Kondisi tersebut menempatkan emiten-emiten semen berada dalam masa terbaiknya meski pasar global tidak mendukung. Harga-harga emiten semen memang terus menanjak sejak Februari 2009, meski sempat mengalami koreksi di awal Juli.
Saham emiten Semen pada Juli-Agustus sempat mencapai titik tertingginya. yakni:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Semen Gresik (SMGR) mencapai titik tertingginya di Rp 6.050 pada 4 Agustus 2009. Saham SMGR pada sesi I perdagangan Jumat ini bergerak naik Rp 150 menjadi Rp 5.900.
- Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) mencapai titik tertingginya Rp 9.700 pada 3 Agustus 2009. Saham INTP pada sesi I perdagangan Jumat ini bergerak menguat Rp 100 menjadi Rp 9.200.
- Saham Holcim Indonesia (SMCB) , mencapai titik tertingginya di Rp 1.450 pada 31 Juli 2009. Saham SMCB pada sesi I perdagangan Jumat stagnan di Rp 1.340.
"Kami percaya perusahaan semen ada di tahun keemasan dari 12 tahun siklus investasi, dengan profit growth dan margin yang naik terus menerus," ujar Bernard Thien, President Director PT CIMB-GK Securities Indonesia dalam analisis hariannya, Jumat (14/8/2009).
Permintaan semen selama Juni 2009 cukup mengejutkan dengan kenaikan sekitar 3,4% untuk month to month dan naik 2,8% secara year on year atau untuk pertama kalinya ada pertumbuhan pada tahun ini. Ini adalah penjualan bulanan tertinggi kedua yang pernah terjadi.
"Angka konsumsi semen sejauh ini telah mencapai 60% dari target konsumsi semen domestik tahun ini, dan akan ditambah dengan belanja negara infrastruktur dan naiknya permintaan properti," tambah Bernard.
"Channel check kami dengan developer mengkonfirmasi recovery marketing sales pada landed residential, konsisten dengan turunnya bunga KPR, dan masih ada ruang kembali turunnya KPR karena lagging terhadap BI rate," tambahnya.
Semua indikator saat ini menunjuk pulihnya permintaan domestik pada tahun 2010 akan lebih tinggi dari ekspektasi yang hanya hanya 6% yoy (sekitar 1x GDP).
"Dengan asumsi domestik demand growth +10% yoy (2x GDP growth), kami menaikan sales volume untuk ketiga perusahaan semen sebesar 3-7% pada FY10-11. Hal ini sama seperti kondisi FY08, dimana penjualan semen bertumbuh 1.9x GDP," papar Bernard.
Ia menjelaskan, asosiasi real estate menuduh perusahaan semen melakukan kartel pada harga semen lokal, sehingga mereka ingin mengimpor semen dari Thailand dan Malaysia.
"Kami menilai import tidak feasible atau economical bagi property developer. Namun disisi lain, produsen semen tidak akan menaikan harga semen dengan berlebihan, sehingga margin hanya akan dipertahankan untuk FY09-11," katanya.
Sebagai catatan, INTP saat ini menguasai 30,1% pangsa pasar, SMCB sebesar 7,9%, Semen Gresik 41,6% untuk posisi hingga akhir 2008.
Berikut rekomendasi CIMB-GK Securities untuk emiten semen:
Indocement Tunggal Prakasa (INTP) sebagai top pick di sektor semen nasional dengan rating OUTPERFORM dan target harga Rp 10.500 (dari Rp 9.300) setelah menaikan EPS FY09-11 7-13% dengan WACC 13%, LTG 5.5%. Earning growth yang kuat menguntungkan INTP sebagai produsen yang memiliki kapasitas yang besar dan sangat diuntungkan oleh penguatan Rupiah.
Holcim Indonesia (SMCB) di-upgrade dari underperform menjadi OUTPERFORM dengan target harga Rp1500 (dari Rp1210) setelah menaikan EPS FY09-11 11-30% dengan WACC 13%, LTG 5.5%.
Semen Gresik (SMGR) di-upgrade dari neutral menjadi OUTPERFORM dengan target harga Rp6700 (dari Rp6000) setelah menaikan EPS FY09-11 2-8% dengan WACC 13%, LTG 5.5%. SMGR memiliki NAV yang tinggi namun kurangnya kapasitas membuat upgrade tidak maksimal.
(qom/qom)











































