukan serangkaian aksi pembelian sebelum pelantikan SBY-Boediono dan pembentukan kabinet baru," ujarnya.
Nah, bicara soal kapan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar saham, Alfatih memberikan sedikit tips-tips investasi. Ia mengatakan, bagi pelaku pasar yang sudah melihat kemungkinan susunan kabinet yang akan dibentuk, bisa mulai melakukan langkah pembelian.
"Namun tentunya harus dilakukan dengan perhitungan yang matang. Bisa dilakukan dengan melakukan pembelian dengan sebagian modal. Sisanya bisa digunakan untuk masuk setelah pembentukan kabinet baru," ujarnya.
Mengenai saham-saham yang memiliki prospek dalam kondisi perekonomian dunia yang belum dapat dipastikan apakah sudah memasuki fase pemulihan atau masih memiliki potensi guncangan, menurut Alfatih langkah terbaik untuk melakukan investasi adalah dengan melihat pada sisi fundamental emiten-emiten yang tidak terlalu responsif pada perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.
"Untuk saat ini, langkah terbaik adalah memilih emiten yang memiliki fundamental jangka panjang yang baik dan tahan terhadap guncangan yang mungkin terjadi," ujarnya.
Sektor-sektor saham yang menurut Alfatih memiliki prospek jangka panjang yang didukung oleh fundamental yang bagus saat ini antara lain saham-saham dari sektor perkebunan seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) dan PT London Sumatera Tbk (LSIP).
"Kemudian saham-saham dari sektor komoditas energi. Saham-saham komoditas energi memiliki kinerja fundamental yang cenderung tahan terhadap guncangan karena harga-harga komoditas energi di pasar spot sudah mulai stabil. Untuk saham-saham komoditas logam, harus dilakukan dengan sangat hati-hati, karena pergerakan harga komoditas logam masih belum stabil meski sudah mulai membaik," papar Alfatih.
Saham-saham dari sektor infrastruktur juga diperkirakan bakal menjadi incaran investor pasca pembentukan kabinet nanti, terutama jika realisasi stimulus infrastruktur yang dikampanyekan pemerintah dapat direalisasikan sesuai jadwal.
"Saham-saham infrastruktur juga cukup menarik jika program stimulus infrastruktur pemerintah direalisasikan sesuai jadwal. Untuk saham-saham sektor consumer goods saat ini relatif defensif," ujarnya.
Nah, untuk saham-saham sektor lainnya, lanjut Alfatih, bukannya tidak prospektif investasi. Namun menurutnya, saham-saham di sektor lain harus lebih dicermati secara per saham, tidak bisa dilihat secara umum.
Lalu bagaimana dengan investor-investor yang saat ini masih memegang 'barang' alias masih memiliki sejumlah saham dalam portofolionya?
"Bagi mereka yang masih memegang barang, lebih baik menahan dulu ketimbang melakukan penjualan. Karena pasca pembentukan kabinet masih ada ruang naik buat IHSG ke kisaran 2.200-2.300. Namun bagi pemain jangka pendek dan menengah, bisa melakukan serangkaian penjualan kemudian pembelian secara berkala untuk
memperoleh gain sampai pembentukan kabinet nanti," ujarnya.
(dro/qom)











































