Jangan Takut Berinvestasi Saat Pasar Terguncang, Simak Dulu Tips Ini

Jangan Takut Berinvestasi Saat Pasar Terguncang, Simak Dulu Tips Ini

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Kamis, 29 Agu 2013 07:52 WIB
Jangan Takut Berinvestasi Saat Pasar Terguncang, Simak Dulu Tips Ini
Jakarta - Perekonomian global, regional dan dalam negeri sedang menghadapi berbagai ketidakpastian, terutama setelah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Pergerakan pasar finansial masih belum kondusif, terutama gara-gara rencana The Federal Reserve mengurangi besara program stimulusnya dan ketegangan di negara-negara Timur Tengah yang memicu tingginya harga minyak dunia.

Pada saat seperti ini, cara investasi cara lama dinilai sudah tidak berlaku lagi. Lalu bagaimana caranya mengamankan aset atau bahkan berinvestasi di masa-masa penuh ketidakpastian seperti sekarang ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yuk, kita lihat tips dari Forbes ini seperti dikutip detikFinance, Kamis (29/8/2013).

1. Beli dan Tahan Portofolio Sesuai Risiko

Sekarang ini jika Anda membeli saham atau obligasi dan berencana menahannya kalau bisa selama mungkin bisa menjadi sangat berbahaya. Strategi beli dan tahan hanya berjalan baik jika pasar terus bergerak ke atas dalam jangka waktu yang cukup lama. Cara ini sudah tidak efektif sejak sepuluh tahun terakhir.

"Anda harus menjadi penjelajah hutan ketimbang jadi pejalan kaki di trotoar," kata Ekonom Gary Shilling. Terus monitor portofolio anda dan bersiaplah menjual saham yang sudah masuk tren melemah, lalu pindah ke saham yang siap menguat.

2. Price/Earning yang Rendah Tak Lagi Bisa Diandalkan

Banyak broker dan analis memburu saham-saham dengan price/earning yang masih di bawah rata-rata dan nilai buku. Cara yang terlalu mengikuti 'panduan buku' ini terbukti malah menjadi jebakan saat krisis finansial, saat kekeringan likuiditas menghancurkan nilai aset dan laba. Bahkan, sampai sekarang saham-saham murah yang dulu tahun 2008 hancur beberapa belum bisa bangkit kembali.

3. Ambil Keuntungan dari Volatilitas

Volatilitas pasar tidak akan benar-benar hilang. Volatilitas pasar-pasar saham di dunia sudah meningkat hampir dua kali lipat sejak pertengahan tahun 2000. Manfaatkan volatilitas ini untuk meraup untung. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah cari kesempatan beli ketika indeks berada di bawah.

4. Awasi Gerak-gerik Politisi

Era baru di masa penuh ketidakpastian sudah hadir. Berita-berita dan kejadian politik kini lebih mempengaruhi pergerakan indeks ketimbang faktor-faktor fundamental, seperti perolehan laba emiten. Faktor fundamental masih memegang peranan penting, tapi perhatikan juga pergerakan para politisi, apalagi menjelang Pemilu 2014.

5. Tak Perlu Menunggu Lama Untuk Meraup Laba Hasil Investasi

Beberapa tahun lalu, hanya saham-saham yang sudah 'matang' yang bisa menghasilkan dividen tinggi, atau obligasi yang sudah 'pensiun'. Saat ini, dengan selisih bunga yang tipis antara keuntungan dan tingkat inflasi, ada beberapa instrumen yang bisa memberikan hasil 5% lebih banyak. Penelitian membuktikan, secara jangka panjang para pemberi dividen berkinerja jauh lebih baik ketimbang saham non-dividen, dan lebih stabil juga.

6. Berinvestasi dengan Target, Jangan Melawan Indeks

Anda mungkin sering mendengar saham-saham yang berkinerja jauh lebih tinggi ketimbang indeks bursa tersebut. Ini biasanya digunakan menarik anda kepada saham-saham berjenis serupa dengan jaminan akan imbal hasil yang tinggi.

Namun, ada baiknya berkonsentrasi ke target yang spesifik ketimbang harus melampaui kinerja indeks saham gabungan. Target ini mirip dengan tujuan hidup, seperti memilih tempat kuliah atau kapan Anda akan pensiun.

7. Tetapkan Batas Jual Sebelum Beli

Banyak nasihat mengenai investasi yang intinya membantu anda memberi gambaran mengenai apa dan kapan harus beli. Tetapi ada yang lebih penting di tengah situasi yang serba fluktuatif ini, yaitu tahu kapan harus jual.

Editor American Association Individual Investors Journal Charles Rotblut menganjurkan Anda punya batas jual, bahkan sebelum lakukan aksi beli. Batas ini menghindari risiko saat terjadi panik jual ataupun merugi terlalu dalam.

8. Mengekor Investor yang Lebih Lihai

Tidak ada salahnya jika anda meniru cara-cara berinvestasi investor maupun 'orang dalam' di sebuah perusahaan yang sekiranya terpercaya. Investor profesional banyak melakukan hal ini.

Anda bisa mengecek siapa saja pemilik di saham-saham unggulan. Pergerakan mereka bisa diperhatikan untuk diikuti ke saham-saham mana saja mereka masuk dan mereka lepas.

9. Selalu Pegang Uang Tunai Dengan Jumlah yang Cukup

Salah satu pelajaran berharga dari krisis tahun 2008-2009 lalu adalah sulitnya mencairkan dana Anda sendiri saat pasar sedang jatuh. Jika anda ingin tidur nyenyak tiap malam, lupakan sejenak keuntungan margin dan siapkan uang tunai dalam genggaman Anda. Dari yang biasa hanya 10% dari kekayaan anda, tidak ada salahnya jika dinaikkan hingga 40%.

10. Jangan Buru-buru Jual, Masuklah Saat Pasar Turun

Daripada anda mencairkan dana, sebaiknya anda masuk saat pasar saham jatuh, saat orang lain melakukan aksi jual yang tidak masuk akal, tapi dengan hasil riset yang matang.

Investor asal California Bob Matteucci memborong saham Nordstrom tepat saat krisis finansial yang waktu itu harganya hanya US$ 8.

"Ini seperti berlian yang siap dipungut," kata Matteucci. "Hidup ini bukan menunggu badai berlalu, tetapi bagaimana caranya belajar berdansa di tengah hujan," katanya.
Halaman 2 dari 11
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads