Investasi menjadi penting dalam mendukung kehidupan Anda kelak. Bagaimana menyediakan rumah sebagai tempat berteduh dan mempersiapkan biaya pendidikan buah hati hingga mereka mandiri.
Lisa Soemarto, Senior Financial Advisor, AFC Financial Check Up menuturkan, bagi keluarga muda penting untuk mendahulukan investasi ketimbang menjaga perilaku konsumtif. Jika Anda belum memiliki aset, adalah saat yang tepat untuk mengakumulasi kekayaan sejak dini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pinjaman dalam kepemilikan rumah, melalui KPR sangat disarankan Lisa. Karena pasangan muda tergolong produktif dan potensi risikonya relatif kecil.
"KPR disarankan, karena ini bukan utang konsumtif. Hindari utang yang bersifat konsumtif," sanggah Lisa. Namun jangan lupa, besaran cicilan rumah tidak disarankan melebihi 30% dari penghasilan bulanan.
Jika aset rumah sudah dimiliki, dengan atau tanpa KPR, Anda jangan lantas berhenti berinvestasi. Sisakan Ppenghasilan Anda, usai terpangkas cicilan rumah dan kebutuhan bulanan, untuk berinvestasi.
Produk reksa dana adalah anjuran AFC Financial Check Up, tentu masih ditambah akumulasi logam mulia dengan porsi yang ideal. Kenapa reksa dana? Produk ini menjadi investasi jangka panjang dengan imbal hasil atau iterbaik.
Hasil investasi reksa dana berserta return-nya, Anda bisa gunakan kelak saat anak membutuhkan biaya pendidikan, khususnya menjelang perguruan tinggi.
"Pasangan muda, investasi harus banyak. Apalagi mempersiapkan dana pendidikan anak, sedini mungkin lebih baik. Karena inflasi pendidikan di Indonesia sangat tinggi, diatas 10%, bahkan ada yang mencapai 20%," ujar Lisa.
"Pastikan pasangan muda memiliki cash flow yang positif. Di samping hal lain, mempersiapkan dana darurat yang jumlahnya enam kali gaji untuk satu keluarga. Dana ini ditaruh di akun yang gampang digunakan," tegasnya.
Banyak ragam reksa dana. Anda bisa memilih sesuai keinginan, profil risiko atau tujuan invetasi. Namun jika kebutuhan dana adalah 10-15 tahun mendatang, disarankan memilih reksa dana saham. Jenis ini menjanjikan imbal hasil paling tinggi, dibanding reksa dana campuran, terproteksi apalagi pasar uang. Namun reksa dana saham memiliki risiko tinggi.
"Karena konsep perencanaan itu adalah cicilan setiap bulan. Paling enak ya reksa dana. Ada juga investasi lain, logam mulia. Dan memang ada titik return (logam mulia) tidak melebihi 15%-20%. Sedangkan kita butuhnya lebih dari itu. Maka jangan banyak-banyak logam mulia," jelas Lisa.
"Kalau mau diversifikasi, bisa buka di beberapa produk reksa dana, dan jenisnya. Contoh reksa dana saham atau campuran," imbuhnya.
Jadi, mantapkan niat Anda dalam berinvestasi!
(wep/ang)











































